Dari Perang Terorisme Menuju Perang Semesta

Selasa, 16 Juli 2013


Sedikit membuka catatan lama, menelusuri akar muasal penderitaan yang dihadapi oleh kaum muslimin hari ini. Penindasan kaum muslimin di era modern ini bisa dikatakan secara resmi dan mendapat legalitas dari masyarakat internasional dimulai sejak sang drakula, Josh Bush mengumumkan kepada dunia, War on terrorism. Perang melawan terorisme.
Dari sini, dunia mulai memerangi Islam. Islam dan para pengusungnya didaulat menjadi musuh baru bagi barat khususnya dan dunia kafir umumnya. Perang melawan Islam yang diistilahkan dengan perang melawan terorisme ini tidak pernah menemui titik finalnya. Ketika orang menyangka bahwa ini akan selesai dalam beberapa tahun. Kenyataannya terus berlanjut.Dengan gamblang ia berterus terang, “This is crusade, this will take a long time.” Ini perang salib, ini memakan waktu yang sangat panjang. Sebagai bukti keyakinannya bahwa ini perang ideologi, perang salib, ia menegaskan kepada dunia untuk memilih salah satu dari dua opsi yang ia tawarkan, “You either with us, or with them, againts us.” Kamu bersama kami, atau bersama mereka, sebagai musuh kami. Tidak ada pilihan ketiga yang ia tawarkan.
Sehingga ada yang mencurigai, perang melawan terorisme ini adalah fitnah duhaima’ yang dimaksud dalam hadits yang sangat panjang. Dalam hadits tersebut diriwayatkan, manusia sepeninggalan nabi Muhammad saw akan mengalami tiga fase fitnah yang sangat dahsyat. Satu dengan yang lain berbeda sifatnya.
Rasulullah saw bersabda, “Abdullah bin ‘Umar bahwasanya ia berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk di hadapan Rasulullah saw memperbincangkan soal berbagai fitnah, beliau pun banyak bercerita mengenainya. Sehingga beliau juga menyebut tentang Fitnah Ahlas. Maka, seseorang bertanya: ‘Apa yang dimaksud dengan fitnah Ahlas?’ Beliau menjawab : ‘Yaitu fitnah pelarian dan peperangan. Kemudian Fitnah Sarra’, kotoran atau asapnya berasal dari bawah kaki seseorang dari Ahlubaitku, ia mengaku dariku, padahal bukan dariku, karena sesungguhnya waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa. Kemudian manusia bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian Fitnah Duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya. Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut, di dalamnya seseorang pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari menjadi kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah (kubu), kubu keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kubu kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya.” [HR. Abu Dawud]
Tentang realita fitnah Ahlas ini, sebagian ada yang berpendapat bahwa ia sudah terjadi semenjak zaman para sahabat, dimana Al-Faruq ‘Umar bin Khaththab adalah merupakan dinding pembatas antara kaum Muslim­in dengan fitnah ini, sebagaimana yang diterangkan Nabi saw ketika beliau berkata kepada ‘Umar: “Sesungguhnya antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu yang akan hancur.”[Bukhari dan Muslim].
Sabda Rasul saw ini memang menjadi kenyataan dimana ketika ‘Umar RA baru saja meninggal dunia, hancurlah pintu tersebut dan terbukalah fitnah ini terhadap kaum Muslimin dan ia tidak pernah berhenti sampai sekarang ini.
Adapun Fitnatu Sarra’, maka Imam Ali Al-Qaari menyatakan yang dimaksud dengan fitnah ini adalah nikmat yang menyenangkan manusia, berupa kesehatan, kekayaan, selamat dari musibah dan bencana. Fitnah ini disambungkan dengan sarra’ karena terjadinya disebabkan oleh kemaksiatan karena kehidupan yang mewah, atau karena kekayaan tersebut menyenangkan musuh.
Selanjutnya tentang Fitnah Duhaima. Kata duhaima’ merupakan bentuk tashghir (pengecilan) dari kata dahma’, yang berarti hitam kelam dan gelap. Fitnah ini akan meluas mengenai seluruh umat ini. [‘Annul Ma’bud 11/310-311]
Ada beberapa ciri khusus fitnah duhaima’ yang tidak dimiliki oleh fitnah sebelumnya.
1. Fitnah ini akan menghantam semua umat Islam (lebih khusus lagi bangsa Arab). Tidak seorangpun dari warga muslim yang akan terbebas dari fitnah ini. Beliau menggunakan lafadz “lathama” yang bermakna menghantam, atau memukul bagian wajah dengan telapak tangan. Kalimat ini merupakan gambaran sebuah fitnah yang sangat keras dan ganas.
2. Fitnah ini akan terus memanjang, dan tidak diketahui kapan ia akan berakhir. Bahkan ketika manusia ada yang berkata bahwa fitnah itu sudah berhenti, yang terjadi justru sebaliknya; ia akan terus memanjang dan sulit diprediksi kapan berhentinya. Inilah maksud ucapan beliau : Jika dikatakan : ‘Ia telah selesai’, maka ia justru berlanjut.
3. Efek yang ditimbulkan oleh fitnah ini adalah munculnya sekelompok manusia yang di waktu pagi masih beriman, namun di sore hari telah menjadi kafir. Sore hari ia masih beriman, tetapi esok pagi dia sudah kafir.Dahsyatnya fitnah ini akan mencabut keimanan seseorang hanya dalam bilangan satu hari.
4. Beliau menjelaskan bahwa proses terjadinya kemurtadan pada sebagian umat Islam yang begitu cepat itu akan terus berlangsung dalam waktu yang tidak diketahui. Puncak dari kejadian ini adalah terbelahnya manusia dalam dua kubu; kelompok iman yang tidak tercampur dengan kenifakan dan kelompok munafik yang tidak memiliki keimanan.
Beberapa ciri fitnah duhaima’ yang disebutkan dalam hadits diatas, seperti ciri fitnah perang melawan terorisme sekarang;
“Fitnah terorisme memiliki sifat dan ciri yang sama dengan fitnah ad-duhaima’. Dahsyatnya fitnah terorisme hari ini, siapapun merasakan akibat dari perang melawan terorisme ini.
