Jihadnya Seorang Sufyan Ats-Tsauri

Rabu, 17 Juli 2013

"JANGANLAH kalian mencintai kekuasaan, karena hal itu bisa membuatmu rendah. Seorang ulama tidak akan menghiraukan kekuasaan, kecuali yang telah menjadi makelar. Jika kekuasaan telah membuatmu senang, maka hilanglah jati dirimu. " 

Itulah di antara isi surat nasihat yang ditulis oleh seorang ulama hadits yang menjadi referensi utama di zamannya. Beliaulah Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi 'bin Abdillah, atau biasa dengan panggilan akrab beliau Sufyan Ats-Tsauri. 

Ketegasan ulama Kufah tahun 77 Hijriyah terhadap kezhaliman penguasa, membawanya ke sebuah pengungsi yang melelahkan. Meskipun, hal itu tidak membuatnya lalai untuk mencari hadits dan mengajarkannya kepada murid-murid yang ia bina. 

Hal yang membuatnya dikejar-kejar penguasa yang saat itu dijabat Al-Mahdi dimulai ketika sang raja mendatangi rumah Sufyan Ats-Tsauri. Al-Mahdi memberikan Ats-Tsauri sebuah cincin yang baru saja ia lepas dari jarinya. Dan tentu, cincin itu sangat berharga untuk orang kebanyakan, termasuk Sufyan Ats-Tsauri. 

"Wahai Abu Abdillah," ucap sang raja kepada Ats-Tsauri. "Ini adalah cincin kepunyaanku. Ambillah! Aku ingin engkau berkata kepada umat sesuai Quran dan Sunnah, "seraya sang raja melemparkan cincin itu kepada Ats-Tsauri. 

Cincin itu pun dipegang Ats-Tsauri. "Izinkan aku berbicara, wahai amirul mukminin," ucap ulama yang hadits periwayatannya selalu bernilai shahih. "Ada apa?" Ucap Al-Mahdi. "Apa aku akan aman jika berbicara?" Tanya Ats-Tsauri lagi. "Ya, kamu akan aman!" Jawab sang raja. 

"Wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau datang kepadaku, sehingga aku sendiri yang datang kepadamu. Dan janganlah kamu memberikan sesuatu kepadaku, sehingga aku yang meminta kepadamu! "Ucap Ats-Tsauri tanpa sedikit pun menampakkan rasa sungkan. 

Betapa marahnya sang raja Al-Mahdi dengan ucapan yang menghinakan seperti itu. Hampir saja, ia memukul Ats-Tsauri kalau saja tidak diingatkan seseorang dengan ucapan jaminan aman sebelum Ats-Tsauri mengungkapkan ketegasannya kepada sang raja. 

Orang-orang sudah berkumpul di sekitar rumah Sufyan Ats-Tsauri untuk melihat kondisi sang ulama. Mereka khawatir terjadi sesuatu. Dan betapa gembiranya mereka ketika Ats-Tsauri keluar dari rumah dengan aman. "Apakah Al-Mahdi mengatakan agar berbicara sesuai Quran dan Sunnah?" Tanya mereka kepada Ats-Tsauri. 

Dengan ringan, Sufyan Ats-Tsauri menjawab, "Jangan anggap serius ucapannya." Saat itulah, Sufyan Ats-Tsauri mengungsi. Ia melarikan diri ke Bashrah. 

Sebelum ke Bashrah, Ats-Tsauri pergi menuju Mekah. Al-Mahdi mengetahui keberadaan Ats-Tsauri, dan langsung mengutus seseorang untuk memerintah penguasa Mekkah, Muhammad bin Ibrahim untuk menangkap Ats-Tsauri. 

Tapi, penguasa Mekkah paham betul kalau Ats-Tsauri seorang ulama besar yang tidak mungkin berbuat salah hingga menjadi buronan. Ia mengutus seseorang untuk memberikan pesan khusus kepada Ats-Tsauri. Isinya, "Jika kamu ada kepentingan untuk menemui beberapa orang di Mekkah, hubungi aku untuk memberikan perlindungan. Dan jika tidak, sebaiknya sembunyi saja! "

Tetap saja, Ats-Tsauri menemukan beberapa ulama Mekkah untuk berdiskusi tentang hadits. Hingga keberadaannya di Mekkah dirasa sudah tidak aman lagi, Ats-Tsauri pun berangkat menuju Bashrah. 
Setibanya di Bashrah, beberapa ulama langsung menemuinya. Mereka mengkaji beberapa hadits dari Ats-Tsauri dan berdiskusi dengannya. Dan ketika keberadaannya di Bashrah juga dirasa sudah tidak aman, Ats-Tsauri pun pergi lagi menuju Baghdad. 

