Suriah, Bangkitkan Salafi Jihadi

Senin, 22 Juli 2013

Suriah kini menjelma bagai gadis molek “kembang kawasan” Timur Tengah. Semua aktifis jihad berebut meminangnya. Suriah menjadi tanah paling ideal baik secara geopolitik maupun geo-ideologis sebagai habitat jihad pasca revolusi Arab. Bahkan daya tarik ini dirasakan hingga luar kawasan. Tak ada aktifis jihad yang beraliran salafi di belahan bumi manapun kecuali tertarik untuk datang meminang.

Berawal dari Tunisia, merambah ke Mesir, Libya, Yaman dan tampaknya akan berakhir di Suriah. Tak ada yang menyangka sebelumnya bila ending “musim semi” Arab ini akan sangat bernuansa jihad bersenjata. Suriah menjadi “berkah di balik musibah” dengan makin matangnya bentuk akhir revolusi Arab menjadi Jihad fi Sabilillah. Corak yang sangat berbeda dibanding pemicu awal revolusi yang sekedar protes atas kezhaliman rezim.
Kalaupun kelak revolusi ini masih akan menyebar ke negara kawasan yang masih tenang, dinamika Suriah akan mempengaruhi revolusi tersebut, bukan semata protes atas kezhaliman penguasa, tapi sudah lebih puritan dengan aroma perang akhir zaman yang kuat. Perang sipil yang bertujuan mengenyahkan thoghut-thoghut Arab kaki tangan Barat atau menumpas ideologi jahat Syiah atau menekuk musuh abadi umat – Israel. Nafasnya sudah berganti menjadi pertarungan antara al-haqq yang ingin menumbangkan al-bathil, bukan lagi protes jalanan yang menuntut keadilan yang absurd dan kemakmuran yang semu khas tuntutan rakyat yang alam pikirannya serba materi dan nasionalistik.

Suriah, Revolusi Rakyat dengan Spirit Jihad

Konflik Suriah yang sangat brutal – paling brutal diantara yang lain – dengan korban yang mengerikan, waktu yang relatif panjang dan dukungan diam-diam terhadap rezim Bashar Asad dari negera kawasan baik Syiah, Israel maupun kaki tangan Barat yang khawatir bakal menguatnya sentiment jihad, membuat revolusi Suriah punya karakter yang khas. Jihad Suriah berhasil memantik sentimen solidaritas umat Islam dari seluruh kalangan karena melihat saudara mereka berjuang sendirian, satu-satunya sandaran hanya Allah kemudian umat Islam.
Faktor lain yang membuat konflik Suriah terasa khas, adalah banyaknya hadits-hadits nubuwat akhir zaman yang menyebutkan sisi stretagis Suriah, yang dalam istilah zaman Nabi saw disebut negeri Syam. Syam yang meliputi Suriah, Lebanon, Yordania dan Palestina, dinubuwatkan sebagai “negeri titik kumpul dan titik sebar” dan “markas kekuatan umat Islam akhir zaman”. Mujahidin seluruh dunia akan tersedot ke tanah Syam, lalu dari sana bertolak untuk melaksanakan misi penaklukan ke wilayah sekelilingnya.
Kenyataan lapangan dan dukungan spirit ideologi dari nubuwat, menjadikan Suriah memenuhi syarat untuk disebut sebagai basis jihad yang ideal. Jumlah kaum Sunni yang mayoritas juga dipandang sebagai modal kekuatan mujahidin yang hebat jika mampu dipoles dengan sentuhan dakwah salafiyah yang intensif dalam rangka mengikis sisa-sisa pemikiran nasionalisme dan liberalisme. Jihad yang berkecamuk selalu menjadi latar yang ideal untuk mengikis pola pikir nasionalisme dan pemikiran sesat lain. Semakin lama jihad hidup di Suriah, akan makin banyak alumninya yang steril dari syubuhat pemikiran, insyaallah.

Revolusi Arab, Titik Balik dari Salafi menjadi Jihadi

The Regional Center for Strategic Studies (RCSS), lembaga kajian strategis yang bermarkas di Cairo membuat analisa yang menarik tentang kebangkitan salafi jihadi pasca krisis Arab. Salafi dalam pandangan RCSS adalah semua aktifis ahlussunnah. Salafi secara umum dibagi dua, salafi ilmu dan salafi jihadi. Salafi ilmu adalah salafi yang anti kekerasan dalam manhajnya. Sementara salafi jihadi adalah salafi yang kuat mengusung tema jihad bersenjata dan perlawanan, baik kepada penguasa lokal maupun kekuatan global. Lihat http://rcssmideast.org/التحليلات/الأمن-الأقليمى/المظلة-الجهادية.html
Sebelum Arab spring, yang mendominasi Timur Tengah adalah salafi jinak, salafi sebagai spirit dakwah dan pengamalan sunnah. Bahkan terdapat trend eksodus kaum jihadis menjadi salafi jinak, misalnya kasus Jamaah Islamiyah dan Jamaah Jihad di Mesir,  Jamaah Islamiyah al-Muqotilah di Libya dan FIS di Aljazair yang sebelumnya konsisten di jalur salafi jihadi yang kental nuansa konfrontasi, berpindah menjadi salafi damai. Tapi setelah pecah revolusi Arab, peta berbalik secara dramatis. Seluruh negara Timur Tengah bergemuruh berbondong-bondong pindah payung, tadinya payung salafi kalem, menjadi salafi jihadi.
Bahkan dalam analisa RCSS, kaum jihadi untuk bisa terjinakkan, memerlukan waktu yang sangat lama dan membutuhkan perdebatan ilmiah panjang. Sementara perpindahan dari salafi menjadi jihadi, punya kecepatan tak tertandingi. Peta salafi Timur Tengah dan Afrika Utara hari ini sudah didominasi oleh salafi jihadi, sebagai dampak langsung dari revolusi Arab. Jamaah Islamiyah Mesir yang sebelumnya sudah jinak, dengan revolusi Mesir, mereka kembali mengeluarkan jargon-jargon yang lebih dekat untuk dikategorikan jihadi. Semenanjung Sinai kini sudah menjelma menjadi markas kaum jihadis dengan memanfaatkan gurunnya yang luas.
Dan Suriah sebagai ending revolusi Arab menjadi kolam penampungan ideal bagi kaum salafi jihadi, atau setidaknya titik orientasi perjalanan. Bahkan para aktifis dari masing-masing negara sudah mencanangkan jargon: min huna nabda’ wa fie syam naltaqiy  (dari sini kita berawal – merujuk tempat lokal masing-masing – dan di Syam kita akan bertemu). Tampaknya kawasan Suriah akan menjadi kampus jihad masa depan, setelah era 80-an hal itu terjadi di Afghanistan. Bukan hanya kampus, bahkan basis mujahidin yang siap menyebar ke kawasan dengan nafas jihad fi sabilillah yang murni.Semoga bertemu kembali sobat, di Syam ! ilalliqa’ fi Syam ! Wallahu a’lam.

sumber : lasdipo

Syeikh Ayman Az-Zawahiri Serukan Berjihad ke Suriah

Rabu, 17 Juli 2013

Syeikh Ayman az-Zawahiri, Amir Al-Qaeda, mendesak umat Islam untuk bersatu dan bergabung dalam pertempuran di Suriah untuk menggulingkan presiden diktator Assad dan untuk mencegah pemerintah sekutu Amerika memimpin Suriah pasca digulingkannya Assad, lansir KC pada Kamis (6/6/2013).
Menurut Associated Press, Syeikh Ayman menyerukan umat Islam di mana pun untuk mendedikasikan hidup, uang dan keahlian mereka untuk melawan rezim Assad.

Syeikh Ayman telah mengecam militan “Hizbullah” Syiah Libanon dan Iran yang mendukung Assad, seperti dilansir dari arrahmah.com.

Syeikh Ayman juga menyerukan umat Islam untuk “mengatasi perbedaan mereka” dan melawan perluasan pengaruh Syiah di Suriah, AP menambahkan.

“Amerika, instansi dan sekutunya ingin kalian menumpahkan darah kalian dan darah anak-anak dan kaum perempuan kalian untuk menurunkan rezim kriminal Baath, dan kemudian mendirikan sebuah pemerintahan yang loyal kepada mereka dan untuk menjaga keamanan ‘Israel’,” katanya seperti dikutip Reuters.

Pesan itu disampaikan dalam rekaman berdurasi 22 menit yang diposting pada hari Kamis di sebuah situs yang biasa digunakan oleh Al-Qaeda, lapor Reuters.

Dalam audio yang berdurasi 22 menit itu juga menampilkan rekaman pesan Syaikh Umar Abdurrahman -fakallahu asrahu- yang kini berada di penjara Guantanamo.

 [arrahmah/annajah/almustaqbal]

Cerita Indah Panji Hitam di Medan Jihad Suriah


Seorang Mujahid, yang menyebut dirinya “Qarin Al-Kallasy” menyatakan berhenti dari publikasi di Twitter karena kondisi aktual membuatnya kesulitan mengakses.