Fitnah terorisme pun memakan waktu yang sangat panjang. Dulu, orang memperkirakan hanya akan memakan waktu sekitar 6 tahun. Tetapi ternyata terus berlangsung hingga sekarang.
Di Indonesia misalnya, sepeninggalan DR. Azhari, banyak orang mengira fitnah terorisme ini akan berakhir. Tetapi ternyata ikon baru dimunculkan oleh rezim yang berkuasa yaitu Nordin. Sepeninggalan Nordin, banyak orang meyakini fitnah ini telah selesai. Tetapi, yang terjadi, justru sebaliknya; perburuan terhadap para ‘teroris’ berlangsung hingga sekarang.
Ciri fitnah duhaima’ selanjutnya menjadikan manusia mudah murtad. Demikian juga fitnah terorisme hari ini menjadikan manusia enteng melakukan kemurtadan. Kemurtadan yang paling nyata di fitnah terorisme adalah berloyalitas kepada kubu kafir, Amerika dan sekutunya serta tolong menolong dengan orang kafir dalam memerangi umat Islam.
Dari sinilah umat Islam terpecah menjadi dua kubu; kubu mukmin dan kubu munafik. Mungkin, kubu munafik ini adalah setiap orang yang mengaku muslim tetapi tunduk dan suka rela berkerja sama dengan orang kafir. Termasuk dalam perang melawan terorisme.”
Perang Dengan Yahudi
Keruntuhan Gedung WTC, simbol runtuhnya dominasi AS di mata dunia
Keruntuhan Gedung WTC, simbol runtuhnya dominasi AS di mata dunia
George Bush si penggagas perang melawan terorisme (baca: Islam) dalam beberapa catatan ia termasuk anggota elit Brother Hood of Snake. Sebuah oraganisasi Yahudi. Demikian juga Obama, menurut catatan banyak peneliti, Obama adalah kader Yahudi yang disiapkan sebagai tanduk perlawanan terhadap Islam. Seorang mantan jubir zionis, Abner Mivka berkata, “Obama adalah presiden Yahudi pertama Amerika.”
Jika melihat para pelopor perang terhadap Islam adalah kader-kader Yahudi. Muncul sebuah pertanyaan, akankah perang melawan terorisme ini menjadi tangga menuju perang akhir zaman yang pernah disinggung oleh rasulullah saw?.
“Kiamat tidak akan terjadi hingga kaum muslimin memerangi Yahudi. Kaum muslimin akan bersungguh-sungguh memerangi Yahudi, hingga mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohon. Maka batu dan pohon berteriak, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini ada Yahudi di belakangku, kemarilah bunuhlah dia.’ Kecuali pohon ghorqod (ia tidak berteriak) karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR. Muslim)
Jawabannya, bisa tidak dan kemungkinan besar iya. Perjalanan sejarah akan membuktikannya. Hanya saja, perang melawan teroris, kekacauan dunia karena ulah dan kerakusan Yahudi hari ini mengarah ke pagelaran perang semesta yang akan terjadi di akhir zaman.
Perang Semesta (al-Malhamah al-Kubro)
Puncak peperangan yang akan terjadi nanti menjelang kiamat adalah perang semesta (Armagedon). Rasulullah saw mengistilahkannya dengan al-Malhamah al-Kubro, perang terdahsyat.
Dalam sebuah hadits rasulullah saw menjelaskan peristiwa ini
“Kalian akan mengadakan perdamaian dengan bangsa Rum dalam keadaan aman. Lalu kalian akan berperang bersama mereka melawan suatu musuh dari belakang mereka. Maka kalian akan selamat dan mendapatkan harta rampasan perang. Kemudian kalian akan sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum Rum lalu ia mengangkat tanda salib dan berkata, ‘Salib telah menang’. Maka datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu ia membunuh laki-laki Rum tersebut. Lalu kaum Rum berkhianat dan terjadilah peperangan, dimana mereka akan bersatu menghadapi kalian di bawah 80 bendera, dan di bawah tiap-tiap bendera terdapat dua belas ribu tentara.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Rasulullah saw bersabda, “Kalian akan memerangi Jazirah Arab, maka Allah akan menaklukannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi bangsa Persia, maka Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi bangsa Romawi, maka Allah menaklukkannya untuk kalian. Kemudian kalian akan memerangi Dajjal, maka Allah pun mengalahkannya untuk kalian.” (HR. Muslim)
Kenapa arab harus diperangi? Padahal, hari ini, sepertinya arab adalah negeri-negeri yang sangat islami. Beberapa penulis kontemporer mencoba menjawab, sebabnya, Arab telah dikuasai oleh undang-undang kafir dan loyal kepada orang-orang kafir. Karena sebab inilah, Arab diperangi.
Ada sebagian ulama kontemporer mencoba memberikan analisa; bahwa bangsa Persia yang diperangi karena mereka menganut aqidah syirik. Yaitu, syi’ah rafidhoh. Seperti di Iran, Irak, Bahrain dan Lebanon.
Sedangkan bangsa romawi yang akan berdamai dengan umat islam adalah Amerika, dan Barat. Demikian ditegaskan oleh syaikh Muhammad Hasan, da’I kondang Mesir.
Melihat realita yang terjadi di dunia Islam. Khususnya timur tengah, kesimpulan dan analisa diatas bisa dibenarkan. Negara-negara arab yang ada hari ini telah menjadikan undang-undang sekuler sebagai undang-undang Negara dan demokrasi sebagai system pemerintahan.
Demikian juga syi’ah (Persia), hari ini telah memiliki Negara resmi, seperti Iran ataupun Lebanon. Keberanian orang-orang syi’ah yang ada di timur tengah yang membantu rezim Basyar Asad, untuk membunuh umat Islam, turut memperkuat dugaan bahwa syi’ah sedang bergerak membentuk Persia Raya yang beragama syi’ah.
Jika ada yang menuduh bahwa analisa diatas diada-ada dan cendrung dipaksakan, sah-sah saja. Namun harus disepakati bahwa di akhir zaman, umat Islam yang komitmen dengan dakwah tauhid dan jihad akan memerangi orang Yahudi, Arab, Persia dan serta romawi (Barat Kristen). Perang ini bersifat semesta (internasional) bukan regional.
Wallahua’lam bi showab.

