Suriah, Bangkitkan Salafi Jihadi

Senin, 22 Juli 2013

Suriah kini menjelma bagai gadis molek “kembang kawasan” Timur Tengah. Semua aktifis jihad berebut meminangnya. Suriah menjadi tanah paling ideal baik secara geopolitik maupun geo-ideologis sebagai habitat jihad pasca revolusi Arab. Bahkan daya tarik ini dirasakan hingga luar kawasan. Tak ada aktifis jihad yang beraliran salafi di belahan bumi manapun kecuali tertarik untuk datang meminang.

Berawal dari Tunisia, merambah ke Mesir, Libya, Yaman dan tampaknya akan berakhir di Suriah. Tak ada yang menyangka sebelumnya bila ending “musim semi” Arab ini akan sangat bernuansa jihad bersenjata. Suriah menjadi “berkah di balik musibah” dengan makin matangnya bentuk akhir revolusi Arab menjadi Jihad fi Sabilillah. Corak yang sangat berbeda dibanding pemicu awal revolusi yang sekedar protes atas kezhaliman rezim.
Kalaupun kelak revolusi ini masih akan menyebar ke negara kawasan yang masih tenang, dinamika Suriah akan mempengaruhi revolusi tersebut, bukan semata protes atas kezhaliman penguasa, tapi sudah lebih puritan dengan aroma perang akhir zaman yang kuat. Perang sipil yang bertujuan mengenyahkan thoghut-thoghut Arab kaki tangan Barat atau menumpas ideologi jahat Syiah atau menekuk musuh abadi umat – Israel. Nafasnya sudah berganti menjadi pertarungan antara al-haqq yang ingin menumbangkan al-bathil, bukan lagi protes jalanan yang menuntut keadilan yang absurd dan kemakmuran yang semu khas tuntutan rakyat yang alam pikirannya serba materi dan nasionalistik.

Suriah, Revolusi Rakyat dengan Spirit Jihad

Konflik Suriah yang sangat brutal – paling brutal diantara yang lain – dengan korban yang mengerikan, waktu yang relatif panjang dan dukungan diam-diam terhadap rezim Bashar Asad dari negera kawasan baik Syiah, Israel maupun kaki tangan Barat yang khawatir bakal menguatnya sentiment jihad, membuat revolusi Suriah punya karakter yang khas. Jihad Suriah berhasil memantik sentimen solidaritas umat Islam dari seluruh kalangan karena melihat saudara mereka berjuang sendirian, satu-satunya sandaran hanya Allah kemudian umat Islam.
Faktor lain yang membuat konflik Suriah terasa khas, adalah banyaknya hadits-hadits nubuwat akhir zaman yang menyebutkan sisi stretagis Suriah, yang dalam istilah zaman Nabi saw disebut negeri Syam. Syam yang meliputi Suriah, Lebanon, Yordania dan Palestina, dinubuwatkan sebagai “negeri titik kumpul dan titik sebar” dan “markas kekuatan umat Islam akhir zaman”. Mujahidin seluruh dunia akan tersedot ke tanah Syam, lalu dari sana bertolak untuk melaksanakan misi penaklukan ke wilayah sekelilingnya.
Kenyataan lapangan dan dukungan spirit ideologi dari nubuwat, menjadikan Suriah memenuhi syarat untuk disebut sebagai basis jihad yang ideal. Jumlah kaum Sunni yang mayoritas juga dipandang sebagai modal kekuatan mujahidin yang hebat jika mampu dipoles dengan sentuhan dakwah salafiyah yang intensif dalam rangka mengikis sisa-sisa pemikiran nasionalisme dan liberalisme. Jihad yang berkecamuk selalu menjadi latar yang ideal untuk mengikis pola pikir nasionalisme dan pemikiran sesat lain. Semakin lama jihad hidup di Suriah, akan makin banyak alumninya yang steril dari syubuhat pemikiran, insyaallah.