“Aku keluar dari Twitter karena mulai sekarang dan seterusnya saya sulit untuk mengaksesnya. Saya mengharapkan doa dari kalian agar diberikan keteguhan, kesyahidan, dan keridhaan atas semua amal,” ungkapnya.
“Sebelum saya keluar, saya ingin menyampaikan pesan: Saya bersumpah demi Allah, kami di sini sangat membutuhkan bantuan personal dan dana. Demi Allah, kami dalam kondisi sangat membutuhkan bantuan!” tambahnya.
Selama ini, di sela-sela istirahat dari pertempuran, Mujahid dari Arab Saudi yang bergabung dengan Jabhah Nusrah di Suriah ini memang selalu menyempatkan diri untuk menulis di Twitter tentang kesaksian hidup dari realitas Jihad Suriah yang ia jalani. Berikut ini dua petikan kisah yang sangat berharga bagi kita yang pernah ia tulis di halaman Twitternya.
Kakek Tua dan Keinginan Terakhirnya
Saat itu saya sedang berpikir, mengapa para pemuda Jazirah Arab tidak mau berjihad padahal bisa menemukan jalan ke medan jihad.
Saya berada di kantor pusat dan bersandar di dinding. Tiba-tiba saja ada seorang tua renta dan dua
Halaman-@K_L7-saat-masih-aktif
Halaman-@K_L7-saat-masih-aktif

anak muda masuk. Tampaknya dua anak muda itu putranya. Ia pun mengucapkan salam kepada komandan kami, lalu duduk.
Ia kemudian berkata, “Wahai Komandan, dua anak saya ini saya serahkan kepadamu. Inilah permintaan terakhir saya dari kalian, gabungkanlah anakku bersama kalian.”
Aku yang mendengar itu sangat terharu hingga kulit tubuhku merinding. Betapa mulia keinginan kakek itu.
Cerita yang Indah tentang Panji Hitam
Ketika itu, para mujahidin sedang berada dalam puncak kesibukan di barak untuk persiapan sebuah pengepungan.
Tiba-tiba, salah seorang pemimpin faksi yang masih menjadi bagian Tentara Pembebasan (FSA) datang dan mengatakan, “Kami ingin sejumlah mujahid darimu bergabung dengan kami untuk menyerang sebuah pos pemeriksaan militer di tempat lain.”
“Saya tidak bisa memberikannya kepadamu karena kami sendiri sedang sibuk pula untuk penyerangan,” jawab Komandan kami.
“Baiklah, tetapi berikanlah apa saja meskipun hanya bendera hitam kalian,” pinta Perwira tersebut.
Komandan kami pun memberikan salah satu panji hitam kami.
Perwira tersebut pun berperang bersama pasukannya dengan membawa bendera hitam tersebut. Mereka menyerang pos pemeriksaan tentara penguasa. Anehnya, ketika para tentara Bashar melihat mobil bersenjata dan bendera hitam, mereka melarikan diri dan meninggalkan dua tank serta amunisi lainnya!
Ketika Perwira tersebut kembali ke tempat kami untuk mengembalikan bendera, Komandan kami berkata, “Ghanimah apa yang kalian dapat?”
“Amunisi dan dua tank!” jawabnya.
“Kalau begitu, kita harus berbagi ghanimah: satu tank untuk kami dan satu lagi untuk kalian,” kata Komandan kami.
“Mengapa begitu?”
“Karena kami telah mengirimkan bendera kami untuk berperang bersama kalian,” jawab Komandan kami.
Akhirnya kami, mendapatkan ghanimah tank dengan panji hitam kami. Melalui tulisan ini kami ingin mengucapkan terima kasih atas upayanya. (an-najah.net) 

Syaikh Muhammad Hasan Serukan Jihad di Suriah dan Persatuan Ahlus Sunnah


Da’i dan ulama Mesir, Syaikh Muhammad Hasan, dalam pertemuan ulama Ahlus Sunnah Menyikapi Isu Suriah 13 Juni 2013 di Kairo yang diinisiasi Ikhwanul Muslimin, menyerukan persatuan Ahlus Sunnah dan jihad atas rezim Syiah Basyar Al Assad. Ia menyatakan, wajibnya  jihad menolong bangsa Muslim Suriah,  baik dengan jiwa, senjata, maupun harta dan dengan semua jenis jihad dan pertolongan.
Beliau juga memberikan seruan untuk kaum Muslimin seluruhnya agar bersatu menghadapi kebiadapan Pemerintah Suriah agar kita terhindar dari tanggung jawab di hadapan Allah, sesuai dengan kemampuan masing-masing, juga meninggalkan perselisihan diantara kaum Muslimin secara umum dan di antara mujahidin di Suriah secara khusus. Serta seruan untuk kembali kepada Al Kitab dan As Sunnah.
Selain itu, ia menyerukan semua media massa agar memberitakan hakikat sebenarnya yang menimpa Bangsa Suriah, dan agar tidak menuduh para mujahidin di Suriah sebagai teroris dengan waktu yang bersamaan menutup mata dari kejahatan yang dilakukan terhadap kaum Muslimin Suriah.
Kepada seluruh yayasan-yayasan sosial dan badan-badan HAM, ia menyerukan agar memberikan pertolongan pada kaum muslimin Suriah yang menjadi korban pembantaian, baik yang ada di Suriah, maupun pengungsi diluar Suriah, serta memberikan makanan, serta obat-obatan dan apa yang mereka butuhkan.
Syiah Iran, Hizbullah, dan Barat
Menurutnya, apa yang dilakukan oleh negara Iran dan Hizbullah Rafidhah berupa pembantaian di Suriah adalah merupakan genderang perang yang ditabuh secara terang-terangan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Ia meminta kaum Muslimin di seluruh dunia agar memboikot Negara Iran dalam rangka untuk menjaga darah Bangsa Suriah yang terzalimi.
Seruan untuk seluruh elemen kaum Muslimin untuk bersama-sama menghadapi thaghut di Suriah, serta seruan untuk tidak bekerjasama dengan negara-negara yang membantu pembantaian di Suriah, khususnya Iran, China, Rusia dengan memutus segala macam bentuk kerjasama dengannya.
Beliau memberi peringatan kepada PBB agar bertindak tegas memberhentikan pembantaian yang terjadi di Suriah.
sumber ; http://news.fimadani.com/read/2013/06/14/syaikh-muhammad-hasan-serukan-jihad-di-suriah-

