Sebagaimana
yang terjadi di Syam hari ini pasca perjanjian Sykes Picot tahun 1916
antara aliansi kuffar Inggris dan Perancis serta Rusia dimana mereka
memecah belah kaum muslimin menjadi empat wilayah yang ditegakkan diatas
dasar kebangsaan (nasionalisme) menjadi negara Libanon, Yordania,
Suriah dan Palestina. Maka kaum muslimin dimana saja mengalami berbagai
musibah dan kehinaan yang secara langsung ditimpakan orang-orang kafir
maupun secara tidak langsung berupa bencana-bencana yang Alloh Azza wa
Jalla gerakkan melalui alam ciptaanNya.
Sudah seharusnya kita semua sadar bahwa bencana–bencana yang menimpa
kita adalah dikarena kesalahan dan ulah tangan kita sendiri. Alloh Azza
wa Jalla tidak menimpakan berbagai musibah itu melainkan agar kita
kembali kepada ajaranNya yang agung secara menyeluruh. Bencana–bencana
itu terjadi karena kita –kaum muslimin sendiri– melakukan berbagai
pelanggaran terhadap hal–hal yang pokok dalam Diinul Islam (
ushuluddin) yakni :
- Menerima kesesatan paham nasionalisme sebagai asas dan sistim ber-Negara padahal bertentangan dengan Diinul Islam .
Sejarah memperlihatkan bahwa ada kesalahan langkah dalam menyusun
pembentukan Negara yang dihuni mayoritas kaum muslimin. Yakni memakai
manhaj mudahanah
(sikap lemah lembut) dengan kaum kafir yang mengharuskan kita untuk
melepas asas Syari’at dan menerima asas nasionalisme, sehingga rusaklah
prinsip–prinsip diinul Islam yang mestinya harus kita tegakkan.
Penyimpangan tersebut mengakibatkan turunnya bermacam-macam azab dari
Alloh Azza wa Jallla hingga hari ini .
Hal ini jelas diterangkan Alloh
Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya :
“ Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang
telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong
terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu
Jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu,
niscaya kamu Hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, Kalau terjadi
demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat
ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah
mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. “
(
QS Al Israa’: 73-75)
Padahal paham nasionalisme sama sekali tidak terkait dengan Islam
bahkan satu sama lain jelas saling bertentangan. Golongan yang
pertamakali mengamalkan nasionalisme adalah orang– orang Yahudi yang
dimurkai Alloh. Yakni nampak ketika kalangan Bani Israel itu menolak
kerasulan nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam
hanya
lantaran beliau bukan dari kalangan mereka yang keturunan nabi Ya’kub
‘alaihis sallam sedangkan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam
adalah
bangsa Arab ketururunan nabi Ismail ‘alaihis sallam. Orang–orang Yahudi
sebenarnya tahu kebenaran akan kerasulan Nabi Muhammad Sholallohu
‘alaihi wa sallam
namun semangat ‘nasionalisme’ itu menyuruh mereka berdusta dan menolak kebenaran.
Jika ada yang mengawinkan Islam dengan Nasionalisme, maka jelas
mereka melanggar prinsip– prinsip pokok Diinul Islam. Islam memandang
siapapun dan apapun kebangsaan serta kewarganegaraannya selama mereka
muslim, mereka adalah saudara kita sedangkan ajaran nasionalisme
mengajarkan bahwa persaudaraan hanya dibatasi tanah kelahiran, lokasi
tinggal dan asal keturunan. Maka sesungguhnya bencana peperangan yang
buruk dan keji yang terjadi antar ummat manusia tanpa alasan yang haq
adalah bermula dari paham nasionalisme yang amat sempit dan picik ini .
Menerima demokrasi sebagai alat perjuangan menegakkan Islam
dimana hal ini sejatinya bertentangan dengan petunjuk Alloh dan
RasulNya.