Revolusi Arab, Titik Balik dari Salafi menjadi Jihadi

The Regional Center for Strategic Studies (RCSS), lembaga kajian strategis yang bermarkas di Cairo membuat analisa yang menarik tentang kebangkitan salafi jihadi pasca krisis Arab. Salafi dalam pandangan RCSS adalah semua aktifis ahlussunnah. Salafi secara umum dibagi dua, salafi ilmu dan salafi jihadi. Salafi ilmu adalah salafi yang anti kekerasan dalam manhajnya. Sementara salafi jihadi adalah salafi yang kuat mengusung tema jihad bersenjata dan perlawanan, baik kepada penguasa lokal maupun kekuatan global. Lihat http://rcssmideast.org/التحليلات/الأمن-الأقليمى/المظلة-الجهادية.html
Sebelum Arab spring, yang mendominasi Timur Tengah adalah salafi jinak, salafi sebagai spirit dakwah dan pengamalan sunnah. Bahkan terdapat trend eksodus kaum jihadis menjadi salafi jinak, misalnya kasus Jamaah Islamiyah dan Jamaah Jihad di Mesir,  Jamaah Islamiyah al-Muqotilah di Libya dan FIS di Aljazair yang sebelumnya konsisten di jalur salafi jihadi yang kental nuansa konfrontasi, berpindah menjadi salafi damai. Tapi setelah pecah revolusi Arab, peta berbalik secara dramatis. Seluruh negara Timur Tengah bergemuruh berbondong-bondong pindah payung, tadinya payung salafi kalem, menjadi salafi jihadi.
Bahkan dalam analisa RCSS, kaum jihadi untuk bisa terjinakkan, memerlukan waktu yang sangat lama dan membutuhkan perdebatan ilmiah panjang. Sementara perpindahan dari salafi menjadi jihadi, punya kecepatan tak tertandingi. Peta salafi Timur Tengah dan Afrika Utara hari ini sudah didominasi oleh salafi jihadi, sebagai dampak langsung dari revolusi Arab. Jamaah Islamiyah Mesir yang sebelumnya sudah jinak, dengan revolusi Mesir, mereka kembali mengeluarkan jargon-jargon yang lebih dekat untuk dikategorikan jihadi. Semenanjung Sinai kini sudah menjelma menjadi markas kaum jihadis dengan memanfaatkan gurunnya yang luas.
Dan Suriah sebagai ending revolusi Arab menjadi kolam penampungan ideal bagi kaum salafi jihadi, atau setidaknya titik orientasi perjalanan. Bahkan para aktifis dari masing-masing negara sudah mencanangkan jargon: min huna nabda’ wa fie syam naltaqiy  (dari sini kita berawal – merujuk tempat lokal masing-masing – dan di Syam kita akan bertemu). Tampaknya kawasan Suriah akan menjadi kampus jihad masa depan, setelah era 80-an hal itu terjadi di Afghanistan. Bukan hanya kampus, bahkan basis mujahidin yang siap menyebar ke kawasan dengan nafas jihad fi sabilillah yang murni.Semoga bertemu kembali sobat, di Syam ! ilalliqa’ fi Syam ! Wallahu a’lam.

sumber : lasdipo

Alumni Jihad Afghanistan : Bicara Suriah Berarti Kita Bicara Aqidah

Rabu, 17 Juli 2013

Ketika kita sedang bicara Suriah, maka kita bukan bicara politik dan kemanusiaan.
“Tapi kita sedang bicara Aqidah” Jelas alumnus akademi militer mujahidin Afghanistan Ustad Abu Rusydan.
Bertempat di Masjid Mujahidin Surabaya, Minggu (19/05/2013). Abu Ruysdan dengan gamblang memaparkan ancaman serius gerakan Syiah baik dari tragedi yang terjadi di Suriah saat ini.
“Syiah Nushairiyah tidak berubah dari asalnya. Prinsip yang menjadi permasalahan dasar mereka adalah gerakan Bathiniyah, Syiah Ghulat, dan dibentuk oleh orang-orang yang memusuhi Islam.” Jelasnya dalam kegiatan beda buku “Rezim Syiah Nushairiyah” dari AlJazeera Publishing tersebut.
Mengutip pendapat syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Abu Rusydan menilai kelompok Syiah dari pemerintah Bashar Al Assad bukan hanya sesat. dan berada diluar Islam
“Mereka juga berbahaya dibanding musuh-musuh yang sudah disadari kaum muslimin.” Tambahnya.
Dari sittu, Abu Ruysdan berharap umat Islam di Indonesia mau belajar dari tragedi Suriah. Apapun bentuk alirannya, jika ia berlatar belakang Syiah maka ia akan selalu menyimpan misi untuk merusak Islam.
“Umat Islam itu satu tubuh, jika satu bagian merasa sakit maka seluruh bagian ikut merasa sakit” Jelasnya berapi-api.