dan-persatuan-ahlus-sunnah/

Syekh Mujahid Abu Bashir : Keutamaan Negeri Syam

Ini merupakan sebuah tema penting untuk dibahas karena secara umum masih banyak dari kalangan aktivis gerakan Islam secara khusus dan kaum muslimin secara umum, yang belum mengetahui keutamaan negeri Syam dan nilai strategis dari Syam dalam kaitannya dengan kemuliaan Islam dan kaum muslimin di muka bumi ini. Harapannya, setelah dibahas tema ini, para aktivis harakah Islamiyah dan kaum muslimin pada umumnya, memiliki gambaran yang lebih jelas dan benar tentang nilai strategis dari jihad di Suriah.
Taushiyah ini merupakan terjemahan dari artikel berjudul “Takaffalallahu Li Bi Syam” (15 Maret 2005/ 5 Shafar 1426) tulisan Syekh Abu Bashir Ath Tharthusy hafidhahullah, seorang ‘alim mujahid asli Suriah yang dulu menjadi salah satu buronan Presiden Hafidz Al Asad, bapaknya Basyar Asad. Beliau sempat berkelana ke beberapa negara Asia dan Eropa dan akhirnya sempat menetap beberapa waktu lamanya di Inggris dan akhirnya kembali ke Suriah untuk bergabung dengan mujahidin Suriah pada tahun 2012 yang lalu.
Takaffallallahu Li bi Syam (Allah Memberikan Jaminan Kepadaku Tentang Negeri Syam)
Setelah basmalah dan pujian kepada Allah serta shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menulis:
Kita belum dan tidak akan kehilangan harapan terhadap Syam… Betapa pun lama kegelapan malam di Syam, sesungguhnya cahaya fajar yang terang pasti akan datang…Betapa pun tinggi awan hitam yang menyelimuti langit Syam, sesungguhnya awan tersebut akan pudar dan kembali menjadi terang walaupun setelah beberapa masa lamanya. Akan tersingkaplah bumi Syam dengan cahaya matahari yang terang dan kita akan menemui waktu tersebut dengan izin Allah.
Telah banyak peperangan yang terjadi di Syam. Telah berlalu bangsa Tartar dengan kebodohan, keterbelakangan dan kebiadaban mereka… setelah itu datang para tentara salib dengan kedengkian, kejahatan dan kerakusan mereka….Pasukan itu telah dikalahkan dan kembali ke liang mereka dalam keadaan hina dan rugi… sementara penduduk dan dien negeri Syam tetap dalam keadaan terhormat dan mulia.
Inilah Syam yang hari ini dalam keadaan jatuh tertawan semenjak puluhan tahun yang lalu, di bawah tekanan rezim zindiq modern dari kalangan agen-agen Qaramithah …orang-orang Nushairi… orang-orang partai Ba’ts… para sekuler… kaum permisif… penjahat…pendengki… mereka melakukan kerusakan di negeri ini dan menghinakan para hamba Allah.
هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤)
Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”
(QS. Al Munafiqun : 4)
Dengan izin Allah, sesungguhnya mereka akan kalah dan terhina dan akan sirna dari bumi Syam sebagaimana telah kalah dan sirna pasukan penjahat sebelum mereka dan akan kembali ke Syam kemuliaan dan kehormatannya, kejayaan dan peranannya yang utama dalam memimpin umat manusia dan berbagai bangsa, sebagaimana telah terjadi dalam kurun waktu tertentu di masa lalu.
Ini merupakan janji yang benar yang kita tidak ragu dengan kedatangannya…dan tidak akan diselisihi dengan izin Allah walaupun setelah beberapa masa lagi datangnya.
Telah shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
عليكم بالشام .. فإن الله قد تكفَّل لي بالشام وأهله ">
Hendaklah kalian ke Syam… sesungguhnya Allah telah memberikan jaminan kepadaku mengenai Syam dan penduduknya.”
Maksudnya Allah telah memberikan jaminan kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolong diennya dan dakwahnya dan melindungi Islam dan kehormatannya di Syam dan penduduk Syam. Barang siapa dijamin oleh Allah maka dia akan terpelihara, tidak akan terlantar dan tidak perlu khawatir.
Rabiah berkata, “Aku telah mendengar Abu Idris saat berbicara mengenai hadits ini mengatakan, ”Barang siapa dijamin oleh Allah maka dia tidak akan terlantar.”
Dari Zaid bin Tsabit Al Anshary ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يا طوبى للشام! يا طوبى للشام! يا طوبى للشام! "، قالوا يا رسول الله وبمَ ذلك؟ قال:" تلك ملائكةُ الله باسطوا أجنحتها على الشام ".
Keberuntungan bagi Syam! Keberuntungan bagi Syam! Keberuntungan bagi Syam.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, dengan apa mereka mendapat keberuntungan?” Rasulullah menjawab, “Itu para malaikat Allah yang membentangkan sayap-sayapnya di atas Syam.
Beliau juga bersabda:
إني رأيتُ عمودَ الكتاب انتُزع من تحت وسادتي، فنظرت فإذا هو نور ساطع عُمد به إلى الشام، ألا إن الإيمان إذا وقعت الفتن بالشام ".
Sesungguhnya aku melihat pilar Al kitab dicabut dari bawah bantalku. Lalu aku melihat cahaya berjalan ke Syam. Ketahuilah sesungguhnya ketika terjadi berbagai fitnah, iman itu berada di Syam.”
Kemudian bersabda:
إذا فسد أهلُ الشام فلا خير فيكم، ولا تزال طائفة من أمتي منصورين لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة ".
Apabila penduduk negeri Syam telah rusak, maka tidak ada lagi kebaikan bagi kalian. Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang mendapatkan pertolongan, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya hari kiamat.”
HR at-Tirmidzi : 2192; Ahmad : V/34; al-Lalika`i : 172; Ibnu Hibban : 61; al-Hakim di dalam Ma'rifatu 'Ulumul Hadits hal. 2; dari jalan Syu'bah bin Mu'awiyah bin Qurroh, dari ayahnya secara marfu')
Saya katakan: kerusakan yang bersifat nisbi yang telah menimpa penduduk Syam karena strategi thaghut yang kafir dan murtad yang berkuasa di Syam ini telah menimbulkan efek negatif terhadap kebaikan umat ini dan kontribusinya kepada dunia sebagaimana bisa diamati.
Hadits tersebut memberikan faidah bahwa kemuliaan Syam adalah kemuliaan umat ini dan kehinaan dan kerusakan Syam adalah kehinaan dan kerusakan umat ini. Maka kemuliaan dan kehinaan umat ini…naik turunnya kebaikan umat ini…lebih dan kurangnya umat ini, terkait dengan kemuliaan dan kehinaan Syam serta kebaikannya.
Oleh karena itu, dahulu – dan akan selalu - Syam menjadi target serbuan para penjajah dan fokus pemikiran dan pandangan mereka, serta konspirasi mereka karena mereka mengetahui pentingnya wilayah yang sensitif ini… berbahayanya wilayah ini bagi mereka. Maka mereka menguasakan atas negeri Syam ini penguasa dari kalangan bangsa kita, yang jauh lebih kufur, dengki, jahat dan rusak daripada mereka… dan menanam di jantung Syam - di Palestina - kelompok keturunan Yahudi agar memudahkan mereka untuk memasuki berbagai persoalan Syam kapan pun mereka inginkan dengan alasan untuk melindungi kelompok Yahudi tersebut dan negara mereka!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لن تبرح هذه الأمة منصورين أينما توجهوا، لا يضرهم من خذلهم من الناس حتى يأتي أمر الله؛ وهم بالشام ".
Umat ini akan senantiasa mendapat pertolongan kemana pun berjalan, orang-orang yang menelantarkan mereka tidak membahayakan mereka hingga tiba keputusan Allah, dan mereka itu di Syam.”
لا يزال أهل الغرب ظاهرين على الحق حتى تقوم الساعة ".
Penduduk Maghrib (barat) akan senantiasa berjaya di atas kebenaran hingga datangnya hari kiamat.”
(HR Muslim : XIII/68-Nawawi; Abu Nu'aim di dalam al-Hilyah : III/95-96; as-Sahmi di dalam Tarikh Jurjaan : 467; dan selainnya dari jalan Abu Utsman al-Hindi).
Dalam riwayat lain:
لا يزال أهل الغرب ظاهرين لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم الساعة "؛
Penduduk Barat (Ahlul gharbi) akan senantiasa menang, tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga hari kiamat.”
Yang dimaksud penduduk Barat adalah penduduk Syam.
قال أحمد بن حنبل: أهل المغرب هم أهل الشام.
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata, ”Penduduk Maghrib adalah penduduk Syam.”
Hadits –hadits di atas memberikan beberapa faidah:
Thaifah Al Manshurah yang berjaya - yang tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka- terdapat di Syam atau negeri Syam tidak kosong dari thaifah tersebut.
Thaifah Al Manshurah tersebut terus menerus ada sepanjang masa sampai hari kiamat sehingga tidak ada satu masa pun yang kosong dari keberadaannya termasuk hinggga zaman di mana kita hidup saat ini. Ini berarti Thaifah al Manshurah ini sekarang sudah ada di Syam yang diketahui oleh orang yang tahu dan tidak diketahui oleh orang yang tidak tahu.
Thaifah Al Manshurah ini dijaga dan ditolong oleh Allah. Melalui thaifah tersebut Allah menjamin kepada nabi-Nya untuk menolong dien ini dan menjaganya.
Di antara ciri khas Thaifah Al Manshurah ini adalah berjihad di jalan Allah, menyampaikan kebenaran secara terang-terangan dan tidak takut celaan orang yang mencela.
عن عبد الله بن حوالة أنه قال: يا رسول الله اكتب لي بلداً أكون فيه، فلو أعلم أنك تبقى لم أختر على قربك. قال>:" عليك بالشام، عليك بالشام، عليك بالشام!"، فلما رأى النبي>صلي الله عليه و سلم كراهيته للشام، قال:" هل تدرون ما يقول الله ؟ يقول: أنتِ صفوتي من بلادي أُدخل فيك خيرتي من عبادي .. ورأيت ليلة أُسري بي عموداً أبيض كأنه لؤلؤ تحمله الملائكة، قلت: ما تحملون؟ قالوا: نحمل عمود الإسلام، أُمرنا أن نضعه بالشام ".
Dari Abdullah bin Hawalah, dia berkata, ”Wahai Rasulullah, tentukanlah untukku satu negeri yang saya akan tinggal di dalamnya. Seandainya saya tahu bahwa Anda tetap tinggal di Madinah, saya akan memilih untuk tinggal di dekat anda.” Rasulullah bersabda, ”Pergilah ke Syam. Pergilah ke Syam. Pergilah ke Syam!” ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ketidaksukaannya kepada Syam, beliau bersabda, ”Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Allah? Allah berfirman, “Engkau adalah negeriku yang terbaik. Aku masukkan ke dalamnya hamba-hamba-Ku yang pilihan.” Dan aku melihat ketika malam aku diisra’kan, sebuah pilar putih seolah ia adalah sebuah mutiara yang dibawa para malaikat. Aku bertanya (kepada malaikat), ”Apa yang kalian bawa?” Mereka menjawab, “Aku membawa pilar Islam. Kami diperintah untuk meletakkannya di Syam.”
عليك بالشام؛ فإنها خيرة الله من أرضه، يجتبي إليها خيرته من عباده ".
Beliau juga bersabda,”Pergilah kamu ke Syam. Sesungguhnya Syam itu bumi Allah yang terbaik. Allah memilih untuk Syam hamba-hamba-Nya yang terbaik.”
عبد الله بن عمر، قال: قال لنا النبي> صلي الله عليه و سلم يوماً:" إني رأيت الملائكة في المنام أخذوا عمود الكتاب، فعمدوا به إلى الشام، فإذا وقعت الفتن فإن الإيمان بالشام ".
Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, ”Suatu hari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Dalam sebuah mimpi, sesungguhnya aku melihat para malaikat mengambil pilar Al kitab, lalu membawanya ke Syam. Apabila terjadi banyak fitnah sesungguhnya iman berada di Syam.”
سيكون هجرة بعد هجرة؛ فخيار أهل الأرض ألزمهم مهاجر إبراهيم "
Hijrah akan terus berlangsung. Penduduk bumi yang paling utama adalah yang paling bertahan untuk menetap di tempat hijrahnya Ibrahim.”
Tempat hijrah Ibrahim ‘alaihi salam adalah Palestina dan Palestina merupakan bagian dari Syam. Yang dimaksud dengan Syam adalah Syam Al Kubro yang meliputi Suriah, Yordania, Palestina, Lebanon, Tabuk – bagian dari bumi Jazirah - dan sekitarnya yang dari arah Yordania. Semua wilayah ini disebut dengan Syam akan tetapi pusatnya adalah Damaskus dan sekitarnya sebagaimana yang bisa dipahami dari berbagai hadits.
Di dalam hadits ini terdapat berita gembira yang baik bagi penduduk Palestina yang tetap tinggal, tetap melakukan ribath, yang bertahan hidup di tempat hijrah Nabi Ibrahim ‘alaihi salam meskipun banyak kesempitan dan perlakuan sewenang-wenang dan jahat yang dilakukan oleh zionis Yahudi untuk mengisolir dan mengusir mereka dari negeri mereka, negeri tempat hijrahnya Ibrahim ‘alaihi salam!
عن سالم بن عبد الله عن أبيه قال: قال رسول الله صلي الله عليه و سلم>:" ستخرج نارٌ في آخر الزمان من حضرموت تحشر الناس "، قلنا فماذا تأمرنا يا رسول الله؟ قال:" عليكم بالشام ".
Dari Salim bin Abdillah dari bapaknya, dia berkata, ”Rasulullah bersabda,” Pada akhir zaman akan keluar api dari Hadhramaut yang akan mengumpulkan manusia.” Kami berkata, ”Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami wahai Rasulullah! Beliau bersabda, ”Pergilah ke Syam.”
وعن أبي الدرداء أن رسول الله صلي الله عليه و سلم قال:" فسطاط المسلمين ـ أي مدينتهم ـ يوم الملحمة بالغوطة إلى جانب مدينة يُقال لها: دمشق؛ من خير مدائن الشام ".
Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Kota yang menjadi basis kaum muslimin pada hari terjadinya al malhamah (perang besar di akhir zaman) adalah di Ghauthah hingga sisi kota yang disebut dengan Damsyik (Damaskus) yang merupakan kota terbaik di Syam.”
وفي رواية عنه، قال: سمعت النبي صلي الله عليه و سلم يقول:" يوم الملحمة الكبرى، فسطاط المسلمين بأرض يُقال لها: الغوطة، فيها مدينة يُقال لها: دمشق؛ خير منازل المسلمين يومئذٍ ".
Dalam sebuah riwayat dari Abu Darda’ ia berkata, “ Aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Pada hari Al malhamah Al kubro, kota yang menjadi basis kaum muslimin di sebuah daerah yang disebut dengan Al Ghauthah, di dalamnya ada kota yang disebut dengan Damsyik ( Damaskus), yang merupakan posisi kaum muslimin yang terbaik pada saat itu.”
وقال>صلي الله عليه و سلم>:" إذا وقعت الملاحم بعث الله من دمشق بعثاً من الموالي أكرم العرب فرسْاً، وأجودهم سلاحاً يؤيد الله بهم الدين ".
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Jika terjadi berbagai perang besar (berbagai malhamah), Allah akan mengutus dari Damaskus utusan dari kalangan tokoh-tokoh Arab yang paling mahir berkuda dan paling menguasai senjata. Allah membela dien ini melalui mereka.”
وقال>صلي الله عليه و سلم>:" عقر دار المؤمنين بالشام ". أي مركزهم الذي يأوون إليه ـ عند الشدائد والمحن والفتن ـ هو بالشام!
Beliau juga bersabda, ”Pusat tempat tinggal kaum muslimin di Syam.”
Maksudnya adalah markas mereka yang menjadi tempat berlindung mereka ketika situasi sulit, penuh ujian dan fitnah adalah Syam.
Dari hadits – hadits ini dan yang lainnya, Syam termasuk bumi ribath hingga hari kiamat. Orang yang mukim di dalamnya – jika niatnya benar – baginya pahala seorang murabith di jalan Allah.
(note: seluruh hadits yang disebutkan di atas tadi isnadnya shahih atau hasan alhamdulillah. Hadits-hadits tersebut ditakhrij dalam kitab Fadhoilu Syam wa Dimasyqi karangan Ar Rib’I yang ditahqiq oleh Asy Syekh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albany rahimahullah.) sekian tulisan dari Syekh Abu Bashir hafidhahullah.
Sebagai tambahan, dalam buku berjudul Keutamaan Tinggal di Negeri Syam, Imam Al ‘Izz bin Abdissalâm mengatakan bahwa 10.000 shahabat pergi ke Syam karena rekomendasi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Penutup
Apabila ada kebenaran dalam tulisan ini maka itu murni karena rahmat dan fadhilah Allah Azza wa Jalla semata dan bila ada kesalahan dan penyimpangan maka itu dari kami dan dari setan. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.
lasdipo.com