Kesalahan fatal yang telah kami terangkan diatas bukan segera
dikoreksi malah kaum muslimin justru terjebak dengan kesalahan
berikutnya. Mereka mengadopsi ‘anak haram’ kaum kuffar Barat berupa
demokrasi sebagai alat untuk memperjuangkan Islam, akhirnya langkah
perjuangan mereka makin menjauh dari ketentuan–ketentuan Syari’at,
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ….
Padahal Alloh dalam telah menjelaskan dalam firmanNya :
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus,
Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain
) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”(
QS Al An’aam : 153)
Akibat menerima paham syirik ini, kaum muslimin berpecah belah bukan
hanya pada label golongan dan bendera partai tapi mereka juga tidak lagi
peduli dengan prinsip–prinsip Diinul Islam. Dalam merebut suara rakyat
berbagai prinsip dikorbankan dan banyak cara dilakukan walaupun
menyelisihi nilai dan kaedah kebenaran. Prinsip
mudalisin (penjilatan) dan
mudahanah (pelembutan sikap) diamalkan padahal mencederai aqidah tauhid. Bahkan akhirnya muncul sikap
ruknun (cenderung pada kezaliman) dan
tawalli
(mendukung kekafiran ) yang jelas–jelas mengeluarkan pelakunya dari
Islam pun mereka lakukan . Itulah sebagai akibat dan tuntutan ajaran
demokrasi .
Ummat Islam tidak mengamalkan secara kaaffah sehingga ditimpakan siksa oleh Alloh berupa kehinaan di dunia .
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar
terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat
demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan
pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.
Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (
Qs Al Baqoroh : 85)
Walaupun khithob ayat ini awalnya adalah kaum Yahudi namun ibrahnya
menjadi umum dan dapat menimpa siapa saja yang berperilaku sama dengan
Yahudi termasuk kaum muslimin . Setelah kaum muslimin mengikuti langkah
buruk Yahudi dengan memilih nasionalisme sesat sebagai dasar pembentukan
Negara dan mengadopsi demokrasi yang syirk sebagai jalan perjuangan,
maka kesesatan berikutnya adalah sikap memilah dan memilih ajaran Islam
yang selaras dengan hawa nafsunya. Naudzubillah min dzalik !
Di pentas masyarakat, kita disodorkan berbagai paradoks (kondisi
saling berbenturan) yang membingungkan dan melahirkan kepribadian ummat
yang terbelah (
split personality) hingga pada akhirnya justru membentuk karakter
hipokrit
(munafik) yang amat berbahaya bagi kaum muslimin itu sendiri. Sebab
kaum munafik semacam inilah yang berperan utama sebagai agen–agen
perusak Islam dan pelemah kaum muslimin dari dalam yang sangat tidak
mudah bagi kita dalam menghadapinya.
Apalagi kalau kaum munafik inilah yang memegang kendali masyarakat
dengan kekuasaan sistim dan senjata maka akan hancurlah masyarakat
karena mereka akan mengumbar kemunkaran dengan memberi izin dan
perlindungan terhadap tempat dan aktivitas serta pelaku kemunkaran.
Sebaliknya, mereka akan menekan, mengintimidasi bahkan menangkap dan
menyiksa pelaku amar ma’ruf nahi munkar dengan tuduhan mengganggu
keamanan dan ketertiban masyarakat. Oleh sebab itu , jika kita
menyerukan apalagi melakukan Jihad maka segera tuduhan teroris akan
segera mereka tempelkan. Pesantren sebagai tempat menyemai aqidah,
syari’at dan akhlaq dituduh sarang teroris karena memang dari sinilah
lahir para da’i dan mujahid yang gemar beramar ma’ruf nahi munkar serta
suka berjihad dijalan Alloh.
Sebagai orang yang beriman, kita tidak mau terus menerus tenggelam
dalam kekeliruan yang membahayakan nasib kita di dunia dan akherat.