Tarbiyah Jihadiyah : Merajut Kemuliaan Umat

Sebagaimana yang terjadi di Syam hari ini pasca perjanjian Sykes Picot tahun 1916 antara aliansi kuffar Inggris dan Perancis serta Rusia dimana mereka memecah belah kaum muslimin menjadi empat wilayah yang ditegakkan diatas dasar kebangsaan (nasionalisme) menjadi negara Libanon, Yordania, Suriah dan Palestina. Maka kaum muslimin dimana saja mengalami berbagai musibah dan kehinaan yang secara langsung ditimpakan orang-orang kafir maupun secara tidak langsung berupa bencana-bencana yang Alloh Azza wa Jalla gerakkan melalui alam ciptaanNya.

Sudah seharusnya kita semua sadar bahwa bencana–bencana yang menimpa kita adalah dikarena kesalahan dan ulah tangan kita sendiri. Alloh Azza wa Jalla tidak menimpakan berbagai musibah itu melainkan agar kita kembali kepada ajaranNya yang agung secara menyeluruh. Bencana–bencana itu terjadi karena kita –kaum muslimin sendiri– melakukan berbagai pelanggaran terhadap hal–hal yang pokok dalam Diinul Islam (ushuluddin) yakni :

  1. Menerima kesesatan paham nasionalisme sebagai asas dan sistim ber-Negara padahal bertentangan dengan Diinul Islam .
Sejarah memperlihatkan bahwa ada kesalahan langkah dalam menyusun pembentukan Negara yang dihuni mayoritas kaum muslimin. Yakni memakai manhaj mudahanah (sikap lemah lembut) dengan kaum kafir  yang mengharuskan kita untuk melepas asas Syari’at dan menerima asas nasionalisme, sehingga  rusaklah prinsip–prinsip diinul Islam yang mestinya harus  kita tegakkan.  Penyimpangan tersebut mengakibatkan turunnya bermacam-macam azab dari Alloh Azza wa Jallla hingga hari ini .

Hal ini jelas diterangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya :
 “ Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu Jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu Hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. “  (QS Al Israa’: 73-75)

Padahal paham nasionalisme sama sekali tidak terkait dengan Islam bahkan satu sama lain jelas saling bertentangan. Golongan yang pertamakali mengamalkan nasionalisme adalah orang– orang Yahudi yang dimurkai Alloh. Yakni nampak ketika kalangan Bani Israel itu menolak kerasulan nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam hanya lantaran beliau bukan dari kalangan mereka yang keturunan nabi Ya’kub ‘alaihis sallam sedangkan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah bangsa Arab ketururunan nabi Ismail ‘alaihis sallam. Orang–orang Yahudi sebenarnya tahu kebenaran akan kerasulan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam namun semangat ‘nasionalisme’ itu menyuruh mereka berdusta dan menolak kebenaran.

Jika ada yang mengawinkan Islam dengan Nasionalisme, maka jelas mereka melanggar prinsip– prinsip pokok Diinul Islam. Islam memandang siapapun dan apapun kebangsaan serta kewarganegaraannya selama mereka muslim, mereka adalah saudara kita sedangkan ajaran nasionalisme mengajarkan bahwa persaudaraan hanya dibatasi tanah kelahiran, lokasi tinggal dan asal keturunan. Maka sesungguhnya bencana peperangan yang buruk dan keji yang terjadi antar ummat manusia tanpa alasan yang haq adalah bermula dari paham nasionalisme yang amat sempit dan picik ini .

Menerima demokrasi sebagai alat perjuangan menegakkan Islam dimana hal ini sejatinya bertentangan dengan petunjuk Alloh dan RasulNya.
Kesalahan fatal yang telah kami terangkan diatas  bukan segera dikoreksi malah kaum muslimin justru terjebak dengan kesalahan berikutnya. Mereka mengadopsi ‘anak haram’ kaum kuffar Barat berupa demokrasi sebagai alat untuk memperjuangkan Islam, akhirnya langkah perjuangan mereka makin menjauh dari ketentuan–ketentuan Syari’at, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ….