Begitu seterusnya, sampai ia akhirnya meninggal dunia di Bashrah, masih dalam suasana persembunyian. Ketika meninggal dunia, seorang ulama, Hammad bin Zaid, berkata, "Wahai Sufyan, aku tidak merasa iri dengan begitu banyaknya hadits yang kamu hafal. Tapi aku iri dengan amal shaleh yang telah kamu perbuat. " 

Beberapa nasihat Sufyan Ats-Tsauri yang masih dikenang oleh murid-muridnya. Antara lain, "Melihat wajah orang zhalim merupakan sebuah kesalahan. Siapa yang mendoakan kebaikan kepada orang zhalim, maka dia berarti senang berbuat durhaka kepada Allah. " 

Seorang murid Sufyan pun berkata, "Lalu, kepada siapa kami harus bergaul, wahai Syaikh?" Sufyan mengatakan, "Dengan orang-orang yang senantiasa mengingatkanmu untuk berdzikir kepada Allah, dengan orang-orang yang membuatmu gemar beramal untuk akhirat. Dan, dengan orang-orang yang akan menambah ilmumu ketika kamu berbicara kepadanya. " 

Surat yang disampaikan ulama yang selalu mengisi waktu antara Maghrib dan Isya atau Zhuhur dan Ashar dengan shalat sunnah ini pun memiliki sambungan. "Menurutku, sebaiknya kamu jangan mengundang para penguasa dan bergaul dengan mereka dalam suatu masalah. Takutlah dengan fitnah dari orang yang taat beribadah tapi seorang yang bodoh, dan fitnah orang yang memiliki banyak ilmu tapi tidak memiliki akhlak terpuji. " 

Sufyan Ats-Tsauri meninggal dunia di usia 84 tahun dan masih dalam suasana persembunyian. Ulama yang begitu wara 'ini pun meninggal dengan masih mengenakan sebuah pakaian yang banyak coretan peta. Sumber: Islampos

Kegigihan Ibnu Taimiyah Berjihad dengan Pena dan Pedang

Selasa, 16 Juli 2013

Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yang cukup produktif melahirkan karya. Ia juga dikenal mujahid. Nahi munkarnya tidak hanya dilakukan dengan lisan, tulisan tapi juga fisik. Pernah mengikuti peperangan melawan penjajah Tartar. Karya besarnya diselesaikan justru di saat ia mendekam di penjara.

Sejak kecil ia dibesarkan dilingkungan para ulama. Ayahnya Syihabuddin bin Taimiyah adalah seorang Syaikh, hakim, dan khatib. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah al-Harrani adalah seorang ulama yang menguasai fiqih, hadits, tafsir, ilmu ushul dan penghafal al-Qur’an (hafidz). Adik laki-laki Ibnu Taimiyah, syaraf ad-Din Abd Allah ibn Abd al-Halim, menjadi seorang ahli ilmu faraidh (waris). Ibnu Taimiyah lahir di Harran Turki tapi besar di Damaskus hingga menjadi seorang Syaikh di pusat negeri Syam ini. Beliau lahir pada 10 Rabiul Awwal tahun 661 H/ 22 Januari 1263.

Pada masa Ibnu Taimiyah berumur enam tahun, kota Baghdad dan sekitarnya mendapatkan serangan brutal dari tentara Tartar. Beberapa wilayah dinasti Abbasiyah porak-poranda. Padahal, Baghdad waktu itu menjadi pusat peradaban Islam. Karena situasi yang buruk, maka orang tua Ibnu Tamiyah membawanya ke kota Damaskus, yang relatif lebih aman serta baik lingkungan ilmunya. Ia hijrah bersama orang tua dan seluruh anggota keluarganya dengan membawa gerobak-gerobak yang berisi buku-buku warisan leluhurnya.

Perjalanan hijrahnya ke Damaskus cukup sulit. Tentara Tartar memusnahkan kitab-kitab umat Islam. Maka, keluarga Ibnu Taimiyah menyiasati menumpuk kitab-kitab yang diangkut dengan gerobak itu di bawah pasir. Untuk menyelamatkan kitab-kitab penting warisan leluhur.

Begitu menetap di Damaskus, ia bertemu dengan guru-guru besar bidang tafsir, hadis, fikih, akidah, nahwu dan lain sebagainya. Di kota ini, Ibnu Taimiyah masuk Perguruan Imam Hanbali yang didirikan oleh Abu Faraj Abdul Wahid al-Faqih Al-Hambali, seorang ulama dari madzhab Hanbali. Perguruan ini cukup terkenal di negeri Syam.

Dalam beberapa riwayat sejarah, pada masa itu kaum Muslimin mengalami berbagai krisis, baik politik maupun agama. Sekolah madzhab Hanbali menemukan momentumnya pada masa itu. Sekolah Abu Faraj, menjadi tujuan utama negeri Syam. Banyak pelajar yang haus tradisi keilmuan. Di lingkungan ini, Ibnu Taimiyah tumbuh dan mengembangkan keilmuan.

Ia mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali. Ia dikenal memiliki semangat pantang menyerah. Cukup sering Ibnu Taimiyah muda menghadiri majelis-majelis orang dewasa untuk mengambil ilmunya, tanpa rasa canggung.  Bahkan aktif berdiskusi di majelis itu bersama para guru-guru dan orang dewasa.
Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari kota Aleppo  yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, iapun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya”.

Selain mempelajari musnad Imam Ahmad, ia mengkaji kitab kutubus sittah dan mu’jam al-tabrani al-kabir. Kecenderungannya ia fokus di ilmu hadis dan akidah. Ketia usianya 19 tahun ia telah diberi izin gurunya untuk memberi fatwa. Semenjak itulah ia menjadi terkenal dan menjadi pusat perhatian para pengikut madzhab Hanbali. Dan karya-karyanya mulai ia tulis sejak usia muda ini. Diceritakan, sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari’ah. Ibnu Wardi menuturkan dalam Tarikh Ibnul Wardi bahwa karangannya mencapai lima ratus judul. Yang paling terkenal adalah Majmu’ al-Fatawa.