Satu–satunya jalan selamat bagi kita adalah mewujudkan agenda Tarbiyah
Jihadiyah secara totalitas dan bersungguh–sungguh dimana sasaran pokok
Tarbiyah Jihadiyah adalah meluruskan kehidupan kita sekarang dengan
mewujudkan langkah–langkah sebagai berikut:
- Tashfiyatul Aqidah , yakni memurnikan keyakinan kita
dari segala hal yang merusak iman seperti syirk, nifaq, fasiq serta
ideology–ideology kufur lainnya, baik secara individu, masyarakat maupun
Negara .
- Tajdiidul ‘Amal , yakni memperbaharui amaliyah
‘ubudiyah dan mu’amalah kita dari hal-hal yang menyelisihi Sunnah
seperti bid’ah, riba, sistim pemerintahan jahiliyah dan sebagainya .
- Tahriirul Ummah, yakni melibatkan diri dan ummat dalam
perjuangan pembebasan kaum muslimin dari kehinaan yang meliputi
kehidupan mereka saat ini kepada kemuliaan Islam dan kaum muslimin
dengan jalan yang disunnahkan yaitu dakwah dan jihad. Dan dengan sasaran
yang jelas menuju terbentuknya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur baik dalam skala lokal maupun global.
Dan kita juga paham, bahwa hal itu semua harus kita lakukan dalam
bingkai aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah hingga Alloh Azza wa
Jalla berkenan mendatangkan kecintaanNya dalam bentuk pertolonganNya
yang amat kuat dan tidak terkalahkan. Menyelisihi Ahlus Sunnah wal
Jama’ah apalagi ber
mudahanah dengan firqoh-firqoh dholalah yang
bersumber dari empat golongan besar yakni Khawarij, Syiah, Mu’tazilah
dan Murjiah walaupun terkesan kuat karena seolah-olah wujud persatuan
ummat namun sesungguhnya akan justru menggiring kaum muslimin pada
kesesatan baru yang lebih fatal dan justru tidak akan menyelamatkan
ummat, baik dunia maupun akherat.
(bumisyam.com)
Sebagaimana
yang terjadi di Syam hari ini pasca perjanjian Sykes Picot tahun 1916
antara aliansi kuffar Inggris dan Perancis serta Rusia dimana mereka
memecah belah kaum muslimin menjadi empat wilayah yang ditegakkan diatas
dasar kebangsaan (nasionalisme) menjadi negara Libanon, Yordania,
Suriah dan Palestina. Maka kaum muslimin dimana saja mengalami berbagai
musibah dan kehinaan yang secara langsung ditimpakan orang-orang kafir
maupun secara tidak langsung berupa bencana-bencana yang Alloh Azza wa
Jalla gerakkan melalui alam ciptaanNya.
Sudah seharusnya kita semua sadar bahwa bencana–bencana yang menimpa
kita adalah dikarena kesalahan dan ulah tangan kita sendiri. Alloh Azza
wa Jalla tidak menimpakan berbagai musibah itu melainkan agar kita
kembali kepada ajaranNya yang agung secara menyeluruh. Bencana–bencana
itu terjadi karena kita –kaum muslimin sendiri– melakukan berbagai
pelanggaran terhadap hal–hal yang pokok dalam Diinul Islam (
ushuluddin) yakni :
- Menerima kesesatan paham nasionalisme sebagai asas dan sistim ber-Negara padahal bertentangan dengan Diinul Islam .
Sejarah memperlihatkan bahwa ada kesalahan langkah dalam menyusun
pembentukan Negara yang dihuni mayoritas kaum muslimin. Yakni memakai
manhaj mudahanah
(sikap lemah lembut) dengan kaum kafir yang mengharuskan kita untuk
melepas asas Syari’at dan menerima asas nasionalisme, sehingga rusaklah
prinsip–prinsip diinul Islam yang mestinya harus kita tegakkan.
Penyimpangan tersebut mengakibatkan turunnya bermacam-macam azab dari
Alloh Azza wa Jallla hingga hari ini .