Padahal  Alloh dalam telah menjelaskan dalam firmanNya :

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain )  karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.(QS Al An’aam : 153)

Akibat menerima paham syirik ini, kaum muslimin berpecah belah bukan hanya pada label golongan dan bendera partai tapi mereka juga tidak lagi peduli dengan prinsip–prinsip Diinul Islam. Dalam merebut suara rakyat berbagai prinsip dikorbankan dan banyak cara dilakukan walaupun menyelisihi nilai dan kaedah kebenaran. Prinsip mudalisin (penjilatan) dan mudahanah (pelembutan sikap) diamalkan padahal mencederai aqidah tauhid. Bahkan akhirnya muncul sikap ruknun (cenderung pada kezaliman) dan tawalli (mendukung kekafiran ) yang jelas–jelas mengeluarkan pelakunya dari Islam pun mereka lakukan . Itulah sebagai akibat dan tuntutan ajaran demokrasi .

Ummat Islam tidak mengamalkan secara kaaffah sehingga ditimpakan siksa oleh Alloh berupa kehinaan di dunia .
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Qs Al Baqoroh : 85)

Walaupun khithob ayat ini awalnya adalah kaum Yahudi namun ibrahnya menjadi umum dan dapat menimpa siapa saja yang berperilaku sama dengan Yahudi termasuk kaum muslimin . Setelah kaum muslimin mengikuti langkah buruk Yahudi dengan memilih nasionalisme sesat sebagai dasar pembentukan Negara dan mengadopsi demokrasi yang syirk sebagai jalan perjuangan, maka kesesatan berikutnya adalah sikap memilah dan memilih ajaran Islam yang selaras dengan hawa nafsunya. Naudzubillah min dzalik !

Di pentas masyarakat, kita disodorkan berbagai paradoks (kondisi saling berbenturan) yang membingungkan dan melahirkan kepribadian ummat yang terbelah  (split personality) hingga pada akhirnya justru membentuk karakter hipokrit (munafik) yang amat berbahaya bagi kaum muslimin itu sendiri. Sebab kaum munafik semacam inilah yang berperan utama sebagai agen–agen perusak Islam dan pelemah kaum muslimin dari dalam yang sangat tidak mudah bagi kita dalam menghadapinya.

Apalagi kalau kaum munafik inilah yang memegang kendali masyarakat dengan kekuasaan sistim dan senjata maka akan hancurlah masyarakat karena mereka akan mengumbar kemunkaran dengan memberi izin dan perlindungan terhadap tempat dan aktivitas serta pelaku kemunkaran. Sebaliknya, mereka akan menekan, mengintimidasi bahkan menangkap dan menyiksa pelaku amar ma’ruf nahi munkar dengan tuduhan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Oleh sebab itu , jika kita menyerukan apalagi melakukan Jihad maka segera tuduhan teroris akan segera mereka tempelkan. Pesantren sebagai tempat menyemai aqidah, syari’at dan akhlaq dituduh sarang teroris karena memang dari sinilah lahir para da’i dan mujahid yang gemar beramar ma’ruf nahi munkar serta suka berjihad dijalan Alloh.

Sebagai orang yang beriman, kita tidak mau terus menerus tenggelam dalam kekeliruan yang membahayakan nasib kita di dunia dan akherat. Satu–satunya jalan selamat bagi kita adalah mewujudkan agenda Tarbiyah Jihadiyah secara totalitas dan bersungguh–sungguh dimana sasaran pokok Tarbiyah Jihadiyah adalah meluruskan kehidupan kita sekarang dengan mewujudkan langkah–langkah sebagai berikut:

  1. Tashfiyatul Aqidah , yakni memurnikan keyakinan kita dari segala hal yang merusak iman seperti syirk, nifaq, fasiq serta ideology–ideology kufur lainnya, baik secara individu, masyarakat maupun Negara .
  2. Tajdiidul ‘Amal , yakni memperbaharui amaliyah ‘ubudiyah dan mu’amalah kita dari hal-hal yang menyelisihi Sunnah seperti bid’ah, riba, sistim pemerintahan jahiliyah dan sebagainya .
  3. Tahriirul Ummah, yakni melibatkan diri dan ummat dalam perjuangan pembebasan kaum muslimin dari kehinaan yang meliputi kehidupan mereka saat ini kepada kemuliaan Islam dan kaum muslimin dengan jalan yang disunnahkan yaitu dakwah dan jihad. Dan dengan sasaran yang jelas menuju terbentuknya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur baik dalam skala lokal maupun global.