* [Mas’ud Izzul Mujahid] –
Diadaptasi dari Majalah An-Najah Edisi 68-

Salafi Jihadi, Momok Musuh Islam


Istilah Salafi Jihadi kini makin populer, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.Entah siapa yang pertama mempopulerkan dan sejak kapan. Tapi yang pasti, kombinasi manhaj Salaf dan gerakan jihad menjadi momok yang menakutkan bagi banyak kalangan, karena dua kosa kata ini menjadi duet maut yang sangat sulit ditaklukkan.


Unsur kekuatan umat Islam memang dua, kuat secara fisik dan kuat secara ilmu. Al-Qur'an menyebutnya dengan ungkapan: basthatan fil ilmi wal jismi (kuat secara ilmu dan fisik) - QS 2: 247. Jika umat umat memiliki dua unsur kekuatan tersebut, segala hal yang merusak kemerdekaan Islam bisa disingkirkan atau minimal bisa ditangkal. 


Istilah Salafi tepat mewakili kekuatan ilmu, sedangkan Jihadi mewakili kekuatan fisik.Salafi merupakan istilah lain untuk ahlussunnah wal jamaah. Inti dari istilah Salafi adalah konsep memahami teks dalil baik ayat Al-Qur'an atau hadits Nabi saw sesuai dengan pemahaman generasi salaf / terdahulu yang sholih. Generasi salaf untuk menyebut generasi Sahabat Nabi saw, dan dua generasi sesudahnya, Tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Meski demikian, ulama-ulama generasi sesudahnya juga digelari sebagai ulama salaf jika manhaj ilmunya mengikuti manhaj tiga generasi pertama tersebut. 


Orang yang bermanhaj salaf cara pandangnya terhadap Islam menjadi puritan alias fundamentalis. Islam yang asli sebagaimana diturunkan, dengan menyingkirkan buih-buih pemikiran dan praktek keislaman yang disebut dengan bid'ah, khurafat, takhayul, pemikiran filsafat, logika, liberalisme, pluralisme dan sebagainya. Semua buih dibersihkan sehingga Islam yang sudah terkontaminasi pemikiran dan nafsu manusia bisa kembali menjadi Islam yang orisinil. Keaslian ini akan menjadi spirit unik yang dahsyat, sebagaimana dulu para Sahabat digerakkan oleh spirit tersebut. 


Kemurnian Islam Islam akan berdampak lahirnya kepekaan terhadap apapun dan siapapun yang merusak konsep ilmu Islam yang murni. Inilah yang menjadi momok menakutkan bagi pemikiran liberal, kesesatan dan penyimpangan lain untuk mencoba merusak Islam. Manhaj salaf menjadi benteng kokoh tak dapat ditembus oleh tangan-tangan jahil yang ingin merobohkan menara ilmu Islam dan benteng aqidah umat Islam. Pada gilirannya melahirkan puritanisme, fundamentalisme dan militansi, sesuatu yang dicoba dihapus sejak dahulu oleh musuh Islam.


Manhaj Salaf sebagai Akar Turnamen


Kasus merebaknya Syiah di Indonesia menjadi pelajaran berharga dalam hal menguji ketahanan ilmu umat Islam. Penyikapan umat terhadap Syiah bisa menjadi tolok ukur sejauh mana umat memiliki kepekaan terhadap anasir jahat yang berpotensi merusak Islam dan umat Islam. 