Hal ini jelas diterangkan Alloh
Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya :
“ Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang
telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong
terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu
Jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu,
niscaya kamu Hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, Kalau terjadi
demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat
ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah
mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. “
(
QS Al Israa’: 73-75)
Padahal paham nasionalisme sama sekali tidak terkait dengan Islam
bahkan satu sama lain jelas saling bertentangan. Golongan yang
pertamakali mengamalkan nasionalisme adalah orang– orang Yahudi yang
dimurkai Alloh. Yakni nampak ketika kalangan Bani Israel itu menolak
kerasulan nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam
hanya
lantaran beliau bukan dari kalangan mereka yang keturunan nabi Ya’kub
‘alaihis sallam sedangkan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam
adalah
bangsa Arab ketururunan nabi Ismail ‘alaihis sallam. Orang–orang Yahudi
sebenarnya tahu kebenaran akan kerasulan Nabi Muhammad Sholallohu
‘alaihi wa sallam
namun semangat ‘nasionalisme’ itu menyuruh mereka berdusta dan menolak kebenaran.
Jika ada yang mengawinkan Islam dengan Nasionalisme, maka jelas
mereka melanggar prinsip– prinsip pokok Diinul Islam. Islam memandang
siapapun dan apapun kebangsaan serta kewarganegaraannya selama mereka
muslim, mereka adalah saudara kita sedangkan ajaran nasionalisme
mengajarkan bahwa persaudaraan hanya dibatasi tanah kelahiran, lokasi
tinggal dan asal keturunan. Maka sesungguhnya bencana peperangan yang
buruk dan keji yang terjadi antar ummat manusia tanpa alasan yang haq
adalah bermula dari paham nasionalisme yang amat sempit dan picik ini .
Menerima demokrasi sebagai alat perjuangan menegakkan Islam
dimana hal ini sejatinya bertentangan dengan petunjuk Alloh dan
RasulNya.
Kesalahan fatal yang telah kami terangkan diatas bukan segera
dikoreksi malah kaum muslimin justru terjebak dengan kesalahan
berikutnya. Mereka mengadopsi ‘anak haram’ kaum kuffar Barat berupa
demokrasi sebagai alat untuk memperjuangkan Islam, akhirnya langkah
perjuangan mereka makin menjauh dari ketentuan–ketentuan Syari’at,
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ….
Padahal Alloh dalam telah menjelaskan dalam firmanNya :
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus,
Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain
) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”(
QS Al An’aam : 153)
Akibat menerima paham syirik ini, kaum muslimin berpecah belah bukan
hanya pada label golongan dan bendera partai tapi mereka juga tidak lagi
peduli dengan prinsip–prinsip Diinul Islam. Dalam merebut suara rakyat
berbagai prinsip dikorbankan dan banyak cara dilakukan walaupun
menyelisihi nilai dan kaedah kebenaran. Prinsip
mudalisin (penjilatan) dan
mudahanah (pelembutan sikap) diamalkan padahal mencederai aqidah tauhid. Bahkan akhirnya muncul sikap
ruknun (cenderung pada kezaliman) dan
tawalli
(mendukung kekafiran ) yang jelas–jelas mengeluarkan pelakunya dari
Islam pun mereka lakukan . Itulah sebagai akibat dan tuntutan ajaran
demokrasi .
Ummat Islam tidak mengamalkan secara kaaffah sehingga ditimpakan siksa oleh Alloh berupa kehinaan di dunia .
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar
terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat
demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan
pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.
Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (
Qs Al Baqoroh : 85)
Walaupun khithob ayat ini awalnya adalah kaum Yahudi namun ibrahnya
menjadi umum dan dapat menimpa siapa saja yang berperilaku sama dengan
Yahudi termasuk kaum muslimin . Setelah kaum muslimin mengikuti langkah
buruk Yahudi dengan memilih nasionalisme sesat sebagai dasar pembentukan
Negara dan mengadopsi demokrasi yang syirk sebagai jalan perjuangan,
maka kesesatan berikutnya adalah sikap memilah dan memilih ajaran Islam
yang selaras dengan hawa nafsunya. Naudzubillah min dzalik !