Dan kita juga paham, bahwa hal itu semua harus kita lakukan dalam bingkai aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah hingga Alloh Azza wa Jalla berkenan mendatangkan kecintaanNya dalam bentuk pertolonganNya yang amat kuat dan tidak terkalahkan. Menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah apalagi bermudahanah dengan firqoh-firqoh dholalah yang bersumber dari empat golongan besar yakni Khawarij, Syiah, Mu’tazilah dan Murjiah walaupun terkesan kuat karena seolah-olah wujud persatuan ummat namun sesungguhnya akan justru menggiring kaum muslimin pada kesesatan baru yang lebih fatal dan justru tidak akan menyelamatkan ummat, baik dunia maupun akherat.

(bumisyam.com)
Sebagaimana yang terjadi di Syam hari ini pasca perjanjian Sykes Picot tahun 1916 antara aliansi kuffar Inggris dan Perancis serta Rusia dimana mereka memecah belah kaum muslimin menjadi empat wilayah yang ditegakkan diatas dasar kebangsaan (nasionalisme) menjadi negara Libanon, Yordania, Suriah dan Palestina. Maka kaum muslimin dimana saja mengalami berbagai musibah dan kehinaan yang secara langsung ditimpakan orang-orang kafir maupun secara tidak langsung berupa bencana-bencana yang Alloh Azza wa Jalla gerakkan melalui alam ciptaanNya.

Sudah seharusnya kita semua sadar bahwa bencana–bencana yang menimpa kita adalah dikarena kesalahan dan ulah tangan kita sendiri. Alloh Azza wa Jalla tidak menimpakan berbagai musibah itu melainkan agar kita kembali kepada ajaranNya yang agung secara menyeluruh. Bencana–bencana itu terjadi karena kita –kaum muslimin sendiri– melakukan berbagai pelanggaran terhadap hal–hal yang pokok dalam Diinul Islam (ushuluddin) yakni :