MAIN MATA BARAT DAN IRAN DI BALIK KRISIS SURIAH



Apakah Barat (Amerika dan sekutunya, termasuk Rusia) bersungguh-sungguh ingin menyelesaikan konflik Suriah? Pertanyaan yang patut mengemuka, mengingat beberapa “upaya” dan statemen tokoh-tokoh Barat terkait upaya pengentasan krisis kemanusiaan di Suriah.
Pertanyaan mendasar yang dapat mengantar kepada jawaban atas pertanyaan di atas: apakah pihak yang bertanggung jawab terhadap jatuhnya korban ratusan ribu jiwa rakyat sipil di Irak, Afghanistan, Yaman, Somalia dan selainnya, serta yang menyokong jatuhnya korban nyawa di Palestina, kali ini mau perduli terhadap korban manusia di Suriah?

Jelas, pihak yang melakukan itu semua tidak mungkin bertindak dengan motif kemanusiaan membantu rakyat Suriah. Motif politik Barat satu-satunya dalam segala tindakannya adalah kepentingan. Tidak ada bedanya antara Barat, Rusia dan China. Walau hal tersebut tidak menutup kemungkinan timbulnya tekanan dalam negeri yang mendorong masing-masing negara untuk mengambil tindakan atas nama kemanusiaan, kendati tanpa sikap yang lugas.
Alasan yang mungkin benar-benar bisa mendorong Barat untuk mengambil tindakan serius terhadap krisis Suriah adalah ancaman terhadap kepentingannya. Dan itu bukan pada keberlangsungan rezim Bashar.
Bashar al Assad, sebagaimana Hafez al Assad, merupakan diktator yang inheren dengan kepentingan Barat di Timur Tengah. Itu terbukti sejak penyerahan dataran tinggi Golan tahun 1387 H/1967 M, hingga invasi ke Libanon serta dukungan terhadap kekuatan politik kanan, yang notabene sekutu Amerika serta Israel; melawan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan kekuatan politik kiri.
Suriah juga terlibat dalam Perang Teluk I, yang bergandengan tangan dengan Iran melawan Irak. Dalam konflik Irak-Kuwait, Suriah mendukung penuh perang Amerika terhadap Irak.
Selama satu dekade berikutnya, Bashar memberi kontribusi besar terhadap apa yang disebut sebagai “global war against terrorist”, sehingga dia mendapatkan “surat kelakuan baik” dari intelijen Amerika Serikat di era George W. Bush, serta mendapat support politik dari Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis pasca kasus Rafik Hariri.

