Home » » Menyongsong Amerika di Suriah (Bag.1)

Menyongsong Amerika di Suriah (Bag.1)

Perang Suriah memasuki babak baru. Setelah tragedi serangan senjata kimia—yang masih saling lempar siapa pelakunya—Amerika bersikeras akan menggelar operasi militer di negeri yang sudah dua tahun lebih bersimbah darah dan airmata itu. Terakhir, Obama tinggal menunggu restu kongres untuk menggelar “operasi militer terbatas” di Suriah. Belum jelas apa yang dimaksud dengan “terbatas.” Yang pasti Menlu AS, John Kerry sudah mengatakan bahwa operasi di Afghanistan ini tidak seperti yang Amerika lakukan di Iraq dan Afghanistan.
Layaknya operasi sebelumnya, kini Amerika pun rame-ramemengajak negara lain untuk turut terjun ke Suriah. Prancis bertekad menyambut. Sementara Kerry menyebut ada negara Arab yang siap membiayai operasi ini—tanpa menyebut negara yang dimaksud. Sedangkan Inggris sudah bulat menolak.
Penolakan juga terjadi dalam bentuk demonstrasi di beberapa negara, dan statemen-statemen para tokoh. Salah satu di antaranya, Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam, Said Agil Siraj. “LPOI menolak campur tangan asing dalam permasalahan di Suriah, apalagi rencana Amerika yang akan melancarkan aksi militer ke Suriah,” Kata Ketua Umum LPOI Said Aqil Siroj dalam Konfrensi Pers di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (4/9/2013).
Namun, Said dan dunia pada umumnya kehilangan obyektifitas saat mendefinisikan “asing” yang ditolak mencampuri urusan Suriah. Yakni, hanya menggunakan kata tersebut untuk mewakili sebuah negara bernama Amerika Serikat. Amerika, sebagai representasi kekuatan asing, ditolak masuk dan campur-tangan dalam konflik Suriah. Sayang, dunia bungkam ketika Iran terang-terangan mensupport Bashar Assad dengan alat dan SDM perang. Belum lagi Rusia yang memang sudah lama menjadi penasehat militer rezim Suriah.
Campurtangan Iran dalam konflik di Suriah bukanlah rahasia. Pada Januari 2013, media pemerintah Suriah memberitakan bantuan 1 juta USD dari Iran. [1] Hanya berselang lima bulan setelah itu, sumber resmi pemerintah Suriah mengumumkan bahwa Iran menambah bantuan untuk Damaskus senilai 3,6 juta USD. Jumlah tersebut masuk dalam paket bantuan ekonomi, sebagai pembiayaan atas pemesanan minyak dan produk lain yang terkait.
Iran juga menawarkan bantuan militer konvensional dan non-konvensional juga kerjasama dan pelatihan intelijen untuk memadamkan “kerusuhan massa.” Sebagaimana rilis pemerintah Iran sendiri, Teheran telah membantu Suriah dalam mengkader 50.000 paramiliter dari rakyat Suriah yang dikenal dengan Jaisy as-Sya’bi (The People’s Army). Keberadaan unit paramiliter ini untuk menopang kekuasaan rezim Bashar Asad.[2]
Pada 13 Juli 2013 lalu, Menteri Luar Negeri Iraq, Hoshyar Zebari mengabarkan bahwa pemerintahnya tidak mampu menghentikan pengiriman senjata dari Teheran menuju Damaskus yang diangkut pesawat melintasi wilayah udara Iraq. Pernyataan itu Zebari sampaikan dalam sebuah wawancara dengan koran As-Syarq Al-Ausath. Kabar ini langsung ditampik media pro-Iran, seperti IRIB. Menukil pernyataan Jubir Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Araqchi yang menolak pesawat-pesawat Iran itu dituding mengangkut perlengkapan militer. “Pesawat tersebut mengangkut bantuan makanan dan obat-obatan,” kilah Araqchi.