  1. Menerima kesesatan paham nasionalisme sebagai asas dan sistim ber-Negara padahal bertentangan dengan Diinul Islam .
Sejarah memperlihatkan bahwa ada kesalahan langkah dalam menyusun pembentukan Negara yang dihuni mayoritas kaum muslimin. Yakni memakai manhaj mudahanah (sikap lemah lembut) dengan kaum kafir  yang mengharuskan kita untuk melepas asas Syari’at dan menerima asas nasionalisme, sehingga  rusaklah prinsip–prinsip diinul Islam yang mestinya harus  kita tegakkan.  Penyimpangan tersebut mengakibatkan turunnya bermacam-macam azab dari Alloh Azza wa Jallla hingga hari ini .
Hal ini jelas diterangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya :
 “ Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu Jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu Hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. “  (QS Al Israa’: 73-75)
Padahal paham nasionalisme sama sekali tidak terkait dengan Islam bahkan satu sama lain jelas saling bertentangan. Golongan yang pertamakali mengamalkan nasionalisme adalah orang– orang Yahudi yang dimurkai Alloh. Yakni nampak ketika kalangan Bani Israel itu menolak kerasulan nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam hanya lantaran beliau bukan dari kalangan mereka yang keturunan nabi Ya’kub ‘alaihis sallam sedangkan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah bangsa Arab ketururunan nabi Ismail ‘alaihis sallam. Orang–orang Yahudi sebenarnya tahu kebenaran akan kerasulan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam namun semangat ‘nasionalisme’ itu menyuruh mereka berdusta dan menolak kebenaran.
Jika ada yang mengawinkan Islam dengan Nasionalisme, maka jelas mereka melanggar prinsip– prinsip pokok Diinul Islam. Islam memandang siapapun dan apapun kebangsaan serta kewarganegaraannya selama mereka muslim, mereka adalah saudara kita sedangkan ajaran nasionalisme mengajarkan bahwa persaudaraan hanya dibatasi tanah kelahiran, lokasi tinggal dan asal keturunan. Maka sesungguhnya bencana peperangan yang buruk dan keji yang terjadi antar ummat manusia tanpa alasan yang haq adalah bermula dari paham nasionalisme yang amat sempit dan picik ini .
Menerima demokrasi sebagai alat perjuangan menegakkan Islam dimana hal ini sejatinya bertentangan dengan petunjuk Alloh dan RasulNya.
Kesalahan fatal yang telah kami terangkan diatas  bukan segera dikoreksi malah kaum muslimin justru terjebak dengan kesalahan berikutnya. Mereka mengadopsi ‘anak haram’ kaum kuffar Barat berupa demokrasi sebagai alat untuk memperjuangkan Islam, akhirnya langkah perjuangan mereka makin menjauh dari ketentuan–ketentuan Syari’at, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ….
Padahal  Alloh dalam telah menjelaskan dalam firmanNya :
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain )  karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.(QS Al An’aam : 153)
Akibat menerima paham syirik ini, kaum muslimin berpecah belah bukan hanya pada label golongan dan bendera partai tapi mereka juga tidak lagi peduli dengan prinsip–prinsip Diinul Islam. Dalam merebut suara rakyat berbagai prinsip dikorbankan dan banyak cara dilakukan walaupun menyelisihi nilai dan kaedah kebenaran. Prinsip mudalisin (penjilatan) dan mudahanah (pelembutan sikap) diamalkan padahal mencederai aqidah tauhid. Bahkan akhirnya muncul sikap ruknun (cenderung pada kezaliman) dan tawalli (mendukung kekafiran ) yang jelas–jelas mengeluarkan pelakunya dari Islam pun mereka lakukan . Itulah sebagai akibat dan tuntutan ajaran demokrasi .
Ummat Islam tidak mengamalkan secara kaaffah sehingga ditimpakan siksa oleh Alloh berupa kehinaan di dunia .
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Qs Al Baqoroh : 85)
Walaupun khithob ayat ini awalnya adalah kaum Yahudi namun ibrahnya menjadi umum dan dapat menimpa siapa saja yang berperilaku sama dengan Yahudi termasuk kaum muslimin . Setelah kaum muslimin mengikuti langkah buruk Yahudi dengan memilih nasionalisme sesat sebagai dasar pembentukan Negara dan mengadopsi demokrasi yang syirk sebagai jalan perjuangan, maka kesesatan berikutnya adalah sikap memilah dan memilih ajaran Islam yang selaras dengan hawa nafsunya. Naudzubillah min dzalik !
Di pentas masyarakat, kita disodorkan berbagai paradoks (kondisi saling berbenturan) yang membingungkan dan melahirkan kepribadian ummat yang terbelah  (split personality) hingga pada akhirnya justru membentuk karakter hipokrit (munafik) yang amat berbahaya bagi kaum muslimin itu sendiri. Sebab kaum munafik semacam inilah yang berperan utama sebagai agen–agen perusak Islam dan pelemah kaum muslimin dari dalam yang sangat tidak mudah bagi kita dalam menghadapinya.
Apalagi kalau kaum munafik inilah yang memegang kendali masyarakat dengan kekuasaan sistim dan senjata maka akan hancurlah masyarakat karena mereka akan mengumbar kemunkaran dengan memberi izin dan perlindungan terhadap tempat dan aktivitas serta pelaku kemunkaran. Sebaliknya, mereka akan menekan, mengintimidasi bahkan menangkap dan menyiksa pelaku amar ma’ruf nahi munkar dengan tuduhan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Oleh sebab itu , jika kita menyerukan apalagi melakukan Jihad maka segera tuduhan teroris akan segera mereka tempelkan. Pesantren sebagai tempat menyemai aqidah, syari’at dan akhlaq dituduh sarang teroris karena memang dari sinilah lahir para da’i dan mujahid yang gemar beramar ma’ruf nahi munkar serta suka berjihad dijalan Alloh.
Sebagai orang yang beriman, kita tidak mau terus menerus tenggelam dalam kekeliruan yang membahayakan nasib kita di dunia dan akherat. Satu–satunya jalan selamat bagi kita adalah mewujudkan agenda Tarbiyah Jihadiyah secara totalitas dan bersungguh–sungguh dimana sasaran pokok Tarbiyah Jihadiyah adalah meluruskan kehidupan kita sekarang dengan mewujudkan langkah–langkah sebagai berikut:
  1. Tashfiyatul Aqidah , yakni memurnikan keyakinan kita dari segala hal yang merusak iman seperti syirk, nifaq, fasiq serta ideology–ideology kufur lainnya, baik secara individu, masyarakat maupun Negara .
  2. Tajdiidul ‘Amal , yakni memperbaharui amaliyah ‘ubudiyah dan mu’amalah kita dari hal-hal yang menyelisihi Sunnah seperti bid’ah, riba, sistim pemerintahan jahiliyah dan sebagainya .
  3. Tahriirul Ummah, yakni melibatkan diri dan ummat dalam perjuangan pembebasan kaum muslimin dari kehinaan yang meliputi kehidupan mereka saat ini kepada kemuliaan Islam dan kaum muslimin dengan jalan yang disunnahkan yaitu dakwah dan jihad. Dan dengan sasaran yang jelas menuju terbentuknya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur baik dalam skala lokal maupun global.
Dan kita juga paham, bahwa hal itu semua harus kita lakukan dalam bingkai aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah hingga Alloh Azza wa Jalla berkenan mendatangkan kecintaanNya dalam bentuk pertolonganNya yang amat kuat dan tidak terkalahkan. Menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah apalagi bermudahanah dengan firqoh-firqoh dholalah yang bersumber dari empat golongan besar yakni Khawarij, Syiah, Mu’tazilah dan Murjiah walaupun terkesan kuat karena seolah-olah wujud persatuan ummat namun sesungguhnya akan justru menggiring kaum muslimin pada kesesatan baru yang lebih fatal dan justru tidak akan menyelamatkan ummat, baik dunia maupun akherat.
- See more at: http://www.bumisyam.com/tarbiyah/tarbiyah-jihadiyah-merajut-kemuliaan-umat.html#sthash.wh3wOVWL.dpuf