Kesetiaan rezim al Assad kepada kepentingan Barat, khususnya Zionisme juga dibuktikan selama 40 tahun hubungan “harmonis” dengan Israel. Poin ini sangat sensitif dan krusial dalam konstalasi politik Timur Tengah. Sebab perbatasan Suriah dengan Israel merupakan perbatasan yang paling aman dan terkendali dari perbatasan Israel lainnya. Beda dengan perbatasan Israel-Mesir dan Israel-Urdun yang mengikuti dinamika pasang surut politik yang ada. Hafez al Assad, dan dilanjutkan putranya, Bashar tidak pernah sekalipun membentuk satuan atau organisasi untuk membebaskan dataran tinggi Golan.  
Segala upaya usang terkait keinginan Barat untuk membujuk Bashar agar mengubah sikapnya terhadap Iran, Hizbullah dan Hamas, tidak lebih merupakan permainan politik demi perebutan pengaruh antara Amerika dengan Iran di kawasan tersebut. Permainan politik yang sama sekali jauh dari konflik sesungguhnya, dimana masing-masing pihak berupaya untuk menegasikan pihak lainnya.

Amerika dan Iran hanya bermain di tataran politik agitatif, untuk berebut pengaruh. Sebab bila keduanya benar-benar terlibat konflik terbuka, niscaya permainan akan usai. Padahal, eksistensi Iran dengan retorika politiknya yang provokatif di kawasan merupakan satu manifestasi kepentingan Amerika.
Ancaman sesungguhnya bagi Amerika dan sekutunya adalah kekuatan Muslim Sunni. Ancaman ini setali tiga uang terhadap Rusia, yang tentunya masih ingat dengan kekalahannya yang memalukan di Afghanistan (1989). Rusia juga selama ini cukup dibuat repot oleh pejuang Chechnya, di samping potensi kebangkitan rakyat Islam di dalam negeri atau di republik-republik tetangganya.

Salah satu duri yang mencegah arus kebangkitan Islam Sunni tersebut adalah “bulan sabit Syiah”, yang membentang dari Iran, melewati Irak ke Suriah dan sampai ke Libanon. Semua paham bahwa moncong senjata yang benar-benar mengancam wajah Barat di Irak, Afghanistan dan Palestina adalah gerakan Sunni. Bahkan semua pergerakan perlawanan Islam terhadap hegemoni Barat dan Rusia merupakan pergerakan Sunni secara umum. Adapun Hizbullah, waktu telah membuktikan bahwa moncong senjatanya adalah order “tuan besar” yang mengontrol dari Teheran
Upaya keras Iran untuk menanamkan pengaruhnya di Timur Tengah menjadi ancaman serius bagi Dunia Islam Sunni. Sepanjang tiga dekade pasca revolusi Khomeini di tahun 1979, Iran beralih haluan strategi, dari defensif di era perang Iran-Irak (1980-1988), ke ofensif-agresif keluar dari batas-batas geografis Iran. Semangat revolusi Iran menjadi komoditi yang diekspor oleh negara.  
Iran menjadi pengendali arah politik di Irak via loyalisnya, pasca invasi Amerika. Iran juga mengeratkan hubungan dengan Bashar al Assad, yang politik luar negerinya bahkan lebih “jinak” kepada kepentingan Iran. Berbeda dengan Hafez al Assad sebelumnya yang cenderung menjaga posisi yang egaliter terhadap Iran.
Di Libanon, tak usah ditanya. Negeri Mullah  memiliki perpanjangan tangan yang loyal sepenuhnya terhadap kepentingan Teheran. Hizbullah adalah satu-satunya milisi yang secara legal dan di luar otoritas negara mempersenjatai diri, dari senjata ringan hingga berat. Di samping penetrasi loyalis Iran ke dalam lembaga-lembaga keamanan dan militer pemerintahan Najib Miqati.
Di semenanjung Arab, Iran punya agen politik di Bahrain yang sewaktu-waktu dapat digerakkan. Gerakan Houthi yang menguasai wilayah-wilayah di Yaman merepresentasikan perpanjangan tangan Teheran di negara selatan jazirah itu. Itu di luar partai-partai Syiah di Yaman yang disupport penuh dari Teheran.
Semua itu belum memasukkan “sel-sel tidur” Syiah di Saudi Arabia dan Kuwait, serta propaganda misionari agama Syiah yang aktif di Mesir, Sudan dan Maroko.

Bila fakta-fakta di atas ditambah dengan peran Iran di balik jatuhnya Afganistan dan Irak ke tangan Amerika dan sekutunya, tampak jelas signifikansi eksistensi Iran di wilayah Timur Tengah. Baik itu bagi Amerika dan sekutunya atau Rusia. Karena Iran, dalam konteks tersebut, menjadi pemain kunci lumpuhnya dunia Islam Sunni, potensi ancaman terbesar bagi kepentingan Amerika dan Barat.

Situasi yang memungkinkan Amerika dan sekutunya campur tangan terhadap penyelesaian konflik Suriah adalah ketika posisi rakyat Suriah dan kelompok oposisi menjadi sangat kuat. Jelang Bashar jatuh itulah, Barat akan menegaskan posisinya, untuk mengamankan kepentingannya sehingga jatuhnya Bashar tidak lepas sama sekali dari peran Barat. Setidaknya, demikianlah yang harus tampak bagi publik dunia.
Di sisi yang lain, krisis Suriah yang berkepanjangan secara tidak langsung mewujudkan agenda busuk Washington dan Tel Aviv. Sebab dampak dari perang semesta berkepanjangan itu adalah kehancuran pada seluruh institusi yang ada. Sehingga andaipun rakyat Sunni yang mayoritas dan oposisi yang mendukung revolusi yang keluar sebagai pemenang, hanya akan mewarisi infrastruktur yang lumpuh. Ketergantungan terhadap dunia luar menjadi tidak bisa dihindari.

Di lain pihak, bagi Barat dan Tel Aviv, kemenangan revolusi Suriah sudah pasti merupakan ancaman. Selain politik perbatasan Israel dengan Suriah yang sangat potensial berubah, juga kekhawatiran bahwa Arab Spring bisa bersatu dengan spirit perlawanan yang sama membendung imperialisme dan hegemoni Barat di Timur Tengah.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (Terj. QS. Yusuf/12: 21)

Albayan.co.uk

Ulama Gaza: Pembebasan Palestina Dan Syam Hanya Dengan Jihad Fisabilillah

Selasa, 16 Juli 2013

Terkait bantuan dan kampanye AS terhadap rakyat Gaza, menurut Syaikh Abdurrahman Al-Jamal hanyalah dusta belaka. Sudah sejak lama, Amerika berkoar akan memberikan bantuan kepada rakyat Palestina, namun itu semua hanya omong kosong belaka.

Kepada an-najah.net, anggota parlemen Gaza dan Direktur Darul Quran wa Sunnah di Gaza ini menyatakan Amerika juga telah melihat sikap tegas rakyat Gaza bahwa jalan yang mereka tempuh atas penindasan Israel hanyalah satu jalan, yaitu Jihad fi Sabiilillah.

“Biidznillah, dengan jalan jihad rakyat Palestina telah membebaskan Gaza pada tahun 2005, dan Insya Allah dengan jihad pula Palestina dan Bumi Syam akan terbebas dari cengkeraman musuh-musuh Islam,” ujar Syaikh Al-Jamal kepada wartawan media Islam seperti dilansir an-najah.net, Kamis (20/06) di bilangan Tebet, Jakarta.

Rakyat Gaza telah menyadari bahwa meskipun berada ditengah konspirasi zionis, bahkan kesulitan yang ditimpakan oleh banyak pihak kepada rakyat Gaza, mereka menyadari bahwa dalam perjuangan pembebasan Palestina, rakyat Gaza tidaklah sendirian.

“Kami berjuang bersama seluruh elemen umat Islam yang membantu rakyat Gaza secara moril maupun materil,” tutur Syaikh Al-jamal dengan santun.

Meskipun, bantuannya itu tidak bersifat formal atau kenegaraan, tetapi banyak kaum muslimin yang secara langsung mendukung perjuangan rakyat Palestina. (kiblat.net)


Syaikh Qardhawi: “Siapa yang Mampu Berjihad di Suriah, Berangkatlah!!!”