Banyak umat Islam yang gagal mengendus bahaya Syiah. Bukan hanya kalangan publik, bahkan tokoh agama dan tokoh politik di negeri ini. Ada yang terkesima karena busananya. Ada yang terkecoh dengan solidaritas kemanusiaannya. Ada yang terkesan dengan keramahan dan sopan santunnya. Dan yang paling banyak, terkecoh karena selalu membawa nama Nabi Muhammad saw dan keluarganya (ahli bait) dalam menyampaikan pesan. 


Mereka terkecoh dengan Syiah karena tak memiliki sesuatu yang membuat mereka bisa mengenali kekeliruan Syiah. Mereka menjadi sangat rapuh di hadapan makar dan siasat licik Syiah yang dengan lihai memanfaatkan kebodohan umat Islam terhadap kemurnian Islam. Mereka memanfaatkan beragamnya cara pandang umat Islam dalam menyikapi Syiah, antara yang membela, simpati, netral sampai melawan.Perbedaan pandangan ini akan dijadikan amunisi untuk Syiah untuk mengadu umat Islam. Tokoh yang simpati diadu dengan tokoh yang menentang. Akhirnya umat Islam menjadi bulan-bulanan permainan politik dan lobby Syiah. 


Kita akan segera saran dengan kerapuhan pertahanan ilmu dan aqidah umat.Jangankan terhadap Syiah yang terkesan bagian dari umat Islam, agama lain saja tidak punya sesuatu yang bisa mendorong mereka untuk menolaknya. Doktrin semua agama sama masih terlalu kuat mengakar di benak mereka sejak pertama diajarkan di bangku sekolah dasar. 


Oleh karenanya manhaj Salaf menjadi sesuatu yang strategis bagi kekuatan umat Islam. Manhaj Salaf adalah kekuatan ilmu yang harus disiapkan dengan baik di tengah umat agar tercipta spirit ideologi untuk menangkal serangan musuh dari sisi ilmu dan aqidah. Dalam istilah Abu Mus'ab As-Suriy, ta'shil judzur shira ', menancapkan akar permusuhan di hati umat kepada apapun yang merusak kemurnian Islam. Kepekaan ini harus diasah, ditularkan dan dipopulerkan dengan mengajarkan manhaj salaf kepada sebanyak mungkin umat Islam, agar tercipta kondisi: "membela Islam tanpa sadar" karena telah menjadi spirit yang mengakar di lubuk hati paling dalam. Kemurnian Islam yang dibawa manhaj Salaf menjadi neraca dalam menimbang cinta dan benci, simpati atau antipati, pertemanan atau permusuhan.


Jihad, Kekuatan yang melumat Intrik Politik


Sementara jihad adalah syariat yang kuat nuansa fisiknya, oleh karenanya tepat mewakili sisi kekuatan fisik umat. Kasus Suriah menjadi contoh, betapa syariat jihad tampil sebagai obat mujarab mengatasi krisis akut di sana. Kasus Suriah unik, karena kekuatan dunia tak sependapat dalam mengatasinya. Berbeda dengan kasus Libya, Yaman, Somalia, Afghanistan dan lain-lain. 


Pilar kekuatan dunia - pemilik hak veto PBB - terbelah dua dalam menyikapi Suriah.AS, Inggris dan Perancis ingin ada tindakan keras kepada rezim Suriah, minimal secara lisan, meski diam-diam mendukung rezim karena berguna melindungi Israel.Sementara Rusia dan Cina ngotot membela rezim Bashar Asad. Walhasil, Suriah hingga kini menjadi medan perang terbuka tanpa ada kekuatan militer dunia yang berpihak secara terbuka. Hukum yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat dia menang. Padahal jika terbuka hukum rimba, biasanya umat Islam akan berpaling kepada syariat jihad. 


Dengan ijin Allah, setelah mereka mengamalkan ibadah jihad, Allah beri banyak kemenangan. Artinya, tekanan fisik berat yang dialami umat Islam bisa mendapat saluran solusi dengan ibadah jihad. Dengan jihad mereka menjalin kekuatan, menjalin pertandingan, melakukan pukulan dan bisa meraih kemenangan, dengan ijin Allah. Ketika kesadaran jihad fi sabilillah telah merebak, mereka menjadi entitas sosial yang kuat tak mudah dijebak dengan intrik politik. 


Intrik politik AS di Afghan gagal, karena barisan mujahidin makin solid. Demikian pula dengan intrik politik di tempat lain, semuanya gagal jika rakyat telah tumbuh kesadarannya untuk jihad fi sabilillah, hanya untuk meninggikan kalimat Allah. Barat, Yahudi dan semua anasir musuh Islam kini menghadapi tembok kokoh dengan merebaknya ibadah jihad di berbagai belahan bumi. Dulu mereka bisa menjajah umat Islam lantaran umat meninggalkan ibadah jihad. Kini situasi berbeda. 