Karya-karyanya juga ia tulis di sela-sela ia berjihad. Ia pernah mempimpin sebuah pasukan melawan tentara Tartar yang ketika itu tentara penjajah asal Mongolia hendak memasuki kota Damaskus. Ia memang memiliki kepribadian keras, pantang menyerah dan kuat memegang satu prinsip. Pada tahun 1299 M, kota Syakab, dekat Damaskus, diserang tentara Mongol. Dalam pertempuran itu, Ibnu Taimiyah dan pasukannya berhasil memenangkan perang. Pada Februari 1313 M, beliau juga bertempur di kota Jerussalem melawan tentara Kristen dan mendapat kemenangan.
Ia pernah dipenjara. Di balik jeruji besi ini ia menyelesaikan sebuah karya. Justru di penjara Ibnu Tamiyah merasa memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menulis karya. Namun, di masa akhir usianya ia juga dipenjara. Di masa ini ia tidak memiliki kesempatan untuk menulis kitab. Sebab seluruh pena, tinta, kertas dan buku dirampas aparat. Akhirnya, ia tidak bisa lagi membaca dan menulis buku. Gelarnya adalah Syaikhul Islam diberikan para umat Damaskus karena ia menjadi guru besar para kaum Muslimin di negeri Syam

Di penjara ia sampai wafat di dalam tahanan Qol’a Damaskus. Muridnya, Ibnu Qoyyim, mengkisahkan bahwa Ibnu Tamiyah meninggal di saat membaca al-Qur’an surat al-Qomar. Ia berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Ia wafat pada tanggal 20 DzulHijjah tahun 728 H, dan dimakambkan pada waktu ashar di samping makam saudaranya Syaikh Jamal al-Islam Syarafuddin.

Meski ia dimusuhi pemerintah, namun jenazahnya  disalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah salat Zhuhur dihadiri para pejabat pemerintah, ulama, tentara serta para penduduk. Konon, panjang iring-iringan pengantar jenazahnya melebihi pengiring jenazah Imam Ahmad bin Hanbal.

(bumisyam)

Ibnu Katsir: Mufassir yang Unggul di Bidang Hadis

Kitab tafsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim karya Syaikh Ibnu Katsir telah menjadi rujukan penting para pengkaji ilmu al-Qur’an hingga saat ini. Kekuatannya terletak pada penjelasannya yang dilengkapi dengan hadis-hadis dan riwayat-riwayat  yang masyhur.

Ia sangat ketat menyeleksi riwayat-riwayat yang diragukan kesahihannya.
Metode memaparkan penjelasannya dengan   penafsiran al-Quran dengan al-Quran (tafsirul Qur’an bil Qur’an), penafsiran al-Quran dengan hadis (tafsirul Qur’an bil Hadits), dengan pendapat para ulama salaf yang saleh dari kalangan para sahabat dan tabi’in (generasi setelah sahabat), dan dengan konsep-konsep bahasa Arab. Tafsirnya dikenal terbaik pada masanya.

Syaikh Ibnu Katsir adalah mufassir kenamaan yang lahir di negeri Syam. Nama aslinya Ismail bin Umar bin Katsir al-Dimasyqi al-Syafi’i. ‘Katsir’ sebenarnya nama kakeknya bukan nama Ayahnya. Tapi ia terkenal dengan Ibnu Katsir, dinisbatkan kepada kakeknya. Dilahirkan pada tahun 701 H/1301 M di Bushro, sebuah daerah di wilayah negeri Syam.

Ayahnya adalah seorang ulama’ di daerahnya. Menjadi khatib di Masjid tempat kelahirannya. Ketika masih berumur dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Saudaranya yang bernama Kamaluddin Abdul Wahab yang mengasuhnya hingga ia menuntut ilmu di kota Damaskus. Pada umur tujuh tahun ia pindah ke Damaskus bersama saudara lelakinya untuk mencari guru.

Di Damaskus, Ibnu Katsir  banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Imam al-Dzahabi. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Oleh Syaikh al-Mizzi, Ibnu Katsir diambil menantu.

Kota Damaskus pada waktu itu menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan. Kota ini menjadi pusat perhatian para pencari ilmu dan ulama. Banyak sekali ulama’ yang memiliki otoritas tinggi yang mengajar di kota Damaskus. Di sinilah Ibnu Katsir mendalami ilmu agama. Saudara laki-lakinya, Abdul Wahab, setia mendampingi Ibnu Katsir belajar. Ia sudah seperti ayahnya sendiri, menghidupi dan mengajari. Abdul Wahab merupakan guru pertamanya Ibnu Katsir, sebelum Ibnu Katsir belajar ilmu agama kepada para Syaikh.

Di Damaskus inilah Ibnu Katsir tumbuh besar hingga menjadi ulama’. Beliau juga menjadi guru besar di Masjid Umayyah Damaskus. Selain tafsir, ia juga menulis kitab-kitab fikih, hadis dan sejarah. Di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan lain-lain.

Fikihnya mengikuti Imam al-Syafi’i. Ia melahirkan sejumlah murid yang meneruskan perjuangannya. Di antaranya Sa’duddin al-Nawawiy, Syihabuddin bin Haijjiy, Ibnu Jazariy, dan Imam al-Zarkasyi.