Mungkin itu sebatas retorika antarpejabat di media. Namun kepingan fakta menarik Penulis temukan saat bergabung dalam relawan kemanusiaan di Suriah. Penulis sempat bertemu dengan tentara Bashar Assad yang kini bergabung dengan kelompok pemberontak. Kepada Penulis, tentara tersebut menceritakan, dalam jajaran pasukan Assad ada orang-orang dari Iran dan Rusia. “Ya, ada. Mereka biasanya bertugas menerbangkan pesawat tempur, atau menembakkan roket.”
Gambaran betapa Iran sangat berkepentingan dalam krisis Suriah dapat dikaji dari statemen pemimpin Ayatollah Ali Khamenei yang menyatakan bahwa Suriah adalah provinsi Iran yang ke-35. “Jika kita kehilangan Suriah, kita kita tidak lagi dapat mengendalikan Teheran.”[3] Itulah yang kemudian membuat Iran begitu gigih mempertahankan Suriah dari “rongrongan” pemberontak Sunni.
Saking gigihnya, Riyad Hijab, mantan Perdana Menteri Suriah yang membelot mengatakan, “Suriah telah disetir oleh rezim Iran. Sesungguhnya yang mengendalikan negeri bukanlah Bashar Assad, melainkan Qasem Soleimani.” [4] Qasem sendiri adalah komandan Brigade Al-Quds. Support penuh Iran terhadap Suriahlah yang membuat Bashar Asad hingga saat ini masih bertahan. Sebab, “Tanpa pertolongan militer Iran dan bantuan finansialnya, rezim Assad mungkin sudah tumbang sekian waktu lalu.” [5]
Maka, sangat disayangkan keterlambatan dunia yang baru menolak intervensi asing di Suriah saat Obama berencana “memberi pelajaran” kepada rezim Assad. Sebab, intervensi negara asing sudah terjadi. Entah mengapa tiba-tiba definisi asing bagi Suriah hanya berlaku bagi Amerika, sementara Iran tetap aman-aman saja meski sudah begitu dalam berintervensi di Suriah. Jangan-jangan, subyektifitas kita membuat pepatah berikut berlaku: Kuman Amerika di seberang lautan tampak jelas, tapi gajah Iran di pelupuk mata tampak kabur.
Kita sedang berbicara tentang campurtangan asing dalam konteks negara. Di luar itu, pembahasan bisa bertambah luas. Selain milisi “Wahabi-Takfiri” (demikian media pro-Syiah di Indonesia menyebut pejuang Sunni) yang berdatangan dari Saudi, Libya, Cechnya dan Iraq, aliansi paramiliter Syiah juga terjun langsung. Hizbullah Lebanon, Jaisy Mahdi Iraq dan Syiah Houtsi adalah aliansi paramiliter Syiah yang turut mendukung rezim Bashar Assad menggempur Qusair beberapa waktu lalu.
____
[1] “Syiria and Iran Ink Credit Deals,” al-Bawaba, Januari, 17, 2013.
[1] “Head Ammar Strategic Base: Syria is Iran’s 35thProvince; If We Lose Syria We Cannot Keep Tehran,” Iran Pulse, Februari 14, 2013; “Treasury Sanctions Al-Nusrah Front Leadership in Syria and Militias Supporting the Assad Regime,” US. Treasury Department, December, 11, 2012.
[1] Will Fulton, Josep Holliday dan Syam Wyer, “Iranian Strategy ini Syria,” Institute for the Study of War and the American Enterprise Institute, May 2013.
[1] Ibid
[1] Karim Sadjadpour, “Irans’s Unwavering Support to Assad’s Syria,” CTC Sentinel, Agustus 2013.
***KIBLAT.NET
Abu Yahya | kontributor kiblat.net | pernah bergabung dalam misi kemanusiaan HASI di Suriah
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

LIPUTAN DAKWAH

More on this category »

AUDIO KAJIAN ISLAM

More on this category »

KONSPIRASI MUSUH ISLAM

More on this category »

HOT NEWS

More on this category »

ARTIKEL ISLAM

More on this category »

Translate