Nah, jika dua kekuatan ini - manhaj salaf dan ibadah jihad fi sabilillah, yang disingkat menjadi Salafi Jihadi - dirangkai dalam satu tarikan nafas pada jiwa raga seorang mukmin, maka umat Islam akan menjadi kekuatan dahsyat yang membuat putus asa semua anasir jahat yang berniat merusak Islam. Menariknya, jika seseorang jujur ​​dengan pengabdiannya kepada Allah, akan selalu bermuara pada keduanya dari manapun mulainya. Jika jujur ​​dengan Salafinya, ia akan menjadi Jihadis. Jika ia jujur ​​dengan jihadnya, ia akan menjadi Salafi. Wallahu a'lam.

elhakimi


Menguak Hubungan Rahasia Amerika



Sejak Khilafah Utsmaniyah mengalami kekalahan pada perang dunia I, dan melalui perjanjian Sykes-Picot antara Perancis dan Inggris pada tahun 1916, Negara Perancis mulai melakukan penjajahan negeri yg kita kenal sekarang dengan nama Suriah. Untuk memahami seberapa luas pengaruh Amerika Serikat di Suriah dan untuk memetakan hubungan antara Rezim Assad dan AS, perlu untuk mempertimbangkan sejarah modern Suriah. Berikut ini terdapat 10 hal pentingsecara kronologis, mulai dari masa kolonialisasi negara-negara barat  terhadap suriah hingga saat ini  dengan memberikan penekanan keterlibatan AS di negara ini.
 1. AS dan CIA mendalangi peristiwa kudeta militer di Suriah sejak tahun 1949:
Melalui kedubesnya di Damaskus, Amerika Serikat dan badan intelijen AS (CIA), telah memimpin dalam upaya kudete militer pertama kalinya di Suriah pada tahun1949, sebagaimana diyatakan dalam sebuah buku “The Game of Nations”  oleh Miles Copeland. Hal ini menandai awal dari peperangan internasional memperebutkan Timur Tengah antara AS sebagai pendatang baru di kancah pertarungan dunia, dan Eropa (Perancis dan Inggris) yang menguasai pengaruh di kawasan tersebut namun begitu keluar dari perang dunia II dalam kondisi hancur. Amerika Serikat melalui CIA terus menerus mendukung upaya kudeta militer yg susul menyusul di Suriah dari tahun 1950an hingga 1960an melawan pesaingnya dari negara-negara eropa, hal ini membawa ketidakstabilan yang berlangsung selama lebih dari dua dekade.
2.  Hafez Assad menarik diri pada perang 1967 dalam rangka mengamankan Israel
Seorang mantan presiden Suriah, Amin a-Hafiz dalam wawancara dengan saluranAl-Jazeera pada tanggal 2 Juli 2001 menyatakan bahwa Hafez al-Assad, pada saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, memerintahkan secara keras penarikan diri militer dari dataran tinggi Golan pada awal terjadinya perang. Hal ini dilakukan sebelum adanya tanda-tanda kekalahan atau konfrontasi nyata dengan militer Israel yang mengakibatkan pendudukan suatu lokasi yang strategis[1]. Melalui pergerakan seperti ini, akhirnya Assad mendapatkan kepercayaan AS untuk mempertahankan batas utara Israel, yang dia pertahankan hingga tiga dekade berikutnya.
golan
3. AS mendukung Suriah melalui resolusi PBB 242 pada tahun 1967
Resolusi PBB no 242 yang disetujui setelah perang tahun 1967atau umumnya dikenal dengan perang 6 hari dengan Isreal dan pendudukuan atas dataran tinggi Golan, memberikan suriah hak untuk mendapatkan kembali kawasan tersebut hingga sekarang [2]. AS memberikan dukungan atas perjanjian ini dan termasuk hak suriah atas kawasan dataran tinggi Golan tsb. Hal Ini sebenarnya sesuatu yg kontras dengan posisi Israel, dan bagian dari “janji palsu”,  menolak gagasan penyerahkan kawasan yg secara geografis sangat strategis.
4. Memperkuat hubungan AS – Suriah setelah perang 1973
Usai perang “dadakan” tahun 1973 antara Suriah dengan entitas Israel, AS semestinya menyalahkan Suriah dengan menetapkan sanksi-sanksi, namun Presiden Nixon secara pribadi membayarnya dengan sebuah agenda kunjungan ke Damaskus untuk memperkuat relasi dengan rezim Assad.