Para murid dan ulama’ Damaskus mengenal Ibnu Katsir sebagai ilmuan yang memiliki kelebihan menghafal dengan kuat. Salah satu muridnya, Ibnu Hijjiy mengatakan : “Ibnu Katsir adalah orang yang paling kuat hafalan hadisnya yang saya kenal. Paling tahu tentang ilmu Jarh wa Ta’dil dan kesahihan sebuah hadis”.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan hadits, menelaah matan-matan dan perawinya, ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Ia juga terkenal ahli mengungkapkan dan mengolah  berbagai macam materi dari sejumlah teks menjadi buah karya yang orisinil. Teks-teks kitab dari berbagai macam ilmu ia hafal di luar kepala. Kemudia dituangkan dalam bentuk tulisan, bukan sekedar memindah tapi mengolahknya menjadi karya yang berbobot, dan memiliki kekhasan.

Ilmu yang menjadi perhatian adalah tafsir dan hadis. Ia dikenal sangat hati-hati mengeluarkan hadis. Sehingga kitab hadisnya unggul di bidang kekuatan hadisnya. menghindarkan pengulangan, memperbaiki penjelasan, menjauhkan hadis-hadis dhaif (lemah) dan maudhu’, serta menghapus kisah-kisah Israiliyat (bersumber dari Yahudi dan diragukan kebenarannya). Di samping itu, juga membersihkan konsep-konsep yang berbau khurafat, menjelaskan pembahasan sekaligus tujuannya melalui beberapa ulasan yang menonjolkan akidah. Karena itu Tafsir Ibnu Katsir disebut-sebut sebagai yang terbaik di antara tafsir yang ada pada zaman ini.

Ibnu Katsir mengingatkan agar hati-hati menggunakan kisah israiliyyat dan riwayat-riwayat lemah dalam menafsirkan al-Qur’an. Kadang beliau juga menngutip kisah yang tidak bermasalah karena sudah masuk dalam riwayat-riwayat Islam. Dan beliau juga menjelaskan tentang israiliyyat yang tidak bisa dipercaya. Kehati-hatian menerima riwayat ini karena beliau memang pakar hadis yang cukup selektif. Ilmu ini ia peroleh dari gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ia belajar kepada Ibnu Taimiyah bersama Ibnu Qoyyim dan al-Dzahabi.

Karakter lainnya dari Tafsir Ibnu Katsir adalah tafsirnya juga dilengkapi penjelasan hukum-hukum fikih dengan menyebut dalil para ulama’, mendasarkan kepada kaidah bahasa Arab dan Syair, menyebutkan pemikiran tokoh-tokoh ahli hadis dan ahli-ahli lainnya.

Pada tahun 774 H/1373 M Ibnu Katsir meninggal dunia di usia 74 tahun pada hari Kamis 26 bulan Sya’ban di Damaskus. Berdasarkan wasiatnya ia dimakamkan didekat makam gurunya Syaikh Ibnu Taimiyah.

(bumisyam.com)

Izzuddin Abdis Salam, Mulya di Mata Ulama’ Karena Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Izzuddin Abdis Salam merupakan ahli fiqih (fuqaha’) dari madzhab Syafi’i yang terkenal wara’, tawadhu’ dan zuhud. Namun, sikap tawaddu’nya tidak mengurangi sama sekali keberaniannya mengkritik kekeliruan seorang Raja. Syaikh Izzuddin pernah mempin kaum Muslimin Damaskus menentang kolonialisme bangsa asing. Ia bergelar Sulthan al-Ulama’ (pemuka para ulama’).

Nama lengkap Syaikh Izzuddin adalah Abu Muhammad Izzuddin Abdul Aziz bin Abdis Salam bin Abu al-Qasim bin al-Hasan bin Humman al-Salami al-Dimasyqi al-Syafi’i. Dilahirkan di Damaskus pada tahun 577 H. Riwayat lain menyebutkan beliau lahir pada tahun 578 H.

“Izzuddin” (kemuliaan agama) merupakan gelar yang diberikan beliau berkat kepakarannya dalam agama. Beliau juga disebut Sulthan al-Ulama (pemuka para ulama’). Gelar ini diberikan oleh muridnya, Ibnu Daqiq al-‘Id sebagai bentuk penghargaan atas atas kerja keras beliau menjaga reputasi para ulama pada masanya. Usaha itu diimplementasikan dalam sikap-sikapnya yang tegas dengan memimpin para ulama melawan  kediktatoran.

Beliau berguru kepada sejumlah guru besar. Ia berguru kepada Syaikh Fahruddin bin Asakir, belajar ushul dari Syaikh Saifuddin al-Amidi, belajar hadits dari al-Hafizh Abu Muhammad al-Qasim dan al-Hafizh al-Kabir Abu al-Qasim bin Asakir. Ia juga menimba ilmu dari Barakat bin Ibrahim al-Kasyu’i, al-Qadhi Abdusshamad bin Muhammad al-Harastani, dan lain-lain.

Kepakarannya dalam ilmu fiqih, hadis, ushul fiqih, balaghah, tafsir dan lain-lain mengantarkanya sebagai ulama yang disegani di Damaskus. Beberap ulama’ lain di Damaskus menyebut bahwa Syaikh Izzuddin telah mencapai derajat mujtahid.