UU Penodaan Agama Yes, UU Terorisme & UU Pendanaan Terorisme No !!



Beberapa bulan terakhir, kelompok Syi’ah dan aliran-aliran sesat lainnya yang didukung oleh aktivis dan kelompok liberal mulai gencar mengajukan uji materi Uji Materi (Judicial Review) Peraturan Presiden No. 1/PNPS/1965 yang sudah diundangkan melalui UU No 5/1969 yang membahas tentang penistaan dan penodaan agama ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Diantara LSM liberal yang mengajukan uji materi adalah Inisiatif Masyarakat Partisipatif untuk Transisi Berkeadilan (Imparsial), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Ikatan Jama’ah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Perkumpulan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Perkumpulan Pusat Studi HAM dan Demokrasi (Demos), Perkumpulan Masyarakat Setara, Yayasan Desantara, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan lain-lain.

Dalam gugatannya, mereka mempersoalkan ketentuan dalam Pasal 1 UU tersebut yang berbunyi, ”Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatannya”.

Selain itu, aktivis dan kelompok liberal serta orang-orang Syi’ah tersebut juga mempersoalkan Pasal 2 Ayat (1) dan (2), Pasal 3, serta Pasal 4a yang mengatur ancaman pidana atas pelanggaran Pasal 1. Disebutkan, pelanggaran pidana diancam dengan hukuman penjara maksimal lima tahun.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum MIUMI, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA. Phil. mengatakan bahwa orang-orang liberal, khususnya orang-orang Syi’ah, dalam mengajukan uji materi tersebut memang sangat rapi dan terencana karena mereka memang punya power terhadap para penguasa. Meski tahun 2010 MK sudah menolak uji materi tersebut, tapi mereka masih saja bersikukuh untuk menggoalkan tujuannya agar UU Penistaan Agama itu dicabut MK.

“Orang-orang ini juga mempunyai lobi-lobi terhadap pejabat. Dan ini kita masih mencoba agar tidak  menimbulkan masalah dan bahaya dikemudian hari,” katanya kepada voa-islam seusai mengisi kajian ilmiyah “Problematika Pemikiran Syi’ah” di gedung pertemuan kompleks masjid Istiqlal Sumber, Krajan, Solo beberapa waktu lalu.