5. AS merestui pendudukan Suriah atas Lebanon sejak tahun 1976
Ketika tentara Suriah melakukan invasi ke Lebanon saat awal terjadinya perang sipil di Lebanon. Tanda diamnya Amerika Serikat atas pendudukan tersebut merupakan“sinyal hijau” kepada Hafez Al-Assad untuk memulai dan melanjutkan invasi hingga tahun 2005 ketika keluarnya resolusi dibawah mandat perancis untuk menekan Suriah agar keluar dari Lebanon dengan keengganan AS. Salah seorang analis politik menggambarkan peran AS terkait dengan hal tersebut, sembari mengatakan:“AS nampaknya secara diam-diam setuju atas keberlangsungan pendudukan Suriah di Lebanon”[3].
6. Kerjasama AS dan Suriah melalui Perjanjian Tai’f pada tahun 1989
Perjanjian Tai’f ditandatangani di Arab Saudi antara faksi-faksi  Lebanon yg berbeda untuk mengakhiri perang saudara tahun 1989. AS sendiri sebagai salah satu makelar yang berpengaruh, selain Perancis, Arab Saudi, Mesir dan Suriah yg membantu penyusunan perjanjian, “merupakan pihak yg memberikan dukungan internasional kepada Suriah untuk mengawal  kasus Lebonon” [4].
7. Suriah ikut bergabung dalam kampanye AS menginvasi Iraq pada tahun 1991
Negara Suriah ikut mendukung kampanya perang AS melawan Iraq dalam(operasi badai gurun)dan ikut mengirimkan 14.500 tentara dan personel untuk membantu AS dalam Invasi militer ke Iraq [5].
8. AS menengahi negosiasi antara Suriah dan Israel selama tahun 1990-an
Hafez Al-Assad, selaku Presiden Suriah menerima AS sebagai salah satu mediator perselisihan antara Suriah dan Israel. Kepala Staf Militer,Letjen Hikmat al-Shihabi, memimpin delegasi ke AS dengan agenda mendiskusikan negosiasi damai atas permasalahan tersebut. Dalam salah satu wawancara dengan saluran televisi Rusia,Rusia Today TV, seorang mantan Menteri Pertahanan Suriah dan salah seorang pendukung utama rezim Assad, Mustafa Tlas, mengatakan dengan berani bahwa al-Shihabi adalah seorang agen CIA untuk AS [6].
9.  Kerjasama intelijen antara CIA dan Suriah dalam penganiayaan tahanan sejak 2001
Hubungan dekat antara CIA dan rezim suriah nampak begitu hangat, bahkan berlangsung ketika rezim suriah dicap sebagai negara bengis, rezim suriah memberikan pelayanan untuk melakukan pekerjaan kotor dengan CIA. Rezim Suriah mempergunakan badan intelijen yg dimiliknya untuk mengorek informasi dari tahanan dan tawanan perang melalui penganiayaan untuk kepentingan CIA. Salah satu kasus terkenal yg mendapatkan liputan pemberitaan Internasional adalah kasus yang menimpa warga negara Kanada, Maher Arar [7].
cia
10. Dukungan AS kepada Rezim Suriah selama Revolusi 2011
Sebagaimana pernah diulas secara rinci melalui artikel sebelumnya dalam situs kami dihttp://www.revolutionobserver.com, Amerika Serikat telah lama membisu dan hanya menjadi penonton atas pembantaian penduduk sipil suriah selama hampir 2 tahun, termasuk juga menolak mempersenjati pemberontak untuk melindungi diri mereka sendiri dan menggulingkan Assad.
Nampak terlihat dengan jelas, Amerika Serikat telah berupaya sejak awal berdirinya negara suriah modern untuk “memasang” antek2nya dalam kekuasaan melaluikudeta militer. Meskipun AS terus berdalih melalui retorika publik melawan Suriah, AS telah mencapai puncak hegemoninya secara sempurna ketika Hafez al-Assad , mengambil alih kekuasaan pada tahun 1970. Sejak naiknya Assad, Suriah menjadi negara yg dipergunakan untuk operasi sembunyi-sembunyi bagi AS, termasuk melayani kepentingan AS di kawasan tersebut dan melindungi batas-batas utara entitas Israel, meskipun kelihatannya negara ini mengklaim sebagai pemimpin perlawanan terhadap Israel di kawasan Arab.
—