Di antara karya-karya terkenalnya adalah; al Qawa’id al Kubra, al Qawa’id al Shugra, Mukhtashar Shahih Muslim, al Fatawa al Mishriyah, Bidayah al Suul fii Tafdhil al Rasul, Maqashid al Ri’ayah. Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebetulnya Syaikh Izzuddin juga pakar di bidang tafsir. Padahal, beliau menulis beberapa kitab tafsir di antaranya al-Kamil fi Tafsir al-Qur’an, al-Naktu wa al-‘Uyun Mukhtashar Tafsir al-Mawardi, Fawa’id fi Musykil al-Qur’an dan al-Isyarah Ila al-Ijaz fi Ba’di Anwa’ al-Majaz. Di antara karya-karya lainnya adalah:
  1. Al-Qawaid Al-Kubro
  2. Al-Qawaid As-Shughra
  3. Qawaidhul Ahkam fi Masalihil Anam
  4. Al-Imamah fi Adillatil Ahkam
  5. Al-Fatawa Al-Misriyah
  6. Al-Fatawa Al-Maushuliyah
  7. Majaz Al-Qur’an
  8. Syajarah Al-Ma’arif
  9. At-Tafsir
  10. Al-Ghayah fi Ikhtishar An-Nihayah
  11.  Mukhtasar Shahih Muslim
Selama beberapa tahun ia menjabat qadhi (hakim) di kota Damaskus. Namun, karena tidak sejalan dengan penguasa di kota itu. Selama menjadi hakim, khatib dan mufti, ia dikenal dengan kepribadiannya yang apa adanya. Jika sesuatu tidak sesuai dengan hukum Islam ia tolak mentah-mentah.

Beliau pernah terlibat konflik dengan penguasa. Seorang Gubernur bernama Shalih Ismail pada tahun 608 bekerja sama dengan tentara Salib. Tentara Salib menginginkan membeli senjata. Keputusan  ini tidak diterima para ulama’ dan ditentang habis. Para ulama Damaskus dengan dipimpin Izuddin bin Abdussalam berfatwa atas keharaman menjual senjata kepada orang salib.

Yang juga membuat kecewa kaum Muslimin Damaskus adalah Gubernur ternyata menyerahkan beberapa penteng kaum Muslimin kepada tentara Salib. Padahal, kaum Salibis mempunyai rencana jahat untuk merebut Damaskus.
Syaikh menunjukkan sikap penentangannya terhadap keputusan Gubernur ini. Di khutbah-khutbahnya ia menyuarakan sikap boikot. Ketika Gubernur tahu sikap penentangan Syaikh Izzudin, maka Gubernuh mecopot jabatannya sebagai khatib di Masjid Umawi dan Qodhi Damaskus. Gubernur memberlakukan tahanan rumah kepadanya. Ia dilarang keluar rumah, memberi fatwa dan berkhotbah.

Akhirnya, ia memutuskan untuk hijrah ke Mesir secara diam-diam. Ternyata, gelagatnya diketahui Gubernur. Gubernur Ismail menawarkan perdamaian. Salah seorang utusan Gubernur menemui beliau, lalu mengatakan; “”Yang kami harapkan darimu cumalah merendah di hadapan raja dan mencium tangannya”. Syaikh Izzuddin menjawab, “Alangkah kasihannya dia, saya tidak rela dia mencium tanganku apalagi saya mencium tangannya. Wahai kaum, kamu ada di satu jurang dan saya di jurang yang lain, puji bagi Allah yang telah membebaskan kita dari cobaan yang ditimpakan kepada kalian.

Begitulah keberanian Syaikh Izzudin kepada penguasa yang dzalim. Beliau akhirnya berhasil sampai di Mesir. Di Mesir ia disambut oleh sultan Najmuddin bin Ayyub. Beliau menyambut dengan penuh kemuliaan dan mengangkatnya sebagai Qadli dan Khatib Mesir. Belum beberapa lama beliau sudah berselisih dengan para pembesar dan penguasa Mesir. Akan tetapi beliau tidak tunduk dan tidak takut komentar jelek dalam hal kebenaran.

Di Mesir, Syaikh Izzuddin mendapat kedudukan agung di mata kaum Muslimin. Ia mengajar ilmu tafsir, menyebarkan ilmu, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Beliau tinggal di Mesir cukup lama, selama 20 tahun. Selama itu pula, beliau tidak berhenti memberantas bid’ah.

Suatu ketika seorang pegawai istana yang bernama Fakhruddin Utsman ingin mendirikan tempat hiburan musik di belakang salah satu masjid di Kairo. Setelah tempat hiburan itu berdiri rupanya penduduk sekitar tidak senang dengan suara genderang apalagi berseberangan dengan masjid. Ketika permasalahan ini sampai ke Syaikh Izzuddin, beliau memberi putusan untuk menghancurkan bangunan tempat hiburan tadi dan menghukum Fakhruddin. Syaikh Izzuddi wafat pada tahun 660 di Kairo Mesir.

Syaikh Izzuddin juga berjiwa besar. Jika terdapat kesalahan dalam dirinya, tidak segan malu beliau mengakuinya. Suatu ketika Syekh Izzuddin bin Abdissalam berfatwa. Setelah menimbang-nimbang ia merasa ada kesalahan dalam fatwanya itu. Maka ia berkeliling ke seantero Mesir dan mengatakan : “Barangsiapa yang diberikan fatwa oleh Ibnu Abdissalam dalam masalah ini ini maka jangan dilakukan karena fatwa itu salah.
 (bumisyam.com)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Uswah dan Gurunya Para Ulama Salaf

Dari tangan Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah lahir ulama-ulama kenamaan dari berbagai madzhab di negeri Syam, baik Syafi’iyyah maupun dari Hanbaliyyah. Ia juga terkenal produktif menulis buku. Tercatat, ada sekitar 41 buah karya kitab dari berbagai disiplin ilmu telah ia tulis selama hidupnya. Karena itu, ia dijuluki “kamus ilmu pengetahuan”.