Ketua Asosiasi Persatuan Ulama Muslim Dunia, Syaikh Yusuf Qardawi mengecam Presiden Suriah Basyar Assad,  Hizbullah Libanon, Iran dan Rusia. Syaikh Qardhawi mengatakan, “Sesungguhnya kaum Syi’ah Alawi atau yang sering mengatas namakan An-Nushairiyah, mereka lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani.” Syaikh Qardhowi juga menyerukan kepada seluruh umat Islam di seluruh dunia untuk pergi ke kota Qushair Suriah untuk berjihad melawan Syi’ah Hizbullah. Ia juga menegaskan, kalau saja dirinya mampu dan memiliki kekuatan maka sungguh ia akan berangkat.
Dalam khutbah yang disampaikan di Ibukota Qatar, Doha, Syaikh Qardhawi menegaskan bahwa Suriah merupakan salah satu negara Arab pertama yang merdeka dan menerapkan sistem Republik, tapi ia juga termasuk negara Arab pertama yang menyaksikan kudeta militer. Karenanya, mantan Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser mendorong rakyat Suriah untuk memisahkan diri dengan alasan keamanan.
Syaikh Qardhawi menambahkan, setelah memisahkan diri pada tahun 1963 M, pemerintahan zhalim pun tumbang dan rakyat bisa bernafas lega serta kembali merasakan kebebasan. Akan tetapi, militer Suriah tidak membiarkan lama rakyat Suriah hidup bebas, hidup mereka berada di bawah bayang-bayang pengawasan. Hingga datanglah Hafidz al-Assad beserta kaum Syi’ah an-Nushairiyah. Syi’ah An-Nushairiyah itu lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Kami melihat mereka hari ini membantai puluhan ribu manusia seperti membantai tikus dan kucing.” Kemudian Assad naik menjadi Presiden dengan didukung oleh kaum Syi’ah an-Nushairiyah.
Salah satu bukti nyata dominasi Syi’ah, pemerintah Suriah seringkali berkoar-koar menyampaikan niatannya untuk membebaskan Palestina, akan tetapi ia tidak melakukan apa-apa. “Tidak satu pun peluru yang ditembakkan untuk melawan Israel,” jelas Syaikh Qardhawi.
Terkait presiden Suriah yang sekarang, Basyar Assad, Syaikh Qardhawi mengatakan, “Apa perbedaan Basyar dan Assad? Ia adalah pemberi peringatan yang buas lagi bengis. Ia berdiri melawan rakyatnya sendiri sejak hari pertama revolusi. Ia memintaku supaya mendukungnya dan juga meminta Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Meshaal. Tapi kami menolaknya.
Syaikh Qardhawi mengkategorikan bahwa Rusia, Iran dan Hizbullah adalah musuh umat Islam, khususnya Hizbullah Libanon yang telah mengumumkan ikut serta dalam peperangan di Suriah.
“Mereka adalah taghut, kelompok syetan. Mereka datang untuk memerangi penduduk Sunni di Qushair dan sekitarnya. Ribuan kaum Syi’ah mengaku sebagai pengikut Nasrullah. Siapa dia? Dia adalah penolong syetan. Mereka mengatakan, ‘Kami akan memerangi musuh-musuh pemberontak.’ Siapa yang dimaksud pemberontak?” tutur Syaikh Qardhawi.
Kemudian Syaikh Qardhawi menutup khutbahnya, “Saya menyeru umat Islam di mana pun berada untuk menolong saudara mereka. Sangat tidak masuk akal bila kita meninggalkan umat Islam dan membiarkan mereka (kaum Syi’ah) berdatangan untuk membantai umat Islam. Kalau saja saya memiliki kemampuan, sungguh aku akan berangkat berjihad bersama umat Islam. Siapa saja yang memiliki kemampuan untuk berperang dan bisa menggunakan senjata maka wajib untuk berjihad membela umat Islam. Saya serukan kepada seluruh umat Islam untuk berjihad bersama saudara-saudara mereka di Suriah. Sekali lagi, Siapa saja yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam peperangan maka hendaknya ia berupaya untuk berangkat semampunya. (kiblat.net)

Jihad Suriah Menurut Pandangan Ulama Kontemporer

Penderitaan rakyat Suriah, tidak hanya dirasakan oleh mereka sendiri. Di beberapa belahan Bumi, umat Islam memberikan dukungan moral maupun material kepada saudaranya di Suriah. Geliat peduli Suriah juga ada di Indonesia. Walau tidak segegap gempita di Timur Tengah.

HASI adalah salah satu lembaga sosial yang bergerak untuk umat Islam Suriah di Indonesia. Selain mengirim tenaga medis ke Suriah setiap bulan, HASI juga aktif mensosialisasikan tragedi Suriah ke masyarakat Indonesia. Tentu ada yang pro dan kontra saat sosialisasi Suriah.

Ada banyak ulama Indonesia yang mendukung sosialisasi Suriah. Bahkan diantara ulama tersebut menyerukan keharusan berjihad melawan rezim Syi’ah Nushairiyah. Salah satunya Ustadz Farid Ahmad Uqbah, pengasuh ma’had Ali al-Islam, Bekasi.

“Iran mati-matian membela rezim Basyar Asad. Bahkan rezim tersebut mendapat bantuan dana sekitar 5 milyar dolar untuk membantai muslim ahlusunnah di Suriah. Jadi, tak perlu ragu, yang membela rezim Basyar Asad adalah orang syiah,” ujar Ustad Farid dalam Tabligh Akbar dan penggalangan dana untuk Muslim Suriah di Masjid Al-Azhar, Ahad (4/11/12).

Anggota MIUMI ini menjelaskan, Syiah yang berkuasa di Suriah adalah Syiah Nushairiyah, yakni Syiah ekstrim dan kebatinan yang tidak mewajibkan shalat dan puasa. Sejak Iran menancapkan pengaruhnya di Suriah, aliran Syiah Itsna Asy’ariyah kini telah masuk dan bergabung dengan Syiah Nushairiyah.

Ketua MUI Pusat, K.H Kholil Ridwan, dalam wawancara via telepon dengan An-Najah pun menegaskan, bahwa umat Islam harus membantu saudara-saudaranya yang berjihad di Suriah.

“Konflik Suriah adalah peperangan antara Islam (sunni) dengan Syi’ah. Minoritas Nushairiyah mendzalimi mayoritas umat Islam sunni. Perjuangan sunni harus didukung, agar umat Islam di sana bisa hidup damai dan bebas beribadah.” Jelas Kiyai Kholil, (17/1/13).

Bila di Indonesia, para ulama masih banyak yang berdiam diri terkait jihad melawan Basyar Asad di Suriah, lain halnya di Timur Tengah yang tegas menyerukan jihad melawan Basyar Assad.

Syaikh DR. A’idh al-Qarni, salah seorang da’i kondang internasional, termasuk ulama yang terang-terangan menyerukan jihad melawan rezim Nushairiyah Basyar Asad yang dibeking oleh Iran dan Hizbullah Lebanon.

“Setiap orang yang memanggul senjata melawan Bashar Asad bukanlah seorang teroris. Justru ia adalah seorang mujahid di jalan Allah. Jika ia menang, maka ia mulia. Dan jika ia terbunuh, maka ia mati syahid.” Tulis Syaikh al-Qarni di halaman FB-nya.

Dosen senior Saudi Syaikh DR. Muhammad al-Arifi mempelopori terbentuknya forum ulama pembela Suriah. Da’i yang terkenal santun ini menyerukan seluruh umat Islam dimanapun mereka berada untuk berjihad melawan rezim Nushairiyah.

“Wajib bagi umat Islam yang mampu berjihad melawan pemerintah durjana Basyar Asad” Ujar beliau dalam salah satu khutbah jum’atnya.

Syaikh DR. Yusuf al-Qardhawi …tokoh moderat al-Azhar ini, bahkan berijtihad, jihad melawan rezim Nushairiyah adalah fardhu ‘ain.

Tercatat 107 ulama membuat pernyataan bersama mendukung pasukan oposisi tentara bebas Suriah dalam melawan rezim Assad, dan menyerukan rakyat Suriah untuk bergabung dengannya.

Para ulama tersebut juga menekankan tentang perlunya mendukung pejuang Suriah dengan semua apa yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menyelesaikan revolusi mereka dan bergerak untuk merebut kebebasan dan hak-hak mereka.

Mereka juga menyerukan negara-negara Arab dan Islam untuk mengambil posisi serius menentang rezim Presiden Bashar al-Assad, seperti pengusiran duta besar dan memotong semua bentuk hubungan dengan Assad dan negara yang mendukungnya, terutama Rusia dan Cina.

Di antara para penandatangan pernyataan termasuk Presiden persatuan ulama muslim internasional, Dr Yusuf al-Qaradhawi, Mufti Mesir, Syaikh Ali Jumaa, Rasyid Ghannouchi, Shadiq Ghariani, Abdul Majid al-Zindani –pendiri universitas al-Iman Yaman-, Aid Al-Qarni, Salman Al-Audah, Syaikh Muhammad Hassan –da’i kondang Mesir-, Ahmad Halil, Ali Shalaby –pakar sejarah Islam-, Nashir Sulaiman al-Umar, Abu Ishaq al-Huwaini dan puluhan ulama Muslim senior lainnya, (http://islamtoday.net/albasheer/artshow-12-162869.htm).

Salafi Pun Mewajibkan Jihad

Tidak ketinggalan para ulama’ yang ditokohkan oleh Salafi pun menfatawakan keharusan jihad melawan rezim Basyar Asad. Mereka menanggalkan syarat-syarat jihad yang digagasnya, seperti jihad harus seizing waliyul amri.

Syaikh Adnan al-Ur-ur adalah seorang tokoh salafi yang menghasung umat Islam untuk berjihad melawan rezim Basyar Asad. Hal ini beliau ungkapkan dalam beberapa kesempatan, salah satunya saat beliau tampil dalam sebuah acara dialog di stasiun Al-Aqsha TV pada Kamis malam (3/1/2013).