Ustadz Farid Okbah: Ada Benang Merah Antara Jihad Suriah, Muktamar Ulama Hingga Kudeta Militer di Mesir

Senin, 15 Juli 2013

Beberapa waktu yang lalu, Internasional Islamic Coordination Council (IICC) sukses menggelar muktamar bertajuk, ‘Sikap Ulama Umat Terhadap Konflik Suriah’. Acara ini berlangsung di Kairo, Mesir, pada 4 Sya’ban 1434 H/13 Juni 2013.
Perhelatan ulama ini dihadiri oleh lebih dari 500 tokoh dan ulama Ahlusunnah dari 50 negara yang masing-masing berafiliasi kepada 65 organisasi dan yayasan Islam di dunia, seperti: IUMS (Persatuan Ulama Sedunia) dibawah pimpinan Dr. Yusuf Qardhawi, Ittihad ‘Alami Lidhuat (Ikatan Dai Internasional) yang diketuai oleh Dr. Mohammad Al-Areefi, Rhabitah Ulama Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin) yang diketuai oleh Syaikh Al-Amin Alhajj, Rabithah Alam Islamy, Persatuan Internasional Ulama Al-Azhar, Ikatan Ulama Muslim Suriah dan lain sebagainya.
Indonesia, sebagai negara muslim tak ketinggalan mengirimkan perwakilannya sebagai peserta dalam muktamar ini, ialah Ust. Farid Ahmad Okbah, MA yang merupakan tokoh inisiator MIUMI, Dai dan Pakar Syiah Indonesia. Beliau bersama dua asatidzah lainnya turut menghadiri Muktamar tersebut.
Ditemui di kediamannya di Pondok Gede, reporter An-najah.net berhasil mewawancara beliau tentang hasil muktamar di Mesir dan Jihad Suriah yang rupanya terdapat benang merah dengan kudeta militer yang dilakukan oleh kaum liberalis -sekuler di Mesir. Berikut laporan selengkapnya. 
An-najah: Ustadz, apa sebenarnya tujuan diadakannya muktamar yang dihadiri oleh para ulama dan tokoh islam di Mesir beberapa waktu lalu?
Pertemuan di Mesir tanggal 13 Juni 2013 itu dihadiri oleh 500 ulama dari 50 negara yang terdiri dari lembaga besar di negara tersebut. Mereka menyuarakan satu suara untuk membela perjuangan kaum muslimin di Suriah melawan kekuatan Bashar Assad yang notabene berasal dari syiah alawiyah nushairiyah yang kemudian didukung oleh kekuatan Iran, Hizbullah dari Lebanon, Syiah Irak dan Syiah dari Yaman, juga ditunjang oleh ideologi sosialis yang didukung oleh Rusia dan Cina. Semua kekuatan ini nampak jelas telah menyatakan diri sebagai kekuatan yang ingin menghabisi ahlu sunnah yang ada di Suriah.
Kemudian, perwakilan-perwakilan yang ada di jabhah (fr0nt jihad, red) yang ada di Syria mereka juga menyampaikan apa yang terjadi di Syria. Bahkan, terakhir saya mendengarkan langsung wawancara dengan tokoh Syria dengan para komandan mujahidin di lapangan, mereka melaporkan bahwa tentara- tentara Bashar Asssad dengan dukungan negara-negara syiah tersebut telah mengangkat bendera bendera syiah di dalam peperangannya melawan kekuatan kaum muslimin di Syria.
Oleh karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa perang di Suriah adalah perang terhadap Islam dan kaum muslimin.
Dari hasil pertemuan ulama di Mesir itu akhirnya menghasilkan 11 poin resolusi untuk disosialisasikan dan disampaikan kepada seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Tapi, dari 11 poin tersebut ringkasnya ada pada tiga kesimpulan. Yang pertama, mereka membentuk jabhah jihad oleh para ulama yang diketuai oleh doktor Shofwat Hijazi, adalah wakil ketua Rabithah Ulama Muslimin. Hal kedua, akan diupayakan pengumpulan dana minimal hingga 1 milyar dolar untuk membantu umat Islam di Syria. Yang ketiga, melalui lobi-lobi politik yang diketuai oleh Dr. Yusuf Qardhawi untuk melakukan pendekatan kepada negara-negara Arab dan Islam dan pada negara umumnya untuk menekan Bashar Assad secara politik dan memberikan dukungan kepada umat Islam di Syria.
Tak lama berselang setelah muktamar itu, seruan para ulama itu disambut oleh Presiden Mesir Mohammad Mursi yang langsung memutus hubungan diplomatik dengan Syria. Ini merupakan satu hal yang positif. Dan reaksi umat Islam Indonesia pada waktu yang bersamaan dengan muktamar itu saya dilapori oleh para ulama yang langsung melakukan hubungan dengan umat Islam melalui social media seperti facebook, twitter, dan sebagainya bahwa umat Islam Indonesia siap mengirim 1.000.000 personel mujahid ke Syria, mendengar hal itu mereka sangat gembira atas reaksi kaum muslimin di Indonesia.
Namun masalahnya, kita sebagai rakyat Indonesia juga harus mendesak kepada pemerintah di Indonesia untuk melakukan langkah-langkah secara politik dalam upaya membela kaum muslimin yang tertindas di Syria atas kekejaman rezim Bashar Assad yang didukung oleh kelompok syiah yang bersatu.
An-najah: Apa yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia untuk membantu perjuangan rakyat Syria?
Kaum muslimin ahlu sunnah yang ada di Indonesia ini tidak boleh berpangku tangan dan wajib memberikan solidaritasnya, apakah dengan turun langsung ke Syria mendukung perjuangan kaum muslimin dengan membawa bantuan dan semacamnya atau dengan cara mengumpulkan dana untuk membantu perjuangan kaum muslimin Syria.
Karena memang derita yang luar biasa terjadi di sana. Jumlah pengungsi yang mencapai lebih dari 45 Juta orang yang berada di perbatasan Turki, Lebanon, Yordan, Irak dan sebagainya. Disitulah pentingnya dibutuhkan solidaritas kita.