Dia dilahirkan pada tanggal 7 Shafar tahun 691 H. Di perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damaskus. Ayahnya adalah seorang kepala Madrasah al-Jauziyyah, sebuah Madrasah  yang didirikan oleh Syaikh oleh Muhyiddin Abu al-Mahasin Yusuf bin Abdil Rahman bin Ali al-Jauzi. Nama al-Jauziyah adalah nisbat kepada madrasah yang dikelola oleh ayahnhya.

Beliau adalah ahli fikih bermadzhab Hanbali. Disamping itu juga seorang ahli tafsir, ahli hadits, penghafal al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid dari madzhab Hanbali. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri, Syaikh Abu Bakar al-Jauzi, ulama yang ahli fikih dan ilmu faraidh.

Guru utamanya adalah Syaikh Ibnu Taimiyah, dimana ia beberapa tahun bermulazamah dengannya. Sejak tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H.  Pada masa itu, Ibnul Qayyim sedang pada awal masa-masa mudanya. Oleh karenanya beliau sempat betul-betul mereguk sumber mata ilmunya yang luas. Beliau dengarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan.

Dia tidak hanya pakar fikih Hanbali tapi juga ahli tafsir, hadis, kalam, tasawwuf dan sastra Arab. Seorang muridnya, Ibnu Rajab, berkomentar: “Dia pakar dalam tafsir  tak tertandingi, ahli dalam bidang ushuluddin dan ilmu ini mencapai puncak di tangannya, ahli dalam fikih dan ushul fikih, ahli dalam bidang bahasa Arab dan memiliki kontribusi besar di dalamnya, ahli dalam bidang ilmu kalam, dan juga ahli dalam bidang tasawuf. Ibnu Katsir berkata, “Dia mempelajari hadits dan sibuk dengan ilmu. Dia menguasai berbagai cabang ilmu, utamanya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushuluddin, dan ushul fikih”.

Burhanuddin al-Zar’i mengatakan bahwa tidak ada di bawah ufuk bumi ini yang lebih luas ilmunya daripada Ibnu al-Qayyim . Dia telah menulis dengan tangannya karya-karya yang tak dapat digambarkan dan menyusun sejumlah karangan yang banyak sekali tentang berbagai ilmu.

Ia menjadi teladan baik untuk para ulama karena cukup produktif menulis. Ada sekitar 41 karya kitab yang telah ia tulis. Di antaranya:

Tahdzib Sunan Abi Daud, I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I’ul Fawa’id Amtsalul Qur’an, Buthlanul Kimiya’ min Arba’ina wajhan, Bayan ad-Dalil ’ala istighna’il Musabaqah ‘an at-Tahlil, At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, At-Tahrir fi maa yahillu wa yahrum minal haris, Safrul Hijratain wa babus Sa’adatain, Madarijus Salikin baina manazil Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in, Aqdu Muhkamil Ahya’ baina al-Kalimit Thayyib wal Amais Shalih al-Marfu’ ila Rabbis Sama’, Syarhu Asma’il Kitabil Aziz, Zaadul Ma’ad fi Hadyi Kairul Ibad, Zaadul Musafirin ila Manazil as-Su’ada’ fi Hadyi Khatamil Anbiya’, Jala’ul Afham fi dzkris shalati ‘ala khairil Am, Ash-Shawa’iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyah wal Mu’aththilah, Asy-Syafiyatul Kafiyah fil Intishar lil firqatin Najiyah, Naqdul Manqul wal Muhakkil Mumayyiz bainal Mardud wal Maqbul, Hadi al-Arwah ila biladil Arrah, Nuz-hatul Musytaqin wa raudlatul Muhibbin, al-Jawabul Kafi Li man sa`ala ’anid Dawa`is Syafi, Tuhfatul Wadud bi Ahkamil Maulud,Miftah daris Sa’adah, Ijtima’ul Juyusy al-Islamiyah ‘ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu’aththilah, Raf’ul Yadain fish Shalah, Nikahul Muharram, Kitab tafdlil Makkah ‘Ala al-Madinah, Fadl-lul Ilmi, ‘Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin, al-Kaba’ir, Hukmu Tarikis Shalah, Al-Kalimut Thayyib, Al-Fathul Muqaddas, At-Tuhfatul Makkiyyah, Syarhul Asma il Husna, Al-Masa`il ath-Tharablusiyyah, Ash-Shirath al-Mustaqim fi Ahkami Ahlil Jahim, Al-Farqu bainal Khullah wal Mahabbah wa Munadhorotul Khalil li qaumihi,  Ath-Thuruqul Hikamiyyah.