Terkait dengan Syi’ah, Gus Hamid menerangkan, bahwa perkembangan kelompok satu ini begitu pesat di Indonesia. Bahkan sudah ratusan yayasan yang mereka bentuk. Tak hanya yayasan saja, tempat pendidikan, penerbitan, radio, TV juga sudah menunjukkan tajinya. “Syi’ah di Indonesia mulai menunjukkan gerakannya dalam berbagai bidang. Penerbitan, advokasi, yayasan, pendidikan, dan mereka luar biasa semangatnya,” terangnya.

Hamid mengharap, umat Islam bisa mencontoh semangat yang ditunjukkan oleh orang-orang liberal dan syi’ah dalam mengajukan uji materi UU Penistaan Agama tersebut. Menurutnya, umat islam, khususnya aktivis dan tokoh-tokoh elemen islam punya PR besar untuk menuntut dicabutnya UU Terorisme dan UU Pendanaan Terorisme yang kemarin baru saja disahkan oleh DPR.

Pasalnya, dengan adanya UU tersebut, menjadi dasar pembenaran dan landasan hukum bagi Densus 88 untuk bertindak semena-mena dan menembak mati siapa saja yang “dianggap” sebagai teroris. “Seharusnya umat islam dan para tokoh lebih gencar untuk menuntut pencabutan UU Terorisme yang merugikan umat Islam itu,” pungkasnya.(voa-islam.com) 

Kajian tentang Hukum Masuk ke Parlemen

Bagaimanakah Hukumnya Bagi Orang Muslim yang Masuk Keparlemen? Soal Jawab Islam. Nara Sumber : Ustadz Abu Rusydan. Menjawab pertanyaan : Bagaimanakah Hukumnya Bagi Orang Muslim yang Masuk Keparlemen?

Sumber (Kiblat.net)

Syeikh Ayman Az-Zawahiri Serukan Berjihad ke Suriah

Syeikh Ayman az-Zawahiri, Amir Al-Qaeda, mendesak umat Islam untuk bersatu dan bergabung dalam pertempuran di Suriah untuk menggulingkan presiden diktator Assad dan untuk mencegah pemerintah sekutu Amerika memimpin Suriah pasca digulingkannya Assad, lansir KC pada Kamis (6/6/2013).
Menurut Associated Press, Syeikh Ayman menyerukan umat Islam di mana pun untuk mendedikasikan hidup, uang dan keahlian mereka untuk melawan rezim Assad.

Syeikh Ayman telah mengecam militan “Hizbullah” Syiah Libanon dan Iran yang mendukung Assad, seperti dilansir dari arrahmah.com.

Syeikh Ayman juga menyerukan umat Islam untuk “mengatasi perbedaan mereka” dan melawan perluasan pengaruh Syiah di Suriah, AP menambahkan.

“Amerika, instansi dan sekutunya ingin kalian menumpahkan darah kalian dan darah anak-anak dan kaum perempuan kalian untuk menurunkan rezim kriminal Baath, dan kemudian mendirikan sebuah pemerintahan yang loyal kepada mereka dan untuk menjaga keamanan ‘Israel’,” katanya seperti dikutip Reuters.

Pesan itu disampaikan dalam rekaman berdurasi 22 menit yang diposting pada hari Kamis di sebuah situs yang biasa digunakan oleh Al-Qaeda, lapor Reuters.

Dalam audio yang berdurasi 22 menit itu juga menampilkan rekaman pesan Syaikh Umar Abdurrahman -fakallahu asrahu- yang kini berada di penjara Guantanamo.

 [arrahmah/annajah/almustaqbal]

Kajian Demokrasi Menurut Islam


Demokrasi sebagai sebuah sistem yang menjalankan roda kehidupan saat ini (termasuk di negeri-negeri kaum muslimin), menimbulkan pengaruh yang dahsyat terhadap kehidupan.

Bagaimanakah Pengertian Demokrasi Menurut Persepsi Islam? Ustadz Abu Rusydan mengupasnya.
Sumber : Kiblat.net


LIPUTAN DAKWAH

More on this category »

AUDIO KAJIAN ISLAM

More on this category »

KONSPIRASI MUSUH ISLAM

More on this category »

HOT NEWS

More on this category »

ARTIKEL ISLAM

More on this category »

Translate