Paling tidak minimal dengan bantuan doa, apalagi memasuki bulan Ramadhan. Doa-doa sesama muslim sangat diharapkan, terutama dalam doa-doa witir pada shalat tarawih, hendaknya umat Islam di Indonesia menyuarakan doa pada saat witir untuk mendukung perjuangan umat Islam di Suriah dan mendoakan mereka agar keluar dari kesulitan yang saat ini sedang terjadi. Apalagi juga kemudian ditambah dengan perihnya kudeta militer yang ada di Mesir, ini juga menjadi daftar masalah bagi umat Islam, bahkan kemudian banyak umat Islam yang kemudian ditembaki oleh para tentara Mesir, ini semakin menambah derita umat Islam. Makanya, kita sebagai umat Islam harus punya satu kesadaran untuk memberikan solidaritas sesama kaum muslimin di seluruh dunia.
An-najah: Apakah ada korelasi antara putusnya hubungan diplomatik Mesir-Suriah dengan kudeta Mursi?
Saya kira sedikit banyaknya pasti ada, memang pihak oposisi (Mesir, red) sudah merancang gerakan massal, jauh sebelum adanya muktamar dan kita pun ketika datang itu sudah merasakan kekhawatiran warga mesir termasuk diantaranya warga Indonesia yang disana atas kemungkinan terjadinya chaos yang ada di Mesir. Itu dikhawatirkan betul sejak sebelum muktamar.
Setelah muktamar, indikasi itu semakin menguat melihat hubungan Mursi yang sejalan dengan agenda umat Islam itu sangat dikhawatirkan oleh Barat, Yahudi, dan kelompok kelompok Anti-Islam di Mesir. Sehingga ketika kekuatan-kekuatan asing dan dalam negeri Mesir itu menyatu dan didukung oleh kekuatan militer terjadilah kudeta itu, dan yang paling dirugikan adalah umat Islam.
Apalagi kemudian, diperlakukan dengan cara yang sangat tidak manusiawi, dengan membantai rakyatnya sendiri, dengan cara-cara yang sangat sadis. Bahkan cara ini sangat mirip dengan genosida, melakukan pembantaian secara membabi buta. Puluhan korban yang telah terbunuh dan ribuan yang telah terluka akibat perlakuan yang membabibuta seperti itu. darah umat islam itu sangat mahal, tapi kenapa menjadi murah seperti itu. Makanya kita menolak tindakan itu.
An-najah: Bagaimana ustadz memandang kepemimpinan Mursi yang meraih maslahat di beberapa sisi, namun juga berjalan diatas bathilnya sistem demokrasi?
Sebenarnya perjuangan Ikhwanul Muslimin menaikkan Mursi adalah satu bentuk ijtihad, ijtihad pihak Ikhwanul Muslimin dan ulama kaum muslimin di Mesir yang juga didukung oleh kelompok salafi, bahkan mereka disana memperoleh dukungan lebih dari separuh rakyat Mesir.
Ternyata, usaha yang luar biasa itu pada akhirnya mengalami kudeta, inilah pil pahit demokrasi. Ini menjadi bukti tambahan bahwa membela perjuangan umat Islam melalui cara demokrasi telah mengalami kegagalan sekian kali, termasuk yang terakhir dialami oleh Mursi.
Namun demikian, tentunya yang namanya ijtihad dalam upaya bentuk membela perjuangan umat Islam tidak boleh berhenti karena adanya hambatan, ancaman, bahkan kudeta seperti itu. Memang kalau kita melihat kepemimpinan Mursi masih dalam proses perjuangan dan usaha, tetapi sudah mulai nampak ke arah keberpihakan kepada pembelaan umat Islam yang itu tidak dikehendaki oleh Barat, kaum Yahudi serta kaum liberal yang ada di Mesir.
Saya langsung ketemu dengan penasehat Mursi Dr. Yusri Ibrahim, yang merupakan sosok luar biasa dalam keberpihakannya terhadap urusan Islam dan kaum muslimin. Beliau punya ‘Haiah Syar’iyyah lil Huquq wal Ishlah’ itu adalah forum gabungan seluruh gerakan Islam untuk bersama-sama memperjuangkan Islam. Dia bisa menyatukan semua itu, kan luar biasa itu.
Dan saya lihat gerakan Islam di Mesir jauh lebih dewasa dibanding gerakan Islam yang ada di Indonesia, Kita masih gontok-gontokan, ya paling tidak masih sama- sama kerja tapi belum bekerja sama menghasilkan sesuatu yang signifikan. Nah, ini yang kemudian harus kita koreksi di tengah tubuh kita dan mencoba untuk mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang terjadi. Harusnya, gerakan islam di Indonesia sudah mulai naik kelas supaya menjadi lebih matang melihat tantangan yang sangat besar bagi umat islam di indonesia maupun yang ada di luar.
An-najah: Bagaimana pendapat Ustadz mengenai Partai Salafi (Hizb An-Nur) di Mesir yang justru ikut kubu oposisi melengserkan Mursi?
Saya tidak tahu apa alasan politik yang diambil Partai An-Nur, tetapi dalam politik itu tidak ada kawan yang abadi, tetapi itu adalah cara yang keliru jika melihat dari politik islam. Bolehlah kita melakukan siasat-siasat tetapi jangan sampai menyakitkan saudara, dalam kondisi saudara kita mengalami derita, jangan ditambah beban deritanya, harusnya kan kita kurangi jangan malah kita salah-salahkan. Toh juga mereka ikut dalam mengantarkan Mursi menjadi presiden. Mungkin, karena melihat kondisi yang tidak kondusif sehingga dia akhirnya mengambil jalan lain. Padahal tidak seharusnya seperti itu.
Namun demikian kita hormati perbedaan pendapat di dalam politik itu adalah sesuatu hal yang wajar yang penting jangan sampai mengorbankan prinsip, jangan sampai mengorbankan persaudaraan yang sudah ada. Bolehlah kita berbeda pendapat tetapi jangan bermusuhan, barangkali itu yang paling pokok.
Intinya bahwa politik Islam itu berpihak bagi kemaslahatan bagi kebanyakan umat terutama mensejahterakan umat Islam dunia dan akherat, itulah tujuan politik Islam. Tapi kemudian kalau itu tidak terjadi bahkan malah pecah permusuhan, maka politik itu menjadi tercela. [annajah.net]

LIPUTAN DAKWAH

More on this category »

AUDIO KAJIAN ISLAM

More on this category »

KONSPIRASI MUSUH ISLAM

More on this category »

HOT NEWS

More on this category »

ARTIKEL ISLAM

More on this category »

Translate