Meski Syaik Ibnu Qayyim bermadzhab Hanbali, namun para muridnya ternyata ada yang dari madzhab Syafi’i. hal ini menunjukkan tradisi para ulama dahulu yang tidak egois dan fanatik dalam madzhab. Yang hebat, para muridnya banyak yang menjadi ulama terkenal, seperti Ibnu Katsir, seorang imam hafizh yang terkenal yang terkenal dengan kitab tafsirnya. Selain Ibnu Katsir, di antaranya adalah:
  1. Ibnu Rajab. Dia adalah Abdurrahman Zainuddin Abu al-Faraj bin Ahmad bin Abdurrahman yang biasa digelar dengan Rajab al-Hanbali. Dia memiliki beberapa karangan yang bermanfaat.
  2. Syarafuddin Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dia adalah putra Abdullah bin Muhammad. Dia sangat brilian. Dia mengambil alih pengajaran setelah ayahnya wafat di ash- Shadriyah.
  3. As-Subki. Dia adalah Ali Abdulkafi bin Ali bin Tammam as-Subki Taqiyuddin Abu al-Hasan.
  4. Adz-Dzahabi. Dia adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Usman bin Qayimaz adz- Dzahabi at-Turkmani asy-Syafi’i. Dia adalah seorang imam, hafizh yang memiliki banyak karangan dalam hadits dan Iain-lain.
  5. Ibnu Abdulhadi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah bin Ahmad bin Abdulhadi al-Hanbali. Dia adalah seorang hafizh yang kritis.
  6. An-Nablisi. Dia adalah Muhammad Syamsuddin Abu Abdullah an-Nablisi al- Hanbali. Dia mempunyai beberapa karangan, di antaranya kitab Mukhtashar Thabaqat al-Hanabilah.
  7.  Al-Ghazi. Dia adalah Muhammad bin al-Khudhari al-Ghazi asy-Syafi’i. Nasabnya sampai kepada Shahabat Zubair bin Awwam r.a.
  8. Al-Fairuzabadi. Dia adalah Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi asy-Syafi’i. Dia pengarang sebuah kamus dan karangan-karangan lain yang baik.
Ibnul Qayyim meninggal dunia pada waktu isya’ tanggal 13 Rajab 751 H. Ia dishalatkan di Mesjid Jami’ Al-Umawi dan setelah itu di Masjid Jami’ Jarrah; kemudian dikuburkan di Pekuburan Babush Shagir.Bumi Syam 

Salahuddin al Ayyubi Pahlawan Seratus Medan Pertempuran


Shalahuddin Al Ayyubi, Pahlawan Islam dari Seratus Medan Pertempuran (1137 – 1193 Masehi)

SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.

Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui “Siratun Nabawiyah”. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.

Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris.

Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.

Seorang penulis Barat berkata, “Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin”.
“Setiap cara dan jalan ditempuh”, kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.

Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu orang. Setelah mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah yang tandus.

“Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta menggeletar” demikian tulis pengarang Perancis Michaud.
Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui” kata Marbaid.

Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill “terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.

Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.

John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis: “Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk “Kutub Khanah” (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. “Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga,” kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.

Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani Eropa.

Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?
Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud.
Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167 Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud “memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai ringgi.”

Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai berikut: “Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda”.

Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.

Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.

Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.

Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali kota itu.

Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi, kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat.

Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli sejarah Perancis Michaud: “Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan.” Berlawanan dengan syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.
Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Sultan yang berhati mulia itu.

Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya.

Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman. Jerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara-menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat. mengulangl lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu itu yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri. Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa “di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.”

Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan keganasan. “Semua tawanan” kata Michaud, “yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat.”

Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.

Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula: “Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Rakyat yang ditaklukkan oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih. Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan.”

Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.

Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan diberikannya pula kemudian alat pengangkutan. Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: “Tuan saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan negeri ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup kami. Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami. Bilamana Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup.”

Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem dalam tangan tentara Salib satu abad sebe1umnya. Para komandan pasukan tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada tentara Salib yang telah dikalahkan itu.

Para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat perlindungan oleh kota-kota yang dikuasai kaum Nasrani. “Banyak kaum Nasrani yang meninggalkan Jerusalem,” kata Mill, pergi menuju Antioch, tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan perlindungan kepada mcreka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana dengan baik. Michaud mcmberikan keterangan yang panjang lebar tentang sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari pengungsi ini, kata Michaud. “Seorang wanita karena putus asa melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya,” kata Michaud. Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.

Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais.
Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan meninggalkan korban yang cukup besar.

Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000 emas kepada pimpinan pasukan Salib. Karena kelambatan dalam suatu penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lionheart menyuruh membunuh kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin.

Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati Sultan Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum Muslimin yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk sepanjang 150 mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan pukulan-pukulan yang berat terhadap tentara Salib.
Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan damai yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak terbatas serta menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan terhadap orang yang demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi dibuatlah perjanjian perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah suci dengan ransel dengan barang-barangnya kembali menuju Eropa.

“Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu” tulis Michaud “di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya tidak lebih dari seratus ribu orang. Dapatlah dipahami mengapa Eropa dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan. Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam pertempuran ini.

Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi serta masjid-masjid di seluruh daerah yang diperintahnya.

Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Maret tahun 1193. “Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin” demikian tulis seorang penulis Islam. Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan.

Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran. Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam serta dengan penuh kebajikan. “Di Eropa” tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.
Semoga Allah melapangkan kuburnya.

Kegigihan Ibnu Taimiyah Berjihad dengan Pena dan Pedang

Senin, 15 Juli 2013



Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yang cukup produktif melahirkan karya. Ia juga dikenal mujahid. Nahi munkarnya tidak hanya dilakukan dengan lisan, tulisan tapi juga fisik. Pernah mengikuti peperangan melawan penjajah Tartar. Karya besarnya diselesaikan justru di saat ia mendekam di penjara.

Sejak kecil ia dibesarkan dilingkungan para ulama. Ayahnya Syihabuddin bin Taimiyah adalah seorang Syaikh, hakim, dan khatib. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah al-Harrani adalah seorang ulama yang menguasai fiqih, hadits, tafsir, ilmu ushul dan penghafal al-Qur’an (hafidz). Adik laki-laki Ibnu Taimiyah, syaraf ad-Din Abd Allah ibn Abd al-Halim, menjadi seorang ahli ilmu faraidh (waris). Ibnu Taimiyah lahir di Harran Turki tapi besar di Damaskus hingga menjadi seorang Syaikh di pusat negeri Syam ini. Beliau lahir pada 10 Rabiul Awwal tahun 661 H/ 22 Januari 1263.