Di pentas masyarakat, kita disodorkan berbagai paradoks (kondisi
saling berbenturan) yang membingungkan dan melahirkan kepribadian ummat
yang terbelah (
split personality) hingga pada akhirnya justru membentuk karakter
hipokrit
(munafik) yang amat berbahaya bagi kaum muslimin itu sendiri. Sebab
kaum munafik semacam inilah yang berperan utama sebagai agen–agen
perusak Islam dan pelemah kaum muslimin dari dalam yang sangat tidak
mudah bagi kita dalam menghadapinya.
Apalagi kalau kaum munafik inilah yang memegang kendali masyarakat
dengan kekuasaan sistim dan senjata maka akan hancurlah masyarakat
karena mereka akan mengumbar kemunkaran dengan memberi izin dan
perlindungan terhadap tempat dan aktivitas serta pelaku kemunkaran.
Sebaliknya, mereka akan menekan, mengintimidasi bahkan menangkap dan
menyiksa pelaku amar ma’ruf nahi munkar dengan tuduhan mengganggu
keamanan dan ketertiban masyarakat. Oleh sebab itu , jika kita
menyerukan apalagi melakukan Jihad maka segera tuduhan teroris akan
segera mereka tempelkan. Pesantren sebagai tempat menyemai aqidah,
syari’at dan akhlaq dituduh sarang teroris karena memang dari sinilah
lahir para da’i dan mujahid yang gemar beramar ma’ruf nahi munkar serta
suka berjihad dijalan Alloh.
Sebagai orang yang beriman, kita tidak mau terus menerus tenggelam
dalam kekeliruan yang membahayakan nasib kita di dunia dan akherat.
Satu–satunya jalan selamat bagi kita adalah mewujudkan agenda Tarbiyah
Jihadiyah secara totalitas dan bersungguh–sungguh dimana sasaran pokok
Tarbiyah Jihadiyah adalah meluruskan kehidupan kita sekarang dengan
mewujudkan langkah–langkah sebagai berikut:
- Tashfiyatul Aqidah , yakni memurnikan keyakinan kita
dari segala hal yang merusak iman seperti syirk, nifaq, fasiq serta
ideology–ideology kufur lainnya, baik secara individu, masyarakat maupun
Negara .
- Tajdiidul ‘Amal , yakni memperbaharui amaliyah
‘ubudiyah dan mu’amalah kita dari hal-hal yang menyelisihi Sunnah
seperti bid’ah, riba, sistim pemerintahan jahiliyah dan sebagainya .
- Tahriirul Ummah, yakni melibatkan diri dan ummat dalam
perjuangan pembebasan kaum muslimin dari kehinaan yang meliputi
kehidupan mereka saat ini kepada kemuliaan Islam dan kaum muslimin
dengan jalan yang disunnahkan yaitu dakwah dan jihad. Dan dengan sasaran
yang jelas menuju terbentuknya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur baik dalam skala lokal maupun global.
Dan kita juga paham, bahwa hal itu semua harus kita lakukan dalam
bingkai aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah hingga Alloh Azza wa
Jalla berkenan mendatangkan kecintaanNya dalam bentuk pertolonganNya
yang amat kuat dan tidak terkalahkan. Menyelisihi Ahlus Sunnah wal
Jama’ah apalagi ber
mudahanah dengan firqoh-firqoh dholalah yang
bersumber dari empat golongan besar yakni Khawarij, Syiah, Mu’tazilah
dan Murjiah walaupun terkesan kuat karena seolah-olah wujud persatuan
ummat namun sesungguhnya akan justru menggiring kaum muslimin pada
kesesatan baru yang lebih fatal dan justru tidak akan menyelamatkan
ummat, baik dunia maupun akherat.
- See more at: http://www.bumisyam.com/tarbiyah/tarbiyah-jihadiyah-merajut-kemuliaan-umat.html#sthash.wh3wOVWL.dpuf