Hanya ulama Saudi yang tergabung dalam Hai’ah Kibaril Ulama’ saja yang menganggap berjihad di Suriah itu maksiat kepada Amir. Menurut Hai’ah, jika tidak mendapat restu pemerintah, seperti pemerintah Saudi, sekutu terdekat di Amerika di Timur Tengah, maka berjihad di sana hukumnya haram.

Dari kalangan jihadi, seperti Syaikh DR Aiman Adz-Dhawahiri, Syaikh Abu Bashier, Syaikh Abu ‘Ashim al-Madesi, telah menfatwakan wajib berjihad melawan penguasa Suriah. Dalam situs resminya, www.abubaseer.bizland.com , Syaikh Abu Bashier menjelaskan, jihad melawan penguasa Suriah adalah perang melawan kelompok murtad dan penjajah.

Syaikh Abu Basher yang pernah mendekam dalam penjara Hafidz Asad jauh sebelum revolusi telah menyerukan keharusan untuk berjihad melawan Basyar Asad dan Nushairiyah. Setelah mengasingkan diri ke beberapa Negara Asia dan Eropa, ulama jihadi ini akhirnya memutuskan diri untuk bergabung dengan pejuang Suriah melawan Basyar Asad.

Tahun 2000, Syaikh Abu Mush’ab As-Suuri, tokoh pergerakan Suriah yang melarikan diri ke luar negeri pada zaman Hafidz Asad ini, telah menulis buku khusus tentang Suriah. Dalam bukunya yang berjudul, “Ahlu As-Sunnah fi Asy-Syam fi Muwajahati An-Nushairiyyah wa Ash-Shalibiyyah, wal Yahud” (telah diterjemahkan oleh Jazeera Solo, Rezim Nushairiyah dan ) beliau menghasung umat Islam, khususnya di Suriah dan beberapa wilayah Syam lainnya untuk bangkit melawan rezim Nushairiyah.

Syaikh DR. Nabil Al-Audha pendiri situs emanway.com dan Syaikh DR. Hakim al-Mathiri pakar Hadits Kuwait, juga menfatwakan wajibnya jihad di Suriah.
Setidaknya ada dua alasan utama para ulama menfatwakan wajibnya jihad melawan rezim Nushairiyah Basyar Asad. Pertama, kelompok Nushairiyah dihukumi kelompok murtad dan zindiq, yang selalu menghina Islam, jadi memerangi mereka, sama hukumnya dengan memerangi orang-orang murtad dan zindiq. Kedua, kewajiban untuk membantu muslim yang terdzalimi, (Qs. 4: 75).*



Sumber: Majalah An-Najah Edisi Khusus, “BARA SURIAH, Kupas Tuntas Tanah Yang Dijanjikan.”

Tanda-tanda dari pertolongan Ar-Rahman dalam jihad Suriah


Ayaturrahman fie Jihadis Suriah (Tanda-tanda pertolongan Ar-Rahman dalam jihad Suriah)itulah kalimat yang sesuai untuk mengambarkan keberadaan “tentara” Alloh swt yang selalu siap siaga di bumi Syam, khususnya di Suriah. Mereka siap siaga untuk membantu mujahidin Suriah memenangkan pertempuran demi pertempuran.
Hendaknya umat islam di seluruh dunia memperhatikan bagaimana ayat-ayat Alloh ta’ala yang haq itu sedikit demi sedikit akan mendominasi warna-warni negeri yang dijanjikan itu, Bumi Syam yang penuh harapan dan pelita yang terang.
Adalah Shahabat Amru bin Al-Ash pernah menyemangati mujahidin pada permulaan peperangan Yarmuk, yang dilakukan oleh kaum muslimin di bumi Syam. Perang ini, kata Khalid bin Walid adalah perang yang sangat menentukan masa depan umat islam. Amru bin Al-Ash berkata,
“…Demi Alloh yang telah ridha dengan kejujuran dan akan memberinya ganjaran. Yang membenci dusta, serta akan memberikan hukuman atasnya. Demi Alloh yang memberikan kebaikan dengan kebaikan pula, aku telah mendengar bahwa kaum muslimin akan menaklukkan negeri ini (Syam). Wilayah demi wilayah dan benteng demi benteng. Maka janganlah kalian merasa gentar dengan jumlah kalian yang tidak sebanding dengan jumlah mereka…”
Walhamdulillah dan Mahabesar Alloh swt, peperangan Yarmuk yang diikuti mujahidin dengan jumlah 40.000 personel melawan tentara Raja Heraclius berjumlah 240.000 personel itu akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin dan memporak-porandakan pasukan kafir yang sombong dan congkak itu. (Al-Bidayah Wan-Nihayah, Syaikh Ibnu Katsir)
Wahai umat islam yang dirahmati Alloh swt, lihatlah pada hari ini, Alloh swt mempergulirkan kemenangan demi kemenangan untuk mujahidin. Dan Alloh swt menunjukkan keberpihakannya kepada kaum muslimin untuk memenangkan Suriah menuju tegaknya Kalimat Alloh swt.
Koordinator Tim Ketiga HASI, Abu Yahya, menceritakan kisah seorang mantan tentara Bashar Asad yang membelot dan bertaubat lalu bergabung dengan Mujahidin. Saat diwawancara, mengapa pasukan Asad yang berjumlah 1500 personel di Jabal Akhrod tidak berani melakukan serangan kepada Mujahidin Suriah yang hanya berjumlah 150 personel, padahal baik secara kekuatan (jumlah) maupun persenjataan, Mujahidin jauh kalah dibanding tentara Asad.
Dengan keheranan Mujahid yang baru bergabung itu malah bertanya, “Siapa bilang jumlah kalian sedikit? Kami setiap malam melihat kalian dengan pakaian putih-putih bergerak dari satu lembah ke lembah lain sehingga kami berpikir jumlah kalian begitu banyak dan menjadi pertimbangan kami untuk tidak lebih dulu menyerang.” Sebagaimana yang diutarakan Abu Yahya dalam presentasi Laporan Tim ke-3 HASI kepada Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS) di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, Selasa (11/12/2012).
Abu Yahya melanjutkan, bahwa suatu ketika mujahidin Suriah pernah mengadakan penyergapan terhadap konvoi 50 truk yang berisi tentara Bashar Asad. Akhirnya baku tembakpun tak terelakkan lagi. Tak berapa lama, mujahidin melihat helikopter dan pesawat tempur yang datang seperti ingin menyerang mereka, mengingat mujahidin sendiri tidak pernah memiliki pasukan tempur yang menggunakan pesawat.
Dengan perbandingan persenjataan yang tentu saja tidak imbang, komandan mujahidin memerintahkan untuk mundur dan mengatur siasat perang. Dengan cepat pasukan ditarik dan lokasi di sterilkan untuk evakuasi pasukan.
Dan Alloh swt adalah sebaik-baik penolong bagi siapa saja yang menolong dienNya. Setelah mujahdin tiba diatas gunung untuk berlindung dari pantauan pesawat tempur, suara baku tembak masih saja terus terjadi. Tembak menembak yang seharusnya terhenti, namun saat itu masih saja terdengar sengit oleh mujahidin yang menyaksikan pertempuran itu. Padahal seluruh personel terhitung lengkap, tidak ada yang tertinggal dan tidak kurang seorang pun.
Dengan keheranan komandan mujahidin bertanya-tanya dalam hati, siapa yang sebenarnya sedang melawan tentara Syiah Bashar Asad?
Hingga tiba saatnya matahari terbit keesokan harinya, dan setelah kondisi lapangan benar-benar aman, mujahidin pun turun. Namun, betapa mengherankannya ketika mereka melihat sebagian tentara Asad telah tewas dengan luka menganga. Sebagian lainnya mengalami luka berat layaknya baru menghadapi pertempuran hebat.
Allohu Akbar! Wal ‘Izzatu Lillah!
“Dan bukan kamu yang melempar (menembak) ketika kamu melempar, akan tetapi Alloh-lah yang melemparnya.” (Al-Anfal : 17)
Inilah salah satu janji Alloh swt kepada mujahidin dimanapun mereka berada. Kapan saja mereka mau bangkit untuk membela kehormatan Dienulloh dan kemuliaan hambaNya yang beriman, Alloh swt pasti menolong mereka.
“Dan Alloh benar-benar akan menolong siapa saja yang menolong dienNya, dan Alloh Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Hajj: 40)
Petolongan yang diperoleh saudara-saudara kita mujahidin Suriah ini, hanyalah sekelumit dari seabreg peristiwa penting dan penuh karomah. Alloh swt benar-benar meneguhkan mereka untuk tetap berada di jalan kebenaran dan jalan tempuh yang diridhaiNya. Sedangkan hal ini adalah salah satu realisai janjiNya kepada umat mulia ini, melalui firmanNya,
“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dien yang telah diridhaiNya untuk mereka…” (An-Nuur: 55)
Ingatlah wahai umat islam, sebagaimana janji Abu Bakar kepada kaum mukminin dan mujahidin, beliau berkata, “Sesungguhnya tidaklah umat mulia ini akan dikalahkan dengan banyaknya jumlah, namun ketahuilah, umat ini akan dikalahkan oleh sebab kemaksiatan yang mereka lakukan sendiri.”
Dan kemaksiatan terbesar yang dilakukan umat pada hari ini adalah membiarkan saudaranya dan dien Islamnya dihinakan oleh kaum kuffar yang dibenci oleh Alloh dan dibenci oleh seluruh MalaikatNya.[bw]
“…Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang sangat dekat. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman!” (Ash-Shaff: 13)
Wallohu a’lam.
Diolah dari: salam-online dengan beberapa tambahan.