Pada masa Ibnu Taimiyah berumur enam tahun, kota Baghdad dan sekitarnya mendapatkan serangan brutal dari tentara Tartar. Beberapa wilayah dinasti Abbasiyah porak-poranda. Padahal, Baghdad waktu itu menjadi pusat peradaban Islam. Karena situasi yang buruk, maka orang tua Ibnu Tamiyah membawanya ke kota Damaskus, yang relatif lebih aman serta baik lingkungan ilmunya. Ia hijrah bersama orang tua dan seluruh anggota keluarganya dengan membawa gerobak-gerobak yang berisi buku-buku warisan leluhurnya.

Perjalanan hijrahnya ke Damaskus cukup sulit. Tentara Tartar memusnahkan kitab-kitab umat Islam. Maka, keluarga Ibnu Taimiyah menyiasati menumpuk kitab-kitab yang diangkut dengan gerobak itu di bawah pasir. Untuk menyelamatkan kitab-kitab penting warisan leluhur.

Begitu menetap di Damaskus, ia bertemu dengan guru-guru besar bidang tafsir, hadis, fikih, akidah, nahwu dan lain sebagainya. Di kota ini, Ibnu Taimiyah masuk Perguruan Imam Hanbali yang didirikan oleh Abu Faraj Abdul Wahid al-Faqih Al-Hambali, seorang ulama dari madzhab Hanbali. Perguruan ini cukup terkenal di negeri Syam.

Dalam beberapa riwayat sejarah, pada masa itu kaum Muslimin mengalami berbagai krisis, baik politik maupun agama. Sekolah madzhab Hanbali menemukan momentumnya pada masa itu. Sekolah Abu Faraj, menjadi tujuan utama negeri Syam. Banyak pelajar yang haus tradisi keilmuan. Di lingkungan ini, Ibnu Taimiyah tumbuh dan mengembangkan keilmuan.

Ia mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali. Ia dikenal memiliki semangat pantang menyerah. Cukup sering Ibnu Taimiyah muda menghadiri majelis-majelis orang dewasa untuk mengambil ilmunya, tanpa rasa canggung.  Bahkan aktif berdiskusi di majelis itu bersama para guru-guru dan orang dewasa.

Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari kota Aleppo  yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, iapun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya, sehingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah sepertinya”.

Selain mempelajari musnad Imam Ahmad, ia mengkaji kitab kutubus sittah dan mu’jam al-tabrani al-kabir. Kecenderungannya ia fokus di ilmu hadis dan akidah. Ketia usianya 19 tahun ia telah diberi izin gurunya untuk memberi fatwa. Semenjak itulah ia menjadi terkenal dan menjadi pusat perhatian para pengikut madzhab Hanbali. Dan karya-karyanya mulai ia tulis sejak usia muda ini. Diceritakan, sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari’ah. Ibnu Wardi menuturkan dalam Tarikh Ibnul Wardi bahwa karangannya mencapai lima ratus judul. Yang paling terkenal adalah Majmu’ al-Fatawa.

Karya-karyanya juga ia tulis di sela-sela ia berjihad. Ia pernah mempimpin sebuah pasukan melawan tentara Tartar yang ketika itu tentara penjajah asal Mongolia hendak memasuki kota Damaskus. Ia memang memiliki kepribadian keras, pantang menyerah dan kuat memegang satu prinsip. Pada tahun 1299 M, kota Syakab, dekat Damaskus, diserang tentara Mongol. Dalam pertempuran itu, Ibnu Taimiyah dan pasukannya berhasil memenangkan perang. Pada Februari 1313 M, beliau juga bertempur di kota Jerussalem melawan tentara Kristen dan mendapat kemenangan.

Ia pernah dipenjara. Di balik jeruji besi ini ia menyelesaikan sebuah karya. Justru di penjara Ibnu Tamiyah merasa memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk menulis karya. Namun, di masa akhir usianya ia juga dipenjara. Di masa ini ia tidak memiliki kesempatan untuk menulis kitab. Sebab seluruh pena, tinta, kertas dan buku dirampas aparat. Akhirnya, ia tidak bisa lagi membaca dan menulis buku. Gelarnya adalah Syaikhul Islam diberikan para umat Damaskus karena ia menjadi guru besar para kaum Muslimin di negeri Syam

Di penjara ia sampai wafat di dalam tahanan Qol’a Damaskus. Muridnya, Ibnu Qoyyim, mengkisahkan bahwa Ibnu Tamiyah meninggal di saat membaca al-Qur’an surat al-Qomar. Ia berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Ia wafat pada tanggal 20 DzulHijjah tahun 728 H, dan dimakambkan pada waktu ashar di samping makam saudaranya Syaikh Jamal al-Islam Syarafuddin.

Meski ia dimusuhi pemerintah, namun jenazahnya  disalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah salat Zhuhur dihadiri para pejabat pemerintah, ulama, tentara serta para penduduk. Konon, panjang iring-iringan pengantar jenazahnya melebihi pengiring jenazah Imam Ahmad bin Hanbal.


BumiSyam.com

LIPUTAN DAKWAH

More on this category »

AUDIO KAJIAN ISLAM

More on this category »

KONSPIRASI MUSUH ISLAM

More on this category »

HOT NEWS

More on this category »

ARTIKEL ISLAM

More on this category »

Translate