Ketika jihad di Suriah sudah menjadi fardhu 'ain

Wahai singa-singa kaum muslimin persiapkan dirimu....kuatkan aqidahmu
Ketika saudara-saudaramu di Syam membutuhkan bantauanmu
Kaum muslimin yg menegakkan agama Allah Tabarakawataala ini  akan menang.

Allahu Akbar! Ulama Ahlus Sunnah Dunia Serukan Jihad ke Suriah

KAIRO (voa-islam.com) – Sejumlah ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah terkemuka dunia meyampaikan pernyataan sikapnya dalam muktamar Internasional Islamic Coordination Council (IICC) bertajuk “Sikap Ulama Umat Terhadap Konflik Suriah.”


Acara yang berlangsung di Kairo Mesir ini, diselenggarakan pada 4 Sya’ban 1434 H/13 Juni 2013 M dan dihadiri oleh lebih dari 500 tokoh dan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari 50 negara yang masing-masing berafiliasi kepada 65 organisasi dan yayasan Islam di dunia, seperti: IUMS (Persatuan Ulama Sedunia) dibawah pimpinan Dr. Yusuf Qarhdwi, Ittihad ‘Alami Lidhuat (Ikatan Dai Internasional) yang diketuai oleh Dr. Muhammad Al-‘Arifi, Rhabitah Ulama Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin) yang diketuai oleh Syaikh Al-Amin Al-Hajj, Rhabitah ‘Alam Islamy, Persatuan Internasional Ulama Al-Azhar, Ikatan Ulama Muslim Suriah dan lain sebagainya.

Berikut ini reportase ustadz Harman Tajang dari Wahdah Islamiyah sebagai salah satu dari tiga ulama Ahlus Sunnah yang mewakili Indonesia di forum tersebut.Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi, IUMS (Persatuan Ulama Sedunia):Dr. Yusuf Qardhawi mengklarifikasi  bahwa dirinya sejak awal mendukung perjuangan rakyat Suriah dalam meraih hak kebebasan sipilnya. Dan isu bahwa dirinya mendukung Bashar Al-Assad, Presiden Suriah, sama sekali tidaklah benar adanya. 

Qardhawi juga menyeru kepada seluruh tentara Suriah untuk menghentikan dukungannya terhadap Bashar Al-Assad dan bersatu memperjuangkan revolusi bersama rakyat Suriah.Qardhawi juga meminta negara-negara Arab agar tidak membiarkan konflik Suriah berlarut-larut dengan kondisi seperti saat ini. Ia mengkritik gerak negara-negara Arab yang lamban menangani masalah Suriah. Namun, Qardhawi yakin bahwa kelak akan ada perlawanan massal dari negara-negara Arab  melawan pemerintah Suriah yang kini telah bekerjasama dengan Hizbullah (baca; Hizbusysyaithan) partai Syaithan untuk membunuh secara sadis rakyat Suriah.

Apalagi sudah jelas secara terang-terangan mereka (Hizbullah) menganggap perang ini sebagai perang sektarian melawan umat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah. “Perang di Suriah sebagai perang terhadap umat Islam secara keseluruhan dan bukan saja terbatas pada rakyat Suriah,” jelas Qardhawi.Di akhir sambutannya, Qardhawi juga meminta PBB dan Dewan Keamanan Internasional serta dunia Barat agar mengambil sikap yang tegas kepada negara-negara yang jelas-jelas mempersenjatai pemerintah Suriah untuk membunuh kaum muslimin di sana. “Seharusnya dunia barat juga menegakkan kebebasan dan keadilan di Suriah,” pintanya.

Syaikh Dr. Muhammad Al-’Arifi, Ittihad ‘Alami Lidhuat (Ikatan Dai Internasional):Syaikh Al-’Arifi melancarkan kecaman dan kritis keras terhadap para pemimpin Arab, “Jika kalian sudah kehilangan harga diri dan kehormatan untuk membela saudara-saudara kita di Suriah, maka minimal kalian bebaskan rakyat Arab untuk bertindak membantu saudara-saudaranya di Suriah, dan kalian akan disiksa di kubur jika tidak membantu perjuangan rakyat Suriah saat ini,” tegas Al-’Arifi.“

Biarkanlah rakyat berangkat berjihad dengan senjata ke Suriah. Umat ini tidak akan pernah sabar atas aksi pembunuhan yang terus terjadi di Suriah secara membabi buta. Sebaliknya, umat ini akan merekrut para pemuda jihad dari setiap negara Islam untuk meraih kemenangan. Dan itu akan dimulai dengan jihad di tanah Syam,” ucapnya.

Ia pun dengan sangat tegas menyebut Bashar Al-Assad sebagai “Anjing” dalam baris-baris bait syair yang dibacakannya. Syaikh Al-‘Arifi juga mengingatkan bahwa terdapat sekitar 900 Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang pernah hidup di bumi Syam (Suriah).  Karena itu, anak-anak yang mati terbunuh, para perempuan yang diculik dan diperkosa adalah cucu-cucu para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Syaikh Dr. Shofwat Hijazi, Wakil Ketua Ikatan Ulama Ahlus Sunnah:Ia menegaskan bahwa  organisasi yang dipimpinnya akan mengirim brigade ( pasukan) jihad ke Suriah. Bahkan sebelumnya, sudah setahun lebih organisasi ini aktif mengirim senjata untuk membantu para mujahidin Sunni di Suriah. Harapannya agar langkah ini memicu  para pemimpin Arab dan organisasi-organisasi Islam lainnya untuk menempuh hal serupa.

Ia meminta agar negara-negara Arab mengusir para Dubes Suriah yang masih berada di negara-negara  mereka. Hijazi menilai bahwa pemerintah Bashar sebagai pemerintahan yang kafir.Syaikh Usamah Rifai, Ketua Ikatan Ulama Muslimin Suriah:Syaikh Usamah menyimpulkan  bahwa pada hakikatnya perang di Suriah dinahkodai oleh Iran (Syiah). Ambisi Iran di Suriah bukanlah akhir segalanya akan tetapi awal  untuk memuluskan proyek dan kepentingannya syiah di kawasan Timteng secara umum.

Syaikh Al-Amin El Hajj, Ketua Ikatan Ulama Muslimin:Konflik Suriah  adalah persoalan kaum Muslimin karena para mujahid yang berperang  melawan rezim Bashar di sana hakikatnya demi kepentingan Islam. “Jihad di Suriah hukumnya wajib bagi seluruh umat!”Dan yang paling penting dari sekedar memberi bantuan kepada saudara-saudara kita disana adalah kembali kepada Al-Quran dan Sunnah yang merupakan sebab utama kemenangan kaum muslimin dan berhati-hati dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan kebid’ahan yang merupakan sebab kehinaan dan kekalahan.

Lewat kesempatan ini pula Syekh Al-Amin secara khusus dan atas nama Rabithah Ulama Muslimin memfatwakan kewajiban berjihad di bumi Syam.Dr. Shalah Sultan, Sekjen Majlis ‘Ala Syuun Islamiyah Mesir:Ia menyampaikan segera akan direalisasikan tiga langkah kongkrit terkait konflik Suriah:Brigade Jihad dibawah  kepemimpinan Dr. Showfat Hijazi Brigade Bantuan Kemanusiaan dengan target mengumpulkan minimal satu Milyar Dolar AmerikaPerjuangan jalur politik dibawah kepemimpinan Dr.Yusuf Qardhawi.

Di sela-sela muktamar, ditayangkan film dokumenter bertajuk “Menyingkap Tabir Konflik Suriah.” Dalam film ini diperlihatkan sejumlah aksi brutal dan kekejaman tentara dan pasukan Bashar Al-Assad dalam membunuh kaum Muslimin Sunni di Suriah serta campur tangan Iran dan Hizbullah dalam tragedi tersebut.Seusai pembukaan muktamar para ulama mengikuti workshop (sidang komisi) untuk membicarakan lebih lanjut teknis terkait upaya bantuan atas konflik yang melanda kaum muslimin di Suriah. [http://myquran.org]

Kategori

LIPUTAN DAKWAH

More on this category »

AUDIO KAJIAN ISLAM

More on this category »

KONSPIRASI MUSUH ISLAM

More on this category »

HOT NEWS

More on this category »

ARTIKEL ISLAM

More on this category